Pelatihan “The Power of Photoshop”

Dua minggu lalu, 13 Januari 2013, Desaindigital mengadakan pelatihan praktis Photoshop bekerja sama dengan El-Muqri Institute, lembaga pendidikan terkemuka di kota kami. Tujuan utama acara ini adalah menunjukkan berbagai potensi yang bisa dibuat di Photoshop. Materi pelatihan pun dirancang agar mencakup hampir semua bidang desain dari mulai desain interface hingga editing foto yang sudah umum dikenal.

Karena tujuan acara ini ingin memberikan informasi lebih tentang potensi Photoshop, kami tidak banyak menghabiskan waktu untuk topik editing karena itu terlalu mainstream. Kami menutup sesi pelatihan ini dengan materi desain interface.

Di akhir acara, para peserta mengaku baru mengetahui bahwa Photoshop bisa melakukan banyak hal selain editing foto. Saya rasa ini kemajuan yang menarik karena selama ini pengetahuan tentang potensi Photoshop dalam desain baru menyebar di kota-kota besar. Banyak peserta yang tertarik untuk mempelajari Photoshop secara lebih serius, terutama setelah mengetahui bahwa Photoshop ternyata tidak sesulit yang mereka kira.

Materi Penunjang

Setiap peserta pelatihan ini kami bekali dengan buku yang dicetak khusus berjudul sama, The Power of Photoshop. Materi pelatihan ini mengambil materi dari buku tersebut. Anda bisa memperoleh buku ini di toko online kami. Khusus untuk pembeli online, kami akan menyediakan video tutorial yang membahas pembuatan projek di buku berikut materi-materi dasar penunjangnya.

[button color=”#F47F20″ link=”https://desaindigital.com/toko/the-power-of-photoshop/”%5DPesan Buku[/button]

Desainer Instan

Seseorang tidak bisa begitu saja mengaku sebagai seorang dokter. Ada sertifikasi dan jenjang pendidikan yang wajib diikuti untuk menjadi seorang dokter. Seseorang juga tidak bisa seenaknya mengaku sebagai polisi. Ada syarat-syarat khusus yang membuatnya pantas disebut polisi. Bagaimana dengan desainer? Saat ini, semua orang bisa menjadi desainer.

[box type=”note”]Sebelum meneruskan membaca artikel ini, perlu dicatat bahwa di sini saya menyamakan definisi desainer dan visual artis.[/box]

[hr]

Mudahnya Menjadi Desainer

Mereka yang telah berkecimpung cukup lama di dunia desain akan memahami bahwa desain tidaklah sederhana. Desainer berurusan dengan pengaturan whitespace, tipografi, komposisi, warna, kontras, dan berbagai detail yang sering kali di luar jangkauan orang awam. Namun, perlu diakui juga bahwa desain bukan bidang yang sulit. Banyak desainer sukses yang hanya belajar otodidak tanpa dasar pendidikan desain formal.

Saat ini, standar seorang desainer bahkan semakin rendah. Hanya dengan modal beberapa teknik Photoshop dan skill memanipulasi foto, seseorang bisa mengklaim sebagai desainer grafis. Hanya dengan menginstall wordpress dan memasang theme gratis, seseorang dengan hebatnya mengklaim sebagai desainer web. Di dekat rumah saya, sebuah rental komputer menulis di papan namanya sebagai penyedia jasa desain grafis. Bahkan, saya sendiri adalah seorang desainer instan. Tanpa pendidikan formal dan hanya bermodalkan pengetahuan dari tutorial gratis sudah berani mengklaim sebagai desainer. Apakah sikap ini bisa disalahkan? Apakah ini menurunkan standar desain?

[hr]

Perubahan Zaman

Ini semua adalah efek dari perubahan, di mana internet dan teknologi menjadi pelopor utamanya. Saat ini, seseorang bisa dengan mudah belajar berbagai teknik atau konsep desain melalui internet. Teknik apa pun yang Anda butuhkan selalu tersedia dalam tutorial. Software pun semakin mudah dan terintegrasi dengan baik. Misalnya, sejak versi CS semua program dari Adobe memiliki interface yang seragam dan proses belajarnya pun jadi lebih mudah. Keberadaan jejaring sosial –terutama twitter dan facebook– membuat arus informasi dan komunikasi lebih cepat. Melalui twitter, kita dapat bertanya langsung pada desainer senior dan mengikuti bacaan mereka.

Para desainer instan akan selalu ada disebabkan sifat desain yang terbuka. Semua orang dari latar apa pun dapat belajar desain asalkan mau. Memaksakan bahwa hanya lulusan sekolah seni atau desain yang pantas menjadi desainer atau visual artis adalah berlebihan. Faktanya, siapa pun bisa mengklaim menghasilkan karya seni. Bahkan, kita tidak bisa mengatakan bahwa spanduk di jalan raya itu bukan hasil desain.

[hr]

Menyikapi Perubahan

Saat ini, yang harus kita lakukan bukanlah mengeluh. Yang membedakan desainer baik dan buruk bukanlah ijazah namun karya. Saat ini semua orang hebat. Bisa membuat blog bukan lagi skill yang unik, semua orang bisa melakukannya dalam 5 menit dengan wordpress. Bisa menggambar laptop di Photoshop bukan lagi skill yang hebat, semua bisa mengikuti tutorialnya dengan gratis. Skill yang dibutuhkan saat ini berbeda dengan lima tahun yang lalu. Anda harus terus belajar, berlatih, dan mengevaluasi diri agar tidak terlindas oleh para desainer instan.

[hr]

Bagaimana Pendapat Anda?

Sekarang giliran Anda untuk berpendapat. Bagaimana menurut Anda?

6 Tips Agar Bisa Menonjol di Komunitas Desain


Fotografer: sparkieblues

Harus diakui bahwa saat ini tidak mudah untuk menonjol di komunitas desainer. Perkembangan internet membuat dunia semakin sempit dan tentunya tingkat kompetisi pun semakin tinggi. Kini, kita harus bisa bersaing tidak saja dengan desainer lokal tapi juga desainer luar. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar tetap menonjol di komunitas desain. Cara-cara ini tidak mahal dan juga tidak rumit. Yang penting adalah komitmen untuk tetap konsisten melakukannya.

[hr]

1. Blogging Tentang Desain

Blogging adalah cara favorit saya untuk tetap menonjol di komunitas desain. Ada banyak desainer dan blogger di luar sana. Namun, desainer yang juga blogger tetap merupakan sosok yang unik. Desainer yang bisa mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan bisa disimpulkan memiliki kelebihan dalam skill komunikasi. Desainer yang secara rutin mengupdate blognya memberi kesan bahwa dirinya selalu mengikuti perkembangan trend terbaru. Ini tentu saja menjadi nilai positif di mata sesama desainer lain atau calon klien.

Ada banyak desainer yang memulai karirnya melalui blogging. Salah satunya adalah Fabio Sasso dari Abduzeedo. Fabio sebelumnya hanya desainer biasa dengan klien-klien lokal. Namun, setelah rutin berbagi tutorial dan inspirasi desain di Abduzeedo, dirinya dikenal luas di komunitas desain. Kini, Fabio dianggap sebagai salah satu desainer terbaik di dunia.

Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa blogging tidaklah mudah. Berbeda dengan portfolio, siklus update blog jauh lebih cepat. Begitu memutuskan blogging, Anda harus menyediakan waktu untuk secara rutin mengupdate blog. Blog yang tidak pernah diperbarui malah akan berakibat buruk, memberi kesan pemiliknya pemalas. Jika Anda tidak yakin sanggup blogging, saya sarankan untuk menghindarinya dan mencoba menulis tamu di situs desain lain. Efek dari menulis tamu di blog desain sama saja dengan memiliki blog sendiri, terlebih jika situsnya dikenal memiliki reputasi yang baik.

[hr]

2. Aktif di Jejaring Sosial

Jejaring sosial adalah cara paling mudah untuk membangun nama Anda. Saat ini, Anda wajib memiliki account twitter karena di sanalah komunitas desainer berkumpul. Melalui twitter, Anda bisa menunjukkan keahlian dan antusiasme dengan berbagi link ke artikel atau berita terkait desain.

Anda bisa juga aktif di jaringan yang lebih spesifik untuk desainer, misalnya Dribbble, Designmoo, atau Forrst. Di komunitas ini, Anda bisa berbagi dan berdiskusi topik terkait desain secara lebih fokus.

Salah satu contoh desainer yang sukses memanfaatkan twitter adalah Andy Sowards. Tweet-nya yang berkualitas telah memberi Andy kesempatan untuk bekerja dengan klien dari berbagai belahan dunia.

[hr]

3. Selalu Aktif Berkarya

Banyaknya desainer lain –yang tentunya merupakan pesaing– membuat Anda mudah dilupakan. Untuk menunjukkan keberadaan Anda, tetaplah konsisten untuk terus membuat karya baru. Tidak perlu menunggu tawaran klien untuk memulai sebuah projek. Anda bisa mengikuti tutorial, mencoba trend desain baru, atau sekadar bereksperimen. Banyaknya karya yang dihasilkan akan membuat Anda dikenal sebagai desainer kreatif dan sekaligus produktif.

Akan lebih baik lagi jika bisa menampilkan karya-karya Anda di situs inspirasi desain seperti CSS Gallery atau Creattica. Prosesnya sering kali lama karena hanya karya-karya terpilih yang bisa masuk ke sana, namun hasilnya akan sepadan.

Dalam hal ini, saya selalu mengagumi Chris Piascik. Dia secara konsisten membuat karya tipografi tulisan tangan setiap hari. Setiap hari berarti 365 karya dalam setahun. Jika bukan kreatif, entah apa lagi sebutannya.

[hr]

4. Berbagi Resource Desain

Kultur di internet adalah gratisan. Anda bisa memanfaatkan ini dengan berbagi resource-resource desain. Saya sendiri melakukannya melalui PSDfreemium. Selain untuk mengangkat reputasi, berbagi bisa jadi cara ampuh untuk belajar teknik-teknik baru atau sekadar melakukan sesuatu yang berbeda.

Salah satu desainer yang terkenal melalui cara ini adalah Orman Clark. Orman berbagi resource desain gratis seperti tekstur atau tombol di Premium Pixels. Hingga saat ini, Orman adalah salah satu penjual theme wordpress terlaris di ThemeForest. Prestasi ini tidak lepas dari peran Premium Pixels yang berhasil mengangkat reputasinya.

[hr]

5. Berkenalan dengan Pemilik Blog Desain

Salah satu tema favorit blog desain adalah menyediakan inspirasi. Jika Anda memiliki karya bagus kenapa tidak ditunjukkan pada pemilik blog? Jangan ragu untuk menghubungi pemilik blog desain. Asalkan menarik dan inspiratif, tentu mereka mau menampilkan karya Anda. Mereka membutuhkan post baru sementara Anda ingin dikenal oleh komunitasnya. Kedua pihak sama-sama diuntungkan.

Melalui cara inilah saya berkenalan dengan Ryan Rachmanto dan NastPlast. Setelah melihat portfolionya, dengan senang hati saya menampilkan karya mereka.

[hr]

6. Aktif di Acara Offline

Interaksi online seperti chat atau tweet adalah cara paling mudah. Namun, acara offline tetap penting dan masih menjadi cara ampuh untuk membuat Anda lebih dikenal. Semua orang bisa dengan mudah membuat account twitter dan saling sapa, namun pertemuan secara langsung akan selalu memberi kesan lebih dalam.

Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Anggi Krisna, pendiri Ruang Freelance? Bukan sekadar menghadiri, dia juga sering mengadakan event-event offline dan berbagi dengan komunitas. Ini membuatnya sangat menonjol berkat kontribusinya pada komunitas.

[hr]

Ada tips yang terlewatkan?

Setiap desainer memiliki cara sendiri untuk membedakan dirinya dengan desainer lain. Bagaimana dengan Anda? Apa ada tips yang terlewatkan di atas? Jika ada, saya berharap Anda bisa membaginya di sini.

8 Langkah Meningkatkan Skill Photoshop Anda

Bagi pemula, belajar Photoshop adalah sesuatu yang sulit. Panel yang bertebaran di mana-mana dan begitu banyak menu tersedia adalah pemandangan yang menakutkan. Tentu saja segala sesuatu ada tahapannya, Anda tidak bisa belajar Photoshop hanya dalam beberapa hari apalagi beberapa jam. Program ini harus dipelajari sedikit demi sedikit dan secara bertahap. Tidak ada dan tidak akan pernah ada cara singkat untuk belajar. Berikut adalah beberapa cara yang saya temukan berguna dalam meningkatkan skill Photoshop Anda.

[hr]

1. Mengikuti Tutorial

Tutorial adalah cara termudah untuk meningkatkan skill Photoshop Anda. Penulis sudah menyediakan daftar resource yang digunakan dan menjelaskan teknik pembuatannya, Anda cukup mengikutinya saja. Beberapa tutorial bahkan dilengkapi dengan file source yang dihasilkannya sehingga memungkinkan Anda untuk menganalisa susunan layer yang digunakan penulis.

Biasanya tutorial lebih fokus membahas pada teknik, namun ada sebagian tutorial yang juga menjelaskan konsep dengan jelas. Seandainya Anda tidak punya banyak waktu untuk mengikuti tutorial, saya sarankan untuk setidaknya membaca tutorial. Bahkan yang sudah berpengalaman sekalipun sering kali menemukan tips-tips tersembunyi di dalamnya.

Situs tutorial Photoshop favorit saya adalah Psdtuts+, Photoshop Tutorials, Creative Fan, dan Design Instruct. Semua situs ini menyajikan tutorial-tutorial berkualitas dan sering kali ditulis oleh para praktisi sehingga teknik yang dibahasnya pun relevan dengan proses desain sesungguhnya.

Jika Anda tidak mahir berbahasa Inggris, sayangnya situs tutorial lokal yang berkualitas masih sangat sedikit. Situs tutorial lokal yang saya rekomendasikan adalah DesainDigital, Desain Studio, Jurus Grafis, dan Painthink.

Kebanyakan situs tutorial didekasikan bagi pengguna menengah hingga mahir. Bagi pemula, silakan baca rekomendasi sumber belajar di Artikel Kumpulan Sumber Belajar Photoshop Bagi Pemula.

2. Meniru

Cara lain meningkatkan skill adalah dengan meniru projek yang sudah jadi. Ini sedikit lebih sulit daripada mengikuti tutorial karena Anda harus menebak-nebak teknik yang digunakannya. Namun, jika kemampuan Anda sudah cukup bagus, meniru bisa lebih cepat daripada mengikuti tutorial.

Untuk mempermudah proses meniru, sebaiknya cari projek yang disertai daftar source yang digunakan. Karya seperti ini biasa ditemukan di DeviantArt. Dengan begini, Anda tidak perlu kesulitan mencari stock foto yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

3. Membaca Artikel Desain

Tutorial dan meniru biasanya hanya fokus pada teknik. Anda akan belajar teknik namun sering kali tidak akan memahami konsep dari desain yang baik. Untuk itu, sebaiknya Anda banyak membaca artikel-artikel terkait desain.

Secara rutin, kunjungi juga situs yang secara teliti membahas konsep desain. Beberapa situs dengan artikel desain terbaik adalah Smashing Magazine, Web Designer Depot, Vandelay Design, dan Six Revisions.

Tidak sekadar artikel, wawancara pun bisa memberikan informasi menarik. Jika Anda memiliki desainer favorit, coba cari wawancara dengannya. Lewat wawancara ini, biasanya ada pertanyaan menarik yang membahas teknik dan cara kerja mereka.


WebDesignerDepot selalu menyajikan artikel-artikel berkualitas.

4. Bereksperimen

Cara lain untuk belajar adalah dengan bereksperimen dan mencoba hal baru. Misalnya Anda mencoba menggambar objek yang ada di dekat Anda atau membuat projek yang menggabungkan Photoshop dengan program lain. Bereksperimen akan membantu Anda mengenal software lebih jauh dan mungkin menemukan teknik baru yang bisa jadi berguna dalam salah satu pekerjaan Anda.

Salah satu eksperimen saya dibahas dalam tutorial Membuat Illustrative Lettering dari Tulisan Tangan. Di sana saya mencoba bermain dengan tulisan tangan, mengekspornya ke Illustrator, lalu memberi tekstur di Photoshop. Sebelumnya, proses seperti ini adalah sesuatu yang baru bagi saya.

5. Mengikuti Situs Galeri

Untuk meningkatkan skill, Anda harus mengetahui trend desain saat ini dan melihat hal-hal hebat yang dilakukan desainer lain. Melihat karya-karya bagus akan memotivasi Anda untuk menjadi lebih baik dan terus belajar hal baru.

Anda bisa menemukan karya mereka di galeri seni semacam DeviantArt, Behance, atau Creattica. Anda bisa juga menemukan karya-karya menarik terpilih melalui situs-situs inspirasi desain seperti Abduzeedo, Daily Inspiration, Boost Inspiration, dan The Inspiration Blog. Saat ini, ada banyak situs galeri semacam Dribbble yang hanya menampilkan detail desain, namun ini lebih dari cukup karena Anda bisa lebih fokus pada detail.

5. Bergabung dengan Komunitas

Selain mengikuti karya orang lain dari situs galeri, Anda bisa berperan langsung dengan bergabung di komunitas tersebut. Komunitas desain terbesar adalah DeviantArt. Di sana Anda bisa bergabung dengan group tertentu, mengawasi karya desainer yang Anda suka, berkomentar, atau meminta kritik. Keterikatan pada komunitas yang Anda suka bisa memacu Anda untuk membuat karya yang lebih baik.

Jika fokus Anda pada bidang yang lebih spesifik, Anda bisa bergabung dengan forum. Forum biasanya lebih terarah karena semua anggotanya memiliki minat yang sama sehingga tidak menimbulkan banyak gangguan. Misalnya, untuk belajar desain interface Anda bisa bergabung dengan GUI Station. Jika ingin belajar matte painting atau desain karakter, Anda bisa bergabung dengan ConceptArt.

Beberapa komunitas –seperti Forrst atau Dribbble— hanya terbatas untuk desainer yang mereka anggap layak saja. Untuk bergabung ke komunitas ini, Anda harus meminta undangan dari salah satu anggotanya. Dalam komunitas seperti ini diskusinya akan lebih sehat dan lebih bermutu karena semua anggota memiliki reputasi yang harus dijaga.

6. Menjalankan Projek

Untuk memperoleh sebuah projek, Anda harus sudah memiliki skill. Namun hal sebaliknya juga berlaku, projek yang Anda jalankan akan meningkatkan skill. Projek komersil memiliki kemampuan untuk memaksa kita bekerja lebih keras, lebih teliti, lebih tepat waktu, dan mengambil standar yang lebih tinggi. Semakin banyak projek komersil yang Anda lakukan maka akan semakin berkembang kemampuan Anda.

Para pemula yang tidak mungkin memperoleh projek komersil bisa menjalankan langkah ini dengan membuat projek pribadi. Untuk memperoleh hasil maksimal, pastikan untuk menggarapnya seolah-olah itu adalah projek komersil. Tentukan deadline dan standar kualitasnya. Cara inilah yang saya lakukan dengan PSDfreemium. Melalui PSDfreemium –yang sekadar projek pribadi, saya memaksa diri untuk berlatih membuat berbagai jenis elemen desain yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh.

7. Menulis Tentang Photoshop

Satu cara yang bagi saya terbukti efektif adalah dengan nge-blog tentang Photoshop. Dengan secara rutin menulis topik yang berkaitan dengan desain dan photoshop, saya telah menuntut diri sendiri untuk terus mencari informasi dan skill baru. Anda bisa melihat di seri Link Minggu Ini saya selalu menuliskan berbagai resource, tutorial, berita, dan informasi baru yang diperoleh setiap minggu.

Selain menambah skill baru, menulis pun bisa dijadikan pekerjaan tambahan. Beberapa desainer yang sudah memiliki traffik tinggi memonetisasi blognya dan memperoleh penghasilan dari iklan, sebagian lagi menjual tulisannya ke situs desain lain, dan banyak lagi yang lebih mudah memperoleh klien melalui blognya.

8. Berlatih, Berlatih, dan Berlatih… dan Berlatih.

Terakhir, Anda harus sering berlatih. Anda tidak bisa belajar hanya dengan membaca tutorial atau menonton videonya. Semua ini harus dilakukan agar badan Anda terbiasa dengan Photoshop dan tidak lagi canggung dalam proses pengerjaannya.

Makin sering menggunakan Photoshop maka pikiran bawah sadar Anda akan secara otomatis bersambung dengannya. Tidak percaya? Cobalah lihat cara kerja pengguna Photoshop yang sudah mahir. Mereka bisa menggunakan shortcut-shortcut tanpa perlu lagi berfikir.

[hr]

Bagaimana dengan Anda?

Bagaimana dengan cara belajar Anda? Apakah ada cara lain yang Anda lakukan dalam belajar Photoshop atau desain? Saya tunggu berbagi pengalamannya melalui komentar di bawah.

Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer

[box type=”note”]Artikel ini cukup panjang. Sebelum berkomentar, saya harapkan Anda membaca artikel ini terlebih dahulu. Di akhir artikel, saya juga menuliskan beberapa link yang bisa dijadikan rujukan tambahan.[/box]

Topik Spec Work memang cukup kontroversial. Sebagian menolak keras sementara yang lain menyambutnya dengan gembira. Di artikel ini, saya akan menyajikan beberapa argumen kenapa Spec Work buruk bagi desainer dan harus Anda hindari.

[hr]

Apa itu Kontes Desain atau Spec Work?

Spec adalah singkatan dari speculation atau spekulasi. Spec Work berarti bekerja dengan kemungkinan dibayar. Tentu saja, ini berarti ada kemungkinan Anda tidak akan dibayar. Dari definisi saja Spec Work sudah terlihat tidak masuk akal. Maukah Anda bekerja dengan kemungkinan dibayar? Saya yakin tidak. Di Indonesia, Spec Work lebih dikenal sebagai Kontes Desain. Sebetulnya kontes desain adalah sebagian dari Spec Work. Oleh karena itu, dalam artikel ini saya akan menggunakan istilah asli, Spec Work.

Berikut adalah skenario Spec Work yang sering ditemukan:

  1. Perusahaan mengumumkan bahwa mereka membutuhkan logo baru. Semua desainer diundang untuk mengirimkan logo dan yang terbaik akan dipilih sebagai pemenang dan dibayar.
  2. Situs kompetisi desain membuka peluang bagi perusahaan untuk mengumumkan projek yang dibutuhkannya, anggota komunitas situs akan mengirimkan mengirimkan karya terbaiknya. Selanjutnya pihak perusahaan akan memilih entri terbaik dan pemenangnya akan dibayar.
  3. Seseorang membutuhkan pekerja, untuk proses ini dia merekrut beberapa desainer melalui kontes. Setiap desainer diharuskan melakukan pekerjaan tertentu secara gratis lalu yang terbaik akan dia pilih.
  4. Dalam surat kontrak, klien memasukkan syarat yang memperbolehkannya meminta desainer melakukan pekerjaan tambahan. Syarat tambahan ini tidak dijelaskan secara detail dan bisa multi tafsir.
  5. Seseorang mengontak desainer dan berniat menyewanya. Namun, untuk memastikan bahwa desainer ini bisa bekerja sesuai harapannya, dia meminta desainer untuk melakukan sedikit pekerjaan gratis.

Faktanya, Spec Work tetap muncul subur. Situs-situs penyelenggara kontes desain seperti 99designs dan crowdSpring tidak pernah kekurangan klien atau desainer. Alasannya sederhana, harga murah. Melalui kontes desain, perusahaan bisa memperoleh puluhan bahkan ratusan alternatif logo hanya untuk $50. Padahal, pasaran logo minimal $200, harga itu untuk satu desainer.

[divider]

Desain Bukan Komoditas Tetapi Ide

Satu hal dasar yang sering dilupakan adalah desain bukan komoditas. Desain bukan barang yang bisa begitu saja dikeluarkan. Desain sebetulnya berupa ide dan sekali terpapar keluar, sangat rawan diduplikasi. Dalam kontes desain, kita diminta menyerahkan ide final begitu saja. Ini resiko besar karena tidak ada kepastian bahwa ide kita aman di tangan penyelenggara. Sering kali, penyelenggara kontes tidak menyebutkan secara pasti apa yang akan mereka lakukan dengan entri desain yang diterima. Dalam beberapa kasus, penyelenggara bahkan berani mengklaim bahwa semua entri yang diterima menjadi milik mereka.

Berbeda dengan produk, Anda bisa saja mengeluarkan produk yang akan dijual. Walaupun orang lain bisa melihatnya, perlu waktu untuk menduplikasinya. Ide desain bisa saja dengan mudah diduplikasi. Anda bisa meniru logo Pepsi hanya dalam 10 menit, bandingkan dengan proses desain logo Pepsi yang menghabiskan 1 juta dollar.

[divider]

Contoh Buruk Spec Work

Berikut adalah beberapa contoh buruk tentang Spec Work:

  1. Lomba Desain Logo dan Desain Stiker UM 2010. Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan lomba desain logo dan stiker. Dalam ketentuannya disebutkan semua karya yang masuk (tidak harus menang) otomatis menjadi milik panitia.
  2. Lomba Kompetisi Desain Logo Pilkada Wonosobo Indonesia 2010. Dalam ketentuan teknis disebutkan “Karya yang sudah masuk tidak dikembalikan dan menjadi hak milik KPU Kabupaten Wonosobo.”
  3. Lomba Desain Logo Mass Rapid Transit Jakarta. Dalam ketentuan lomba tertulis “Keputusan dewan juri adalah mutlak, dan dewan juri berhak untuk membatalkan keseluruhan proses penjurian apabila seluruh karya yang masuk tidak sesuai dengan yang diharapkan.” Kontes dapat dibatalkan jika hasilnya dianggap tidak sesuai harapan, ini berarti ketidakpastian bagi desainer.
  4. Spec Watch melaporkan salah satu kontestan logo di 99designs menggunakan resource vektor gratis. Di crowdSpring, pemenang kontes menggunakan resource vektor yang sama tanpa diedit sama sekali.
  5. David Airey menyebutkan penemuannya tentang desainer di bawah umur di 99designs. Padahal, 99designs mengklaim sebagai tempat berkumpulnya desainer professional dengan harga terjangkau.
  6. Pemenang kontes logo di crowdSpring menggunakan ikon dari iStockphoto. Padahal, iStockpoto melarang penggunaan karyanya dalam logo. Yang membuat lebih rumit, ikon itu tidak dibeli dari iStockphoto tapi hasil copy dari preview-nya dan masih mengandung trademark.
  7. Projek logo ditarik setelah memperoleh 21 karya. Projek ini dihargai $199.

Untuk info lebih lengkap tentang praktik buruk Spec Work, Anda bisa melihatnya di twitter @specwatch.

[divider]

Alasan untuk tidak mengikuti Spec Work

Saya tegaskan sekali lagi bahwa Spec Work tidak baik untuk bisnis desain. Berikut adalah beberapa alasan untuk tidak mengikuti Spec Work:

1. Tidak ada Kepastian

Sukarelawan bekerja tanpa mengharapkan imbalan. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebaikan. Yang harus kita perhatikan adalah, desainer dalam kasus Spec Work bukan sukarelawan tapi korban. Kita kembali lagi ke pertanyaan sederhana, maukah Anda bekerja tanpa kepastian akan dibayar? Saya tidak bisa membayangkan seorangpun yang akan menjawab ya. Coba bandingkan dengan standar kerja normal, desainer biasanya baru akan bekerja setelah menerima 50% pembayaran di muka.

2. Banyak Persaingan

Persaingan memang bagus karena memaksa kita untuk meningkatkan skill. Tapi ini tidak berarti kita perlu memperberat kondisi dengan mencari persaingan yang tidak perlu. Setiap hari, secara tidak langsung kita juga bersaing dengan desainer lain. Desainer harus selalu mencari informasi baru, aktif di jejaring sosial, meningkatkan skill, dan mempromosikan portfolio. Berkompetisi melalui kontes hanyalah menambah beban yang tidak perlu.

3. Berpotensi Menurunkan Kualitas

Adanya persaingan membuat proses kerja tidak nyaman. Dalam kerjanya, desainer tidak begitu saja lompat ke Photoshop dan mendesain. Sebelumnya diperlukan riset untuk memperoleh hasil terbaik. Proses riset ini tidak mudah, bisa jadi dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh hasil yang sesuai harapan. Bagaimana desainer bisa melakukan risetnya dengan tenang sementara tidak ada kepastian bahwa dia akan dibayar untuk itu? Bagaimana desainer bisa bekerja dengan tenang jika dibayangi oleh pikiran bahwa siapa pun bisa dengan mudah merebut projeknya?

4. Berpotensi Pada Praktek Tidak Sehat

Tidak adanya kepastian dan banyaknya persaingan tidak mendukung desainer untuk bekerja secara optimal. Kondisi ini membuat sebagian desainer mengambil cara mudah dengan menjiplak karya lain atau menggunakan resource jadi. Akhirnya, besar kemungkinan desain yang dihasilkannya tidaklah unik. Padahal keunikan adalah salah satu hal yang membuat sebuah desain istimewa.

5. Menjatuhkan Pasaran

Lagi-lagi masalahnya adalah persaingan. Spec Work sering kali menarik minat para desainer pemula yang portfolionya tidak cukup bagus untuk menarik minat klien potensial. Desainer pemula semacam ini sering kali menjatuhkan harga karena menyadari bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan harga normal. Secara umum, tindakan ini akan menjatuhkan pasaran desain. Sayangnya, banyak pihak yang tidak menyadari bahwa desain itu mahal. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan –harga software, investasi pendidikan, waktu yang dihabiskan untuk mempelajari skill desain, kebutuhan desainer– bukan sekadar proses desain di depan komputer.

[divider]

Alternatif Spec Work Bagi Desainer Pemula: Bekerja Pro Bono

Spec Work sering difavoritkan desainer pemula dengan alasan untuk mencari pengalaman dan membangun portfolio. Desainer pemula memang lebih sulit untuk memperoleh klien. Klien, terutama klien besar, akan memilih menghabiskan lebih banyak dana untuk desainer handal daripada mengambil resiko dengan desainer pemula.

Contoh termudah misalnya dalam desain buku. Buku biasanya dicetak di atas 2.000 buah. Seandainya ada kesalahan desain, maka ada 2.000 buku yang gagal. Ini biaya yang sangat besar. Jika Anda ingin diterima sebagai desainer buku, skill InDesign dan ijazah saja dijamin tidak akan cukup. Klien pasti menginginkan desainer yang sudah berpengalaman, yang memiliki bukti bahwa desainnya sukses dicetak.

Jika Anda di posisi desainer tadi, maka cara terbaik adalah dengan bekerja pro bono. Pro bono maksudnya bekerja gratis dengan tujuan mulia. Dalam kasus desainer buku, Anda bisa mencari LSM non-profit lokal yang ingin menerbitkan buku dan menawarkan jasa desain secara gratis. Lewat proyek ini, Anda akan memperoleh pengalaman dan sekaligus membangun portfolio. Siapa tahu, LSM ini bisa jadi akan merekomendasikan Anda pada rekannya yang lain. Jika terjadi, ada point tambahan yang Anda peroleh, membangun jaringan.

Pekerjaan Pro Bono yang paling mengesankan bagi saya adalah mendesain buku. Saat ini, semua buku saya di Elex Media Komputindo didesain sendiri. Elex tidak membayar desain saya, namun saya memperoleh pengalaman yang jauh lebih besar. Semua keahlian InDesign yang saya pelajari dicetak dalam lebih dari 8.000 buku! Saya bereksperimen dengan berbagai jenis desain dan tidak mengeluarkan sedikit pun biaya cetak. Dengan harga per buku minimal Rp. 80.000, saya memperoleh kepercayaan mengelola projek senilai lebih dari 640 juta!

[divider]

Kerugian Bagi Perusahaan yang Menjalankan Spec Work

Perusahaan seharusnya menghindari kontes desain. Kontes desain sering kali menarik minat desainer pemula yang kualitasnya masih diragukan. Perusahaan seharusnya memiliki kontrol penuh terhadap hasil yang akan dia peroleh, caranya dengan menyewa desainer professional. Desainer professional bisa dilihat dari kualitas portfolionya. Desainer professional jelas memiliki skill dan pengalaman lebih luas. Sesuai namanya, mereka bekerja secara professional. Mereka akan mampu menggabungkan filosofi perusahaan ke dalam desainnya.

Dengan melakukan kontes desain, perusahaan melepaskan kontrol terhadap kualitas desainer dan desain yang diperoleh. Perusahaan tidak bisa memilih logo yang baik hanya dari satu gambar saja. Perusahaan harus melihat hasil karya lain desainer dari portfolionya untuk memastikan kualitas desain. Bagaimana jika di kemudian hari ada perubahan konsep? Bagaimana jika perusahaan berkembang ke sektor lain. Sanggupkah desainer pemenang mengadaptasi itu semua?

Pilihan paling logis adalah menggunakan jasa desainer professional. Memang tidak murah, namun kualitasnya pasti jauh lebih meyakinkan. Bagaimana dengan perusahaan kecil yang tidak memiliki cukup budget untuk menyewa desainer handal? Solusinya adalah dengan langsung mencari desainer yang bisa bekerja sesuai dengan budget. Perhatikan portfolio-nya, jika dirasa sanggup memberikan hasil yang memuaskan maka sewa secara langsung. Dengan cara ini, perusahaan bisa secara langsung memberikan masukan pada desainer dan mengawasi proses desain secara keseluruhan. Saya yakin masukan ini lebih baik daripada sekadar beberapa paragraf di dalam penjelasan kontes.

[divider]

Menjalankan Kontes Desain Tanpa Spec Work

Perlu ditegaskan bahwa saya tidak dalam posisi menolak sama sekali kontes desain. Kontes desain tidak selamanya terkategorikan Spec Work. No!Spec membahas beberapa kriteria yang menjadikan sebuah kontes desain terkategorikan Spec Work.

  1. Apakah desainer dibayar setara dengan proses kerja normal di bawah kontrak?
  2. Apakah desainer dibayar setara dengan keahliannya?
  3. Apakah semua file dan lisensinya dikembalikan sesuai dengan persetujuan desainer, terutama bagi yang kalah?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah tidak, maka kontes itu terkategorikan Spec Work dan saya sarankan Anda menghindarinya.

[hr]

Kesimpulan

Jika Anda desainer pemula, saran terbaik saya adalah mulailah dengan membangun jaringan. Jika Anda memiliki desain berkualitas tinggi, sumbangkan saja ke situs besar. Situs desain semacam Psdtuts+, NaldzGraphics, dan WeGraphics akan senang jika menerima desain berkualitas apalagi gratis. Walaupun tidak dibayar, Anda akan terekspos ke hadapan ribuan pembacanya. Sebagian di antaranya, bisa jadi merupakan klien potensial.

Jangan dulu berharap menerima dollar. Segala sesuatu ada waktu dan tahapannya. Langkah pertama bagi desainer pemula adalah meningkatkan kualitas, networking, dan membangun citra (branding). Jika Anda sudah dikenal sebagai desainer berkualitas, pasti mereka akan mendatangi Anda.

[hr]

Referensi

Berikut adalah beberapa referensi dari para pendukung dan penolak Spec Work:

Penolak Spec Work

Pendukung Spec Work

[hr]

Giliran Anda berbicara

Anda sudah membaca argumen saya di atas, sekarang giliran Anda untuk berpendapat. Bagaimana menurut Anda tentang Spec Work?