Kebijakan Baru Terkait Hak Cipta Resource Desain di Tutorial Psdtuts+

Bagi Anda yang terbiasa bekerja dengan klien lokal atau projek yang sifatnya terbatas –maksudnya tidak terbuka untuk umum seperti majalah, situs, atau iklan, hak cipta (copyright) biasanya tidak jadi masalah besar. Namun, klien dari luar negeri dengan projek yang sifatnya terbuka untuk umum biasanya sangat berhati-hati dengan masalah hak cipta.

Jadi, baru-baru ini saya memulai menulis tutorial tentang cara menggambar sebuah gitar listrik di Photoshop. Untuk tutorial ini, awalnya saya menggunakan stock foto dari shutterstock.com. Ternyata, Psdtuts+ sudah memiliki kebijakan baru terkait resource desain dari pihak ketiga. Terpaksa saya harus mengganti ke stock foto yang lain.

Kebijakan Baru Terkait Hak Cipta Resource Desain di Tutorial Psdtuts+
Tutorial berikutnya

Resource yang Boleh Digunakan

Dalam kebijakan baru ini, setiap stock foto, brush, latar, pola, atau referensi foto (untuk tracing misalnya) harus secara tegas menyatakan dirinya boleh digunakan dalam projek komersial. Menulis untuk Tuts+ tergolong projek komersial karena penulis dibayar dan juga situs itu menjual sesuatu pada pengunjungnya.

There are certain types of third party content that you don’t need to seek permission to use (providing you follow a few basic guidelines):

Creative Commons (CC) Content
At Tuts+ we are free to use any CC work that allows commercial use. Any other types of CC license do not cover the way in which we use the content, so you must specifically use CC content that allows commercial usage.

GPL Code

Source: Resources in Your Tutorial –Tuts+ Author Guide

Perhatikan bahwa di sana dijelaskan bahwa resource desain dengan Creative Common harus disertai dengan izin untuk penggunaan komersial. Untuk contoh, Anda bisa melihat beberapa jenis izin Creative Common di flickr.

Kebijakan Baru Terkait Hak Cipta Resource Desain di Tutorial Psdtuts+
Jenis-jenis lisensi Creative Common foto di flickr

Dalam halaman pencarian foto di flickr, ada pilihan untuk foto-foto Creative Common yang bisa digunakan untuk projek komersial. Tentu saja, artinya ada foto di flickr yang tidak boleh digunakan di projek komersial.

If you use Creative Commons imagery that is not free for commercial use, then we won’t be able to use the photos.

Source: Resources in Your Tutorial –Tuts+ Author Guide

Tuts+ Harus Memiliki Stock Itu

Asalnya penggunaan stock premium di tutorial Tuts+ lebih sederhana, sama seperti situs-situs tutorial lainnya. Asalkan kita telah membeli stock premium tersebut, kita bisa menggunakannya dalam tutorial. Sekarang Tuts+ membuat kebijakan berbeda. Mereka harus memiliki langsung stock tersebut, tidak cukup hanya penulisnya saja.

Kebijakan Baru Terkait Hak Cipta Resource Desain di Tutorial Psdtuts+
boy thought to work – shutterstock.com

Saya menduga kebijakan ini terkait dengan urusan hukum. Misalnya saya telah membeli stock premium lalu menggunakannya dalam sebuah tutorial. Sebagai pemilik, saya memiliki hak legal untuk menggunakannya dalam tutorial dan memperoleh bayaran. Tapi, Tuts+ sebagai penyimpan tutorial ini juga memperoleh keuntungan dari tutorial yang dia beli namun tanpa membayar pada pemilik stock asli. Mungkin di sinilah bagian yang bisa jadi bermasalah di sisi hukum.

Oleh karena itu, Tuts+ memilih untuk membelikan resource desain bagi para penulisnya. Dengan cara ini, Tuts+ secara langsung membayar pada pemilik stock asli dan posisi penulis adalah pekerja bagi Tutsplus. Tapi, ini tebakan ngawur saja. Saya bukan ahli hukum.🙂

If you can’t find a stock photo that is free and need to purchase stock photography for your tutorial, we can do that for you with some restrictions.

Source: Resources in Your Tutorial –Tuts+ Author Guide

Sikap Pemilik Stock Premium

Tapi, Customer Service Shutterstock ternyata tidak mempersalahkan ini. Ketika saya tanya tentang penggunaan stocknya untuk tutorial di situs lain –bukan Desaindigital– dia memperbolehkannya.

Saya duga, kebijakan baru Tuts+ ini adalah antisipasi untuk mencegah tuntutan hukum yang berpotensi mengenainya suatu saat di masa depan.

Kebijakan Baru Terkait Hak Cipta Resource Desain di Tutorial Psdtuts+
Criminal hands locked – shutterstock.com

Kesimpulan

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah klien luar negeri apalagi perusahaan besar akan sangat ketat dalam masalah hak cipta. Mereka tidak akan mau mengambil resiko dengan tuntutan hukum. Tentu saja, ini bagi kita sulit dipahami. Kita hidup di negara surganya bajakan. Di mana kantor pemerintah pun menggunakan software bajakan. Apalagi sekadar penggunaan stock foto atau brush Photoshop. Tapi, di negeri mereka masalah hak cipta stock foto bisa benar-benar berujung pada tuntutan hukum.

Berapa Banyak Kesempatan Yang Kita Lewatkan?

Link Minggu Ini 130211

Pada tanggal 17 Januari 2007 seorang pemuda biasa dengan t-shirt berlengan panjang dan sebuah topi baseball berdiri di depan salah satu dinding Stasiun Metro Washington DC. Dia membuka tasnya yang berisi sebuah biola dan mengisinya dengan beberapa dollar dan uang receh kemudian menghadapkannya pada para pejalan kaki.

Dimulai dari jam 7:51 pagi, selama 43 menit pemuda itu memainkan enam lagu klasik. Selama itu, 1.097 pejalan kaki melewatinya dan kebanyakan tidak memperhatikannya sama sekali. Beberapa orang menyempatkan diri untuk berhenti dan memperhatikan sang pemuda.

Sebagian memberinya beberapa dollar dan uang receh sambil lewat tanpa menengoknya sama sekali. Dalam 43 menit itu, sang pemuda berhasil mengumpulkan $32,17.

Di antara 1.097 pejalan kaki itu, hanya seorang yang bisa mengenali sang pemuda. Pemuda itu adalah Joshua Bell, salah satu pebiola terbaik di zaman ini dan pemenang Grammy Award. Tiga hari sebelum konser solonya di Stasiun Metro, Joshua tampil di Symphony Hall di Boston dengan harga tiket $100. Di Stasiun Metro, Joshua memainkan enam lagu klasik yang sangat rumit. Sebagaimana pertunjukannya yang lain, Joshua menggunakan biola terbaiknya yang berharga $3,5 juta.

Konser di Stasiun Metro ini adalah bagian dari eksperimen yang dilakukan kolumnis Washington Post, Gene Weingarten. Untuk tulisannya tentang eksperimen ini, Weingarten memperoleh Pulitzer 2008.

[hr]

Meraih Kesempatan

Pesan moral dari kisah ini adalah berapa banyak kesempatan yang kita lewatkan dalam kehidupan ini? Dari 1.097 pejalan kaki, sebagian besar tidak mempedulikan bahwa saat itu berdiri seorang musisi jenius, memainkan lagu-lagu terbaik, dengan biola seharga $3,5 juta.

Di industri desain saat ini, ada banyak lahan yang siap menunggu untuk digarap. Internet yang semakin murah dan cepat membuat kita –secara teori– mampu bersaing di seluruh dunia. Klien potensial kita tidak lagi terbatas pada komunitas lokal tapi juga –secara teori– seluruh belahan dunia. Kita tidak lagi terbatasi oleh minimnya informasi karena –secara teori– semua tutorial, tips, dan trik desain telah tersedia secara gratis di internet.

Tapi, sering kali, kita hanya menganggap itu semua hanya teori. Kadang kita terlalu pesimis dan berfikir kecil. Kita kadang terlalu sibuk dengan membuat perencanaan dan tidak melakukan hal yang semestinya, yaitu membuat karya terbaik dan memperlihatkannya pada dunia.

[hr]

Bagaimana Menurut Anda?

Bagaimana menurut Anda tentang kisah ini? Apa saja kesalahan yang membuat kita melewatkan kesempatan yang sebetulnya terbuka di depan mata kita?

Cara Saya Menghindari Tawaran Spec Work via Email

Beberapa minggu lalu ada tawaran pekerjaan melalui email dari seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Setelah beberapa email, ternyata tawaran pekerjaan ini mengarah pada Spec Work, yaitu pekerjaan tanpa jaminan pembayaran. Bagi banyak orang, Spec Work jelas-jelas melanggar etika kerja. Namun, di industri desain Spec Work masih terus berkembang.

[box type=”info”]Saya pernah membahas Spec Work secara detail di artikel “Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer“[/box]

[hr]

Percakapan via Email

Dari dua email pertama, sudah terasa jelas sekali bahwa saya akan menolak tawaran ini. Namun, saya terus meneruskan percakapan ini hingga berakhir. Di artikel ini, saya menulis kembali email-email percakapan kami. Ada beberapa bagian yang diubah untuk melindungi identitas calon klien dan meringkas percakapan.

[box]
Calon Klien:
Dear Jeprie,

Saya seorang pebisnis dari Xxxxx. Melalui internet, saya telah melihat beberapa hasil karya Anda menggunakan Photoshop. Saya butuh bantuan Anda untuk mengembangkan desain produk saya dari sketsa menggunakan Photoshop. Jika tertarik, silakan hubungi saya kembali.

Jeprie:
Bisa beri saya detail lebih lengkap tentang bisnis Anda?

Calon Klien:
Saya pengekspor blah-blah-blah…. Pasar kami adalah blah-blah-blah….

Jeprie:
Jadi, apa yang harus saya lakukan?

Calon Klien:
Saya akan mengirim Anda beberapa gambar dan sketsa untuk kemudian Anda gambar kembali di Photoshop. Jadi, apakah Anda bisa melakukannya?

*File gambar dan sketsa terlampir dalam email.

Jeprie:
Ya, saya bisa melakukannya. Untuk referensi, Anda bisa melihat beberapa gambar saya yang lain di http://vandelaypremier.com/author/mjeprie/ dan http://vandelaypremier.com/author/mohammadj/.

Calon Klien:
OK. Bagus sekali!
Ayo kita coba satu dulu. Tolong gambar salah satu file yang telah dikirim di Photoshop agar saya bisa melihat hasilnya.

Jeprie:
Anda telah melihat portfolio saya di Behance dan VandelayPremier. Seperti semua karya saya yang lain, saya akan menggambarnya dengan sangat detail.

Untuk setiap gambar, saya memasang harga US$ XXX. Saya memiliki peraturan standar bagi setiap klien. Sebelum memulai projek, Anda harus menyerahkan 50% dari harga projek ke rekening PayPal saya.

Calon Klien:
Saya bisa memberi Anda pembayaran di muka 50%, tidak masalah. Tapi, setidaknya Anda harus mengirimkan satu gambar terlebih dahulu untuk kemudian saya setujui. Bukankah begitu? Tentu saja saya harus mengetahui kemampuan Anda dalam menangani projek ini.

Jeprie:
Maaf, ini adalah prosedur saya terhadap setiap klien. Anda telah melihat portfolio saya. Dari sana, Anda sudah bisa mengukur kemampuan saya.

Saya tidak berminat untuk bekerja gratis atau tanpa jaminan akan dibayar.

Calon Klien:
Saya tidak meminta Anda untuk bekerja gratis. Hanya saja, saya tidak yakin Anda bisa mengerjakan projek ini sesuai harapan. Bagaimana mungkin saya membayar tanpa mengetahui kemampuan Anda? Ada banyak pengguna Photoshop yang hasil karyanya lebih bagus dari Anda.

Saya heran bagaimana mungkin Anda bisa bekerja tanpa memberikan contoh terlebih dahulu pada klien. Saya juga tidak yakin ada orang yang mau membayar di muka tanpa ada contoh sebelumnya!

1 USD = 8.575,00 IDR. Ini berarti Anda mematok harga X.XXX.XXX IDR untuk satu gambar?

Jeprie:
Tentu saja, tidak masalah bagi saya. Saya menyarankan Anda untuk bekerja dengan desainer manapun yang dianggap cocok. Pembayaran di muka 50% adalah standar kerja saya yang berlaku bagi semua klien. Saya tahu bahwa banyak desainer lain berprinsip sama.

Anda menilai seorang desainer dari portfolio-nya, bukan dari contoh yang dibuatnya khusus untukmu. Apa yang Anda minta di sini –contoh tanpa jaminan pembayaran– dianggap sebagai spec work dan banyak desainer yang tidak menyukainya.

Calon Klien:
Senang bertemu denganmu, Jeprie.

Terima kasih atas waktunya.

Jeprie:
Tentu saja, tidak masalah.

[/box]

[hr]

Kenapa Termasuk Spec Work?

Ada beberapa kondisi yang membuat tawaran ini tergolong Spec Work:

  1. Identitas calon klien tidak jelas.
  2. Permintaan contoh untuk kemudian dievaluasi.

Pentingnya Identitas Calon Klien

Identitas calon klien bagi saya adalah faktor utama dalam menerima tawaran kerja. Saya lebih suka bekerja untuk klien yang sudah dikenal bereputasi baik walaupun dengan bayaran lebih kecil. Reputasi mereka sudah cukup untuk menjamin kepastian projek. Selain itu, bekerja bagi mereka akan mengangkat reputasi kita. Seandainya ada hal-hal buruk –misalnya klien tidak membayar atau kabur– kita tinggal membeberkannya habis-habisan di situs.

Perlukah Meminta Contoh?

Ini sering menjadi alasan bagi calon klien untuk meragukan desainer. Sesungguhnya, di sinilah peran portfolio. Portfolio adalah ajang untuk menunjukkan kemampuan desainer. Melalui portfolio-lah, calon klien mengukur skill desainer. Jika portfolio-nya buruk, maka desainer itu buruk dan tidak perlu dipekerjakan. Cukup sesederhana itu!

Bagi saya, meminta contoh desain untuk kemudian dievaluasi kualitasnya adalah sikap yang merendahkan. Ingat bahwa di sini tidak ada jaminan desainer akan dibayar. Bayaran akan diberikan jika hasilnya dirasa memuaskan. Jika memang belum yakin dengan kualitas desainer, calon klien sebaiknya mencoba dengan satu projek kecil namun tetap membayarnya. Ini menunjukkan bentuk penghargaan terhadap waktu dan usaha yang dilakukan sang desainer.

[hr]

Menghindari Spec Work

Seandainya pekerjaan ini diterima, saya yakin akan ada banyak masalah yang terjadi di kemudian hari. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghindari jebakan Spec Work semacam ini.

Tegas Berbicara Harga

Sudah menjadi budaya kita untuk tidak terang-terangan ketika berbicara tentang uang. Namun, dalam proses kerja yang beresiko seperti mendesain di internet Anda dituntut untuk tegas. Jangan ragu untuk menyebutkan bayaran standar Anda. Semakin cepat Anda melakukannya, semakin cepat klien tidak serius yang mundur dan semakin sedikit waktu yang terbuang.

Kebijakan Pembayaran di Muka

Meminta deposit pembayaran di muka penting untuk menunjukkan keseriusan klien. Cara ini dapat secara efektif menghindarkan skenario buruk seperti klien menghilang setelah memperoleh file atau pembatalan di tengah-tengah projek.

[hr]

Kesimpulan

Bagi desainer, mendesain adalah pekerjaan. Bukan sekadar hobi atau hiburan. Jadi, selayaknya seorang desainer menganggap serius proses mendesain termasuk ketika bertransaksi dengan calon klien. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Pernahkah terjebak atau hampir terjebak oleh calon klien?

7 Tips Bekerja dengan Cepat dan Efektif

Berurusan dengan klien tidak pernah mudah. Salah satu masalah yang umum terjadi adalah minimnya input dari klien. Kondisi semacam ini bisa terjadi karena klien terlalu sibuk atau malah tidak memiliki perhatian sama sekali terhadap proses desain. Tentu sulit sekali bisa bekerja secara maksimal dalam kondisi semacam ini. Di artikel ini, saya akan berbagi beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi cara bekerja cepat dengan kondisi sesulit ini. Apa saja tahap yang perlu dilakukan agar bisa bekerja dengan cepat tapi tetap efektif dan terstruktur?

[hr]

1. Perhatikan Jenis Perusahaan Klien

Langkah pertama adalah memahami terlebih dahulu jenis perusahaan klien. Apakah restoran, pakaian/tekstil, pendidikan, atau bank? Siapa targetnya? Seperti apa logonya? Lihatlah warna dan tipe logonya. Apakah logonya formal, gaul, lucu, atau elegan? Kenali juga siapa saja kompetitornya. Saya rasa semua desainer mengetahui tahap ini. Tapi, sering kali tahap awal yang dilakukannya jauh di luar rencana ideal. Misal, memikirkan letak kantor, memperkirakan gaji karyawan klien, menebak produk terbaru yang dikeluarkan klien, atau malah langsung mencari inspirasi. Intinya, kita harus fokus mengenali garis besar perusahaan dan menjauhkan diri dari detail-detail yang tidak penting.

2. Tentukan Warna dan tema

Setelah memahami jenis perusahaan klien, desainer seharusnya mampu mengenali warna dan tema yang cocok dengan klien dan targetnya. Setiap bidang pekerjaan biasanya memiliki warna khas. Misalnya, warna restoran pada umumnya merah, oranye, kuning, cokelat, atau hijau. Jarang sekali restoran menggunakan warna biru, emas, atau pink. Untuk mempermudah proses, lihat saja warna logonya –jika sudah ada– atau sesuaikan dengan tema yang diangkat klien.

3. Mencari inspirasi dengan cepat

Setelah memperoleh warna dan tema, saatnya untuk mencari inspirasi. Mencari inspirasi dari buku atau internet tidak membutuhkan waktu lama. Berikut adalah dua cara memperoleh inspirasi.

Keyword Search

Saya menyarankan Anda untuk mencari inspirasi dari informasi ‘warna, tema, jenis klien, trend’ yang kita dapat dari langkah nomor 2. Misalnya, untuk inspirasi brosur, interface website, poster, atau advertising sebaiknya kita mencari di blog khusus inspirasi desain atau kreatif. Untuk memastikan hasil pencarian gunakan keywords ‘Inspirational’ atau ‘Best’. Jangan mencari inspirasi gambar di google image, sering kali hasilnya terlalu beragam sehingga tidak sesuai dengan harapan kita.

Menyerap inspirasi

Di internet, ada banyak artikel berisi daftar contoh-contoh desain tema tertentu, misalnya “30 Inspirational best car website design”. Menghadapi daftar semacam ini sebaiknya cukup dengan membaca cepat. Tidak perlu lama-lama menatap, scroll layar komputer secara cepat dan bolak-balik. Di saat yang sama, resapi warna, style, tema, efek-efek desain, dan tekstur yang digunakan. Untuk menghindari masuknya inspirasi di luar tema, usahakan hanya melihat artikel yang berhubungan dengan proyek kita.

Untuk membuktikan efektifitas tips ini, saya juga mengaplikasikannya saat membuat lagu secara cepat. Caranya dengan mendengarkan beberapa lagu yang sewarna atau sealbum tapi tidak perlu didengar satu per satu secara penuh. Berpindah dengan cepat dari satu lagu ke lagu yang lain, bolak-balik sambil menyerap yang kita butuhkan saja. Hasilnya tetap berbeda, bukan meniru.

4. Gunakan Resources Desain Gratis atau Buatan Sendiri

Di sinilah gunanya freebies. Namun, pastikan kita sudah membaca aturan dari si pembuat freebies tersebut. Biasanya freebies ini hanya berperan sebagai elemen atau bagian dari desain dan bukan desain secara keseluruhan. Jadi, secara umum, konsep, ide, dan desain tetap karya kita.

Namun perlu diingat bahwa penggunaan resource desain seperti ini tetap perlu dibatasi. Ada beberapa pekerjaan desain yang memang harus unik dan tidak mungkin menggunakan resource desain jadi. Misalnya ketika saya diminta membuat icon aplikasi Blackberry, tentu saja itu harus murni buatan sendiri.

5. Pastikan Kondisi Badan Nyaman dan Fit

Ini adalah faktor penting yang sering kali disepelekan. Untuk bisa bekerja dengan cepat, kondisi badan harus fit. Pastikan perut Anda tidak kosong. Kopi, teh, atau cemilan lainnya akan membantu meningkatkan produktivitas kerja. Asupan energi ini juga membantu pikiran kita untuk lebih fokus pada pekerjaan.

6. Gunakan Shortcut Keyboard

Biasanya para desainer pemula belum terbiasa dengan shortcut keyboard. Padahal, ini sangat membantu dalam mempercepat proses kerja. Informasi shortcut keyboard biasanya dapat ditemukan di manual program yang Anda gunakan. Awalnya akan terasa sulit, namun setelah terbiasa tubuh Anda akan mengingatnya begitu saja.

7. Cek Ulang Hasil Pekerjaan

Setelah selesai pastikan untuk selalu mengecek ulang pekerjaan Anda. Jika hal ini dilewatkan bisa jadi malah sebaliknya, membuang waktu Anda.

[hr]

[box type=”note”]Dalam artikel ini, tahap sketsa tidak saya cantumkan karena kita tidak membahas tahap detail pengerjaan proyek melainkan cara cepat bekerja. Sketsa bisa saja sudah termasuk di dalamnya.[/box]

Mereka yang masih kuliah dan belum pernah mengerjakan proyek profesional mungkin akan kaget menghadapi kondisi di dunia kerja. Apa mungkin membuat logo dalam satu hari atau 3 jam? Di perkuliahan, kita memiliki banyak waktu untuk melakukan riset secara mendalam, wawancara, mencari literatur, dan asistensi puluhan kali. Well, welcome to the real world.😀 Dunia kerja tidak akan sesempurna tahap-tahap pendidikan formal. Namun, jika sudah mengerti setidaknya kita bisa menyaring dan meminimalkan kesalahan.

6 Tips Agar Bisa Menonjol di Komunitas Desain


Fotografer: sparkieblues

Harus diakui bahwa saat ini tidak mudah untuk menonjol di komunitas desainer. Perkembangan internet membuat dunia semakin sempit dan tentunya tingkat kompetisi pun semakin tinggi. Kini, kita harus bisa bersaing tidak saja dengan desainer lokal tapi juga desainer luar. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar tetap menonjol di komunitas desain. Cara-cara ini tidak mahal dan juga tidak rumit. Yang penting adalah komitmen untuk tetap konsisten melakukannya.

[hr]

1. Blogging Tentang Desain

Blogging adalah cara favorit saya untuk tetap menonjol di komunitas desain. Ada banyak desainer dan blogger di luar sana. Namun, desainer yang juga blogger tetap merupakan sosok yang unik. Desainer yang bisa mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan bisa disimpulkan memiliki kelebihan dalam skill komunikasi. Desainer yang secara rutin mengupdate blognya memberi kesan bahwa dirinya selalu mengikuti perkembangan trend terbaru. Ini tentu saja menjadi nilai positif di mata sesama desainer lain atau calon klien.

Ada banyak desainer yang memulai karirnya melalui blogging. Salah satunya adalah Fabio Sasso dari Abduzeedo. Fabio sebelumnya hanya desainer biasa dengan klien-klien lokal. Namun, setelah rutin berbagi tutorial dan inspirasi desain di Abduzeedo, dirinya dikenal luas di komunitas desain. Kini, Fabio dianggap sebagai salah satu desainer terbaik di dunia.

Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa blogging tidaklah mudah. Berbeda dengan portfolio, siklus update blog jauh lebih cepat. Begitu memutuskan blogging, Anda harus menyediakan waktu untuk secara rutin mengupdate blog. Blog yang tidak pernah diperbarui malah akan berakibat buruk, memberi kesan pemiliknya pemalas. Jika Anda tidak yakin sanggup blogging, saya sarankan untuk menghindarinya dan mencoba menulis tamu di situs desain lain. Efek dari menulis tamu di blog desain sama saja dengan memiliki blog sendiri, terlebih jika situsnya dikenal memiliki reputasi yang baik.

[hr]

2. Aktif di Jejaring Sosial

Jejaring sosial adalah cara paling mudah untuk membangun nama Anda. Saat ini, Anda wajib memiliki account twitter karena di sanalah komunitas desainer berkumpul. Melalui twitter, Anda bisa menunjukkan keahlian dan antusiasme dengan berbagi link ke artikel atau berita terkait desain.

Anda bisa juga aktif di jaringan yang lebih spesifik untuk desainer, misalnya Dribbble, Designmoo, atau Forrst. Di komunitas ini, Anda bisa berbagi dan berdiskusi topik terkait desain secara lebih fokus.

Salah satu contoh desainer yang sukses memanfaatkan twitter adalah Andy Sowards. Tweet-nya yang berkualitas telah memberi Andy kesempatan untuk bekerja dengan klien dari berbagai belahan dunia.

[hr]

3. Selalu Aktif Berkarya

Banyaknya desainer lain –yang tentunya merupakan pesaing– membuat Anda mudah dilupakan. Untuk menunjukkan keberadaan Anda, tetaplah konsisten untuk terus membuat karya baru. Tidak perlu menunggu tawaran klien untuk memulai sebuah projek. Anda bisa mengikuti tutorial, mencoba trend desain baru, atau sekadar bereksperimen. Banyaknya karya yang dihasilkan akan membuat Anda dikenal sebagai desainer kreatif dan sekaligus produktif.

Akan lebih baik lagi jika bisa menampilkan karya-karya Anda di situs inspirasi desain seperti CSS Gallery atau Creattica. Prosesnya sering kali lama karena hanya karya-karya terpilih yang bisa masuk ke sana, namun hasilnya akan sepadan.

Dalam hal ini, saya selalu mengagumi Chris Piascik. Dia secara konsisten membuat karya tipografi tulisan tangan setiap hari. Setiap hari berarti 365 karya dalam setahun. Jika bukan kreatif, entah apa lagi sebutannya.

[hr]

4. Berbagi Resource Desain

Kultur di internet adalah gratisan. Anda bisa memanfaatkan ini dengan berbagi resource-resource desain. Saya sendiri melakukannya melalui PSDfreemium. Selain untuk mengangkat reputasi, berbagi bisa jadi cara ampuh untuk belajar teknik-teknik baru atau sekadar melakukan sesuatu yang berbeda.

Salah satu desainer yang terkenal melalui cara ini adalah Orman Clark. Orman berbagi resource desain gratis seperti tekstur atau tombol di Premium Pixels. Hingga saat ini, Orman adalah salah satu penjual theme wordpress terlaris di ThemeForest. Prestasi ini tidak lepas dari peran Premium Pixels yang berhasil mengangkat reputasinya.

[hr]

5. Berkenalan dengan Pemilik Blog Desain

Salah satu tema favorit blog desain adalah menyediakan inspirasi. Jika Anda memiliki karya bagus kenapa tidak ditunjukkan pada pemilik blog? Jangan ragu untuk menghubungi pemilik blog desain. Asalkan menarik dan inspiratif, tentu mereka mau menampilkan karya Anda. Mereka membutuhkan post baru sementara Anda ingin dikenal oleh komunitasnya. Kedua pihak sama-sama diuntungkan.

Melalui cara inilah saya berkenalan dengan Ryan Rachmanto dan NastPlast. Setelah melihat portfolionya, dengan senang hati saya menampilkan karya mereka.

[hr]

6. Aktif di Acara Offline

Interaksi online seperti chat atau tweet adalah cara paling mudah. Namun, acara offline tetap penting dan masih menjadi cara ampuh untuk membuat Anda lebih dikenal. Semua orang bisa dengan mudah membuat account twitter dan saling sapa, namun pertemuan secara langsung akan selalu memberi kesan lebih dalam.

Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Anggi Krisna, pendiri Ruang Freelance? Bukan sekadar menghadiri, dia juga sering mengadakan event-event offline dan berbagi dengan komunitas. Ini membuatnya sangat menonjol berkat kontribusinya pada komunitas.

[hr]

Ada tips yang terlewatkan?

Setiap desainer memiliki cara sendiri untuk membedakan dirinya dengan desainer lain. Bagaimana dengan Anda? Apa ada tips yang terlewatkan di atas? Jika ada, saya berharap Anda bisa membaginya di sini.

Tips Menghadapi Acara Offline

Beberapa hari lalu saya mengikuti WordCamp ID 2011 di Bandung. Saya belajar banyak dari para pembicara. Selain itu saya juga bertemu dengan para desainer dan blogger yang biasanya hanya saya kenal secara online. Di sini, saya akan berbagi tips cara memaksimalkan acara offline agar perjalanan Anda tidak sia-sia.

[hr]

Apa yang bisa Anda peroleh dari pertemuan offline

1. Pengetahuan Baru

Materi-materi yang disajikan para pembicara tentu saja akan memberi Anda informasi baru. Pastikan saja bahwa materi yang dibahas sesuai dengan minat dan bidang yang Anda tekuni. Lihat juga daftar pemateri yang akan datang, presentasi langsung dari ahlinya tentu akan lebih menarik dan memuaskan.

2. Membangun Jaringan (Networking)

Membangun jaringan biasanya tidak menjadi agenda utama sebuah acara. Di akhir atau di sela-sela acara, Anda bisa menggunakan waktu yang tersedia untuk berbincang-bincang dan mencari kenalan yang bisa menjadi partner potensial Anda. Dalam kasus tertentu, bisa jadi networking lebih penting bagi Anda daripada seminar-seminar di agenda acara.

Kehidupan online memang menyenangkan, Anda bisa ngobrol dengan desainer terkemuka via twitter atau saling berkomentar di facebook. Tapi itu semua tidak nyata (atau setidaknya begitu menurut saya). Berbeda dengan interaksi online, bertemu secara langsung —face to face— akan melibatkan gestur, gaya bicara, sikap, dan banyak hal lain yang jika dilakukan dengan baik bisa lebih mengesankan.

3. Menyegarkan Pikiran

Walaupun menyenangkan, terlalu banyak di depan komputer tidaklah terlalu sehat. Ada saatnya untuk berhenti sejenak dan menikmati kehidupan nyata. Ada banyak cara untuk menyegarkan kembali pikiran Anda, salah satunya dengan acara offline.

[hr]

Tips Menghadapi Pertemuan Offline

1. Tentukan Tujuan Anda

Mulai dengan menentukan tujuan Anda. Pastikan bahwa acara yang akan diikuti sesuai dengan kebutuhan Anda. Jangan sia-siakan waktu Anda untuk mengikuti pertemuan yang tidak perlu. Lihat daftar pembicara jika Anda memang berniat mencari informasi. Cari informasi pengunjung yang akan datang jika Anda ingin fokus pada membangun jaringan.

2. Periksa Jadwal Anda

Anda tidak mungkin mengatur jadwal acara, Satu-satunya yang mungkin hanyalah mengatur jadwal Anda sendiri. Jika ada deadline yang harus dipenuhi sebaiknya bereskan itu segera. Jangan sampai Anda disibukkan dengan pekerjaan ketika berada di tengah pertemuan.

Perhitungkan juga jika acara ini bisa mengganggu jadwal Anda berikutnya? Ini bisa terjadi jika acara ini membutuhkan banyak energi misalnya karena jarak yang jauh atau durasinya lama.

3. Umumkan Kedatangan Anda

Umumkanlah kedatangan Anda untuk mempermudah rekan online yang ingin bertemu. Sebelum berangkat ke WordCamp, saya mengumumkan kepergian saya melalui sebuah posting khusus, bahkan menawarkan buku gratis bagi yang mengenali saya. Langkah iseng ini ternyata membantu saya. Pengumuman ini membuat saya didekati beberapa orang tanpa perlu saya mengawali. Berita bagus bagi saya yang sulit bergaul. Tentu saja Anda tidak harus mengumumkan lewat posting blog, pengumuman via twitter sudah cukup.

4. Siapkan Alat Pendukung

Jangan lupa untuk menyiapkan alat yang bisa membantu Anda di pertemuan. Jika tidak memberatkan, Anda bisa membawa notebook atau netbook. Jangan lupakan ballpoint dan buku catatan, ini lebih mudah daripada mencatat di komputer.

5. Siapkan Kartu Nama

Untuk membantu proses networking, siapkan kartu nama. Kartu nama saya temukan membantu dalam percakapan dengan orang yang baru Anda kenal. Nama mudah sekali mereka lupakan, biasanya mereka akan mengintip kartu nama ketika akan menyebut nama kita. Kartu nama akan membantunya menghindari kejadian memalukan seperti salah menyebut nama.

6. Munculkan Wajah Anda dalam Avatar

Dalam pergaulan online, kita hanya dikenal dalam bentuk avatar. Agar Anda mudah dikenali, sebaiknya ubah dulu avatar dengan wajah asli beberapa hari sebelum acara. Ini bisa membantu rekan online mengenali Anda.

7. Menyiapkan Souvenir

Jika Anda punya waktu, kenapa tidak menyiapkan souvenir bagi rekan-rekan online? Tidak perlu mahal-mahal, misalnya stiker berupa logo situs Anda. Souvenir bisa membuat pertemuan dengan Anda lebih mengesankan karena kemungkinan besar tidak ada yang melakukannya. Tentu saja jangan berlebihan dengan souvenir ini, Anda hanya peserta bukan sponsor.🙂

[hr]

Memiliki tips bagus?

Tips-tips di atas saya temukan sangat membantu dalam merencanakan pertemuan offline. Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda memiliki tips lain yang menarik? Jika ada bagikan dalam kolom komentar.

Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer

[box type=”note”]Artikel ini cukup panjang. Sebelum berkomentar, saya harapkan Anda membaca artikel ini terlebih dahulu. Di akhir artikel, saya juga menuliskan beberapa link yang bisa dijadikan rujukan tambahan.[/box]

Topik Spec Work memang cukup kontroversial. Sebagian menolak keras sementara yang lain menyambutnya dengan gembira. Di artikel ini, saya akan menyajikan beberapa argumen kenapa Spec Work buruk bagi desainer dan harus Anda hindari.

[hr]

Apa itu Kontes Desain atau Spec Work?

Spec adalah singkatan dari speculation atau spekulasi. Spec Work berarti bekerja dengan kemungkinan dibayar. Tentu saja, ini berarti ada kemungkinan Anda tidak akan dibayar. Dari definisi saja Spec Work sudah terlihat tidak masuk akal. Maukah Anda bekerja dengan kemungkinan dibayar? Saya yakin tidak. Di Indonesia, Spec Work lebih dikenal sebagai Kontes Desain. Sebetulnya kontes desain adalah sebagian dari Spec Work. Oleh karena itu, dalam artikel ini saya akan menggunakan istilah asli, Spec Work.

Berikut adalah skenario Spec Work yang sering ditemukan:

  1. Perusahaan mengumumkan bahwa mereka membutuhkan logo baru. Semua desainer diundang untuk mengirimkan logo dan yang terbaik akan dipilih sebagai pemenang dan dibayar.
  2. Situs kompetisi desain membuka peluang bagi perusahaan untuk mengumumkan projek yang dibutuhkannya, anggota komunitas situs akan mengirimkan mengirimkan karya terbaiknya. Selanjutnya pihak perusahaan akan memilih entri terbaik dan pemenangnya akan dibayar.
  3. Seseorang membutuhkan pekerja, untuk proses ini dia merekrut beberapa desainer melalui kontes. Setiap desainer diharuskan melakukan pekerjaan tertentu secara gratis lalu yang terbaik akan dia pilih.
  4. Dalam surat kontrak, klien memasukkan syarat yang memperbolehkannya meminta desainer melakukan pekerjaan tambahan. Syarat tambahan ini tidak dijelaskan secara detail dan bisa multi tafsir.
  5. Seseorang mengontak desainer dan berniat menyewanya. Namun, untuk memastikan bahwa desainer ini bisa bekerja sesuai harapannya, dia meminta desainer untuk melakukan sedikit pekerjaan gratis.

Faktanya, Spec Work tetap muncul subur. Situs-situs penyelenggara kontes desain seperti 99designs dan crowdSpring tidak pernah kekurangan klien atau desainer. Alasannya sederhana, harga murah. Melalui kontes desain, perusahaan bisa memperoleh puluhan bahkan ratusan alternatif logo hanya untuk $50. Padahal, pasaran logo minimal $200, harga itu untuk satu desainer.

[divider]

Desain Bukan Komoditas Tetapi Ide

Satu hal dasar yang sering dilupakan adalah desain bukan komoditas. Desain bukan barang yang bisa begitu saja dikeluarkan. Desain sebetulnya berupa ide dan sekali terpapar keluar, sangat rawan diduplikasi. Dalam kontes desain, kita diminta menyerahkan ide final begitu saja. Ini resiko besar karena tidak ada kepastian bahwa ide kita aman di tangan penyelenggara. Sering kali, penyelenggara kontes tidak menyebutkan secara pasti apa yang akan mereka lakukan dengan entri desain yang diterima. Dalam beberapa kasus, penyelenggara bahkan berani mengklaim bahwa semua entri yang diterima menjadi milik mereka.

Berbeda dengan produk, Anda bisa saja mengeluarkan produk yang akan dijual. Walaupun orang lain bisa melihatnya, perlu waktu untuk menduplikasinya. Ide desain bisa saja dengan mudah diduplikasi. Anda bisa meniru logo Pepsi hanya dalam 10 menit, bandingkan dengan proses desain logo Pepsi yang menghabiskan 1 juta dollar.

[divider]

Contoh Buruk Spec Work

Berikut adalah beberapa contoh buruk tentang Spec Work:

  1. Lomba Desain Logo dan Desain Stiker UM 2010. Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan lomba desain logo dan stiker. Dalam ketentuannya disebutkan semua karya yang masuk (tidak harus menang) otomatis menjadi milik panitia.
  2. Lomba Kompetisi Desain Logo Pilkada Wonosobo Indonesia 2010. Dalam ketentuan teknis disebutkan “Karya yang sudah masuk tidak dikembalikan dan menjadi hak milik KPU Kabupaten Wonosobo.”
  3. Lomba Desain Logo Mass Rapid Transit Jakarta. Dalam ketentuan lomba tertulis “Keputusan dewan juri adalah mutlak, dan dewan juri berhak untuk membatalkan keseluruhan proses penjurian apabila seluruh karya yang masuk tidak sesuai dengan yang diharapkan.” Kontes dapat dibatalkan jika hasilnya dianggap tidak sesuai harapan, ini berarti ketidakpastian bagi desainer.
  4. Spec Watch melaporkan salah satu kontestan logo di 99designs menggunakan resource vektor gratis. Di crowdSpring, pemenang kontes menggunakan resource vektor yang sama tanpa diedit sama sekali.
  5. David Airey menyebutkan penemuannya tentang desainer di bawah umur di 99designs. Padahal, 99designs mengklaim sebagai tempat berkumpulnya desainer professional dengan harga terjangkau.
  6. Pemenang kontes logo di crowdSpring menggunakan ikon dari iStockphoto. Padahal, iStockpoto melarang penggunaan karyanya dalam logo. Yang membuat lebih rumit, ikon itu tidak dibeli dari iStockphoto tapi hasil copy dari preview-nya dan masih mengandung trademark.
  7. Projek logo ditarik setelah memperoleh 21 karya. Projek ini dihargai $199.

Untuk info lebih lengkap tentang praktik buruk Spec Work, Anda bisa melihatnya di twitter @specwatch.

[divider]

Alasan untuk tidak mengikuti Spec Work

Saya tegaskan sekali lagi bahwa Spec Work tidak baik untuk bisnis desain. Berikut adalah beberapa alasan untuk tidak mengikuti Spec Work:

1. Tidak ada Kepastian

Sukarelawan bekerja tanpa mengharapkan imbalan. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebaikan. Yang harus kita perhatikan adalah, desainer dalam kasus Spec Work bukan sukarelawan tapi korban. Kita kembali lagi ke pertanyaan sederhana, maukah Anda bekerja tanpa kepastian akan dibayar? Saya tidak bisa membayangkan seorangpun yang akan menjawab ya. Coba bandingkan dengan standar kerja normal, desainer biasanya baru akan bekerja setelah menerima 50% pembayaran di muka.

2. Banyak Persaingan

Persaingan memang bagus karena memaksa kita untuk meningkatkan skill. Tapi ini tidak berarti kita perlu memperberat kondisi dengan mencari persaingan yang tidak perlu. Setiap hari, secara tidak langsung kita juga bersaing dengan desainer lain. Desainer harus selalu mencari informasi baru, aktif di jejaring sosial, meningkatkan skill, dan mempromosikan portfolio. Berkompetisi melalui kontes hanyalah menambah beban yang tidak perlu.

3. Berpotensi Menurunkan Kualitas

Adanya persaingan membuat proses kerja tidak nyaman. Dalam kerjanya, desainer tidak begitu saja lompat ke Photoshop dan mendesain. Sebelumnya diperlukan riset untuk memperoleh hasil terbaik. Proses riset ini tidak mudah, bisa jadi dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh hasil yang sesuai harapan. Bagaimana desainer bisa melakukan risetnya dengan tenang sementara tidak ada kepastian bahwa dia akan dibayar untuk itu? Bagaimana desainer bisa bekerja dengan tenang jika dibayangi oleh pikiran bahwa siapa pun bisa dengan mudah merebut projeknya?

4. Berpotensi Pada Praktek Tidak Sehat

Tidak adanya kepastian dan banyaknya persaingan tidak mendukung desainer untuk bekerja secara optimal. Kondisi ini membuat sebagian desainer mengambil cara mudah dengan menjiplak karya lain atau menggunakan resource jadi. Akhirnya, besar kemungkinan desain yang dihasilkannya tidaklah unik. Padahal keunikan adalah salah satu hal yang membuat sebuah desain istimewa.

5. Menjatuhkan Pasaran

Lagi-lagi masalahnya adalah persaingan. Spec Work sering kali menarik minat para desainer pemula yang portfolionya tidak cukup bagus untuk menarik minat klien potensial. Desainer pemula semacam ini sering kali menjatuhkan harga karena menyadari bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan harga normal. Secara umum, tindakan ini akan menjatuhkan pasaran desain. Sayangnya, banyak pihak yang tidak menyadari bahwa desain itu mahal. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan –harga software, investasi pendidikan, waktu yang dihabiskan untuk mempelajari skill desain, kebutuhan desainer– bukan sekadar proses desain di depan komputer.

[divider]

Alternatif Spec Work Bagi Desainer Pemula: Bekerja Pro Bono

Spec Work sering difavoritkan desainer pemula dengan alasan untuk mencari pengalaman dan membangun portfolio. Desainer pemula memang lebih sulit untuk memperoleh klien. Klien, terutama klien besar, akan memilih menghabiskan lebih banyak dana untuk desainer handal daripada mengambil resiko dengan desainer pemula.

Contoh termudah misalnya dalam desain buku. Buku biasanya dicetak di atas 2.000 buah. Seandainya ada kesalahan desain, maka ada 2.000 buku yang gagal. Ini biaya yang sangat besar. Jika Anda ingin diterima sebagai desainer buku, skill InDesign dan ijazah saja dijamin tidak akan cukup. Klien pasti menginginkan desainer yang sudah berpengalaman, yang memiliki bukti bahwa desainnya sukses dicetak.

Jika Anda di posisi desainer tadi, maka cara terbaik adalah dengan bekerja pro bono. Pro bono maksudnya bekerja gratis dengan tujuan mulia. Dalam kasus desainer buku, Anda bisa mencari LSM non-profit lokal yang ingin menerbitkan buku dan menawarkan jasa desain secara gratis. Lewat proyek ini, Anda akan memperoleh pengalaman dan sekaligus membangun portfolio. Siapa tahu, LSM ini bisa jadi akan merekomendasikan Anda pada rekannya yang lain. Jika terjadi, ada point tambahan yang Anda peroleh, membangun jaringan.

Pekerjaan Pro Bono yang paling mengesankan bagi saya adalah mendesain buku. Saat ini, semua buku saya di Elex Media Komputindo didesain sendiri. Elex tidak membayar desain saya, namun saya memperoleh pengalaman yang jauh lebih besar. Semua keahlian InDesign yang saya pelajari dicetak dalam lebih dari 8.000 buku! Saya bereksperimen dengan berbagai jenis desain dan tidak mengeluarkan sedikit pun biaya cetak. Dengan harga per buku minimal Rp. 80.000, saya memperoleh kepercayaan mengelola projek senilai lebih dari 640 juta!

[divider]

Kerugian Bagi Perusahaan yang Menjalankan Spec Work

Perusahaan seharusnya menghindari kontes desain. Kontes desain sering kali menarik minat desainer pemula yang kualitasnya masih diragukan. Perusahaan seharusnya memiliki kontrol penuh terhadap hasil yang akan dia peroleh, caranya dengan menyewa desainer professional. Desainer professional bisa dilihat dari kualitas portfolionya. Desainer professional jelas memiliki skill dan pengalaman lebih luas. Sesuai namanya, mereka bekerja secara professional. Mereka akan mampu menggabungkan filosofi perusahaan ke dalam desainnya.

Dengan melakukan kontes desain, perusahaan melepaskan kontrol terhadap kualitas desainer dan desain yang diperoleh. Perusahaan tidak bisa memilih logo yang baik hanya dari satu gambar saja. Perusahaan harus melihat hasil karya lain desainer dari portfolionya untuk memastikan kualitas desain. Bagaimana jika di kemudian hari ada perubahan konsep? Bagaimana jika perusahaan berkembang ke sektor lain. Sanggupkah desainer pemenang mengadaptasi itu semua?

Pilihan paling logis adalah menggunakan jasa desainer professional. Memang tidak murah, namun kualitasnya pasti jauh lebih meyakinkan. Bagaimana dengan perusahaan kecil yang tidak memiliki cukup budget untuk menyewa desainer handal? Solusinya adalah dengan langsung mencari desainer yang bisa bekerja sesuai dengan budget. Perhatikan portfolio-nya, jika dirasa sanggup memberikan hasil yang memuaskan maka sewa secara langsung. Dengan cara ini, perusahaan bisa secara langsung memberikan masukan pada desainer dan mengawasi proses desain secara keseluruhan. Saya yakin masukan ini lebih baik daripada sekadar beberapa paragraf di dalam penjelasan kontes.

[divider]

Menjalankan Kontes Desain Tanpa Spec Work

Perlu ditegaskan bahwa saya tidak dalam posisi menolak sama sekali kontes desain. Kontes desain tidak selamanya terkategorikan Spec Work. No!Spec membahas beberapa kriteria yang menjadikan sebuah kontes desain terkategorikan Spec Work.

  1. Apakah desainer dibayar setara dengan proses kerja normal di bawah kontrak?
  2. Apakah desainer dibayar setara dengan keahliannya?
  3. Apakah semua file dan lisensinya dikembalikan sesuai dengan persetujuan desainer, terutama bagi yang kalah?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah tidak, maka kontes itu terkategorikan Spec Work dan saya sarankan Anda menghindarinya.

[hr]

Kesimpulan

Jika Anda desainer pemula, saran terbaik saya adalah mulailah dengan membangun jaringan. Jika Anda memiliki desain berkualitas tinggi, sumbangkan saja ke situs besar. Situs desain semacam Psdtuts+, NaldzGraphics, dan WeGraphics akan senang jika menerima desain berkualitas apalagi gratis. Walaupun tidak dibayar, Anda akan terekspos ke hadapan ribuan pembacanya. Sebagian di antaranya, bisa jadi merupakan klien potensial.

Jangan dulu berharap menerima dollar. Segala sesuatu ada waktu dan tahapannya. Langkah pertama bagi desainer pemula adalah meningkatkan kualitas, networking, dan membangun citra (branding). Jika Anda sudah dikenal sebagai desainer berkualitas, pasti mereka akan mendatangi Anda.

[hr]

Referensi

Berikut adalah beberapa referensi dari para pendukung dan penolak Spec Work:

Penolak Spec Work

Pendukung Spec Work

[hr]

Giliran Anda berbicara

Anda sudah membaca argumen saya di atas, sekarang giliran Anda untuk berpendapat. Bagaimana menurut Anda tentang Spec Work?