Cara Saya Menghindari Tawaran Spec Work via Email

Beberapa minggu lalu ada tawaran pekerjaan melalui email dari seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Setelah beberapa email, ternyata tawaran pekerjaan ini mengarah pada Spec Work, yaitu pekerjaan tanpa jaminan pembayaran. Bagi banyak orang, Spec Work jelas-jelas melanggar etika kerja. Namun, di industri desain Spec Work masih terus berkembang.

[box type=”info”]Saya pernah membahas Spec Work secara detail di artikel “Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer“[/box]

[hr]

Percakapan via Email

Dari dua email pertama, sudah terasa jelas sekali bahwa saya akan menolak tawaran ini. Namun, saya terus meneruskan percakapan ini hingga berakhir. Di artikel ini, saya menulis kembali email-email percakapan kami. Ada beberapa bagian yang diubah untuk melindungi identitas calon klien dan meringkas percakapan.

[box]
Calon Klien:
Dear Jeprie,

Saya seorang pebisnis dari Xxxxx. Melalui internet, saya telah melihat beberapa hasil karya Anda menggunakan Photoshop. Saya butuh bantuan Anda untuk mengembangkan desain produk saya dari sketsa menggunakan Photoshop. Jika tertarik, silakan hubungi saya kembali.

Jeprie:
Bisa beri saya detail lebih lengkap tentang bisnis Anda?

Calon Klien:
Saya pengekspor blah-blah-blah…. Pasar kami adalah blah-blah-blah….

Jeprie:
Jadi, apa yang harus saya lakukan?

Calon Klien:
Saya akan mengirim Anda beberapa gambar dan sketsa untuk kemudian Anda gambar kembali di Photoshop. Jadi, apakah Anda bisa melakukannya?

*File gambar dan sketsa terlampir dalam email.

Jeprie:
Ya, saya bisa melakukannya. Untuk referensi, Anda bisa melihat beberapa gambar saya yang lain di http://vandelaypremier.com/author/mjeprie/ dan http://vandelaypremier.com/author/mohammadj/.

Calon Klien:
OK. Bagus sekali!
Ayo kita coba satu dulu. Tolong gambar salah satu file yang telah dikirim di Photoshop agar saya bisa melihat hasilnya.

Jeprie:
Anda telah melihat portfolio saya di Behance dan VandelayPremier. Seperti semua karya saya yang lain, saya akan menggambarnya dengan sangat detail.

Untuk setiap gambar, saya memasang harga US$ XXX. Saya memiliki peraturan standar bagi setiap klien. Sebelum memulai projek, Anda harus menyerahkan 50% dari harga projek ke rekening PayPal saya.

Calon Klien:
Saya bisa memberi Anda pembayaran di muka 50%, tidak masalah. Tapi, setidaknya Anda harus mengirimkan satu gambar terlebih dahulu untuk kemudian saya setujui. Bukankah begitu? Tentu saja saya harus mengetahui kemampuan Anda dalam menangani projek ini.

Jeprie:
Maaf, ini adalah prosedur saya terhadap setiap klien. Anda telah melihat portfolio saya. Dari sana, Anda sudah bisa mengukur kemampuan saya.

Saya tidak berminat untuk bekerja gratis atau tanpa jaminan akan dibayar.

Calon Klien:
Saya tidak meminta Anda untuk bekerja gratis. Hanya saja, saya tidak yakin Anda bisa mengerjakan projek ini sesuai harapan. Bagaimana mungkin saya membayar tanpa mengetahui kemampuan Anda? Ada banyak pengguna Photoshop yang hasil karyanya lebih bagus dari Anda.

Saya heran bagaimana mungkin Anda bisa bekerja tanpa memberikan contoh terlebih dahulu pada klien. Saya juga tidak yakin ada orang yang mau membayar di muka tanpa ada contoh sebelumnya!

1 USD = 8.575,00 IDR. Ini berarti Anda mematok harga X.XXX.XXX IDR untuk satu gambar?

Jeprie:
Tentu saja, tidak masalah bagi saya. Saya menyarankan Anda untuk bekerja dengan desainer manapun yang dianggap cocok. Pembayaran di muka 50% adalah standar kerja saya yang berlaku bagi semua klien. Saya tahu bahwa banyak desainer lain berprinsip sama.

Anda menilai seorang desainer dari portfolio-nya, bukan dari contoh yang dibuatnya khusus untukmu. Apa yang Anda minta di sini –contoh tanpa jaminan pembayaran– dianggap sebagai spec work dan banyak desainer yang tidak menyukainya.

Calon Klien:
Senang bertemu denganmu, Jeprie.

Terima kasih atas waktunya.

Jeprie:
Tentu saja, tidak masalah.

[/box]

[hr]

Kenapa Termasuk Spec Work?

Ada beberapa kondisi yang membuat tawaran ini tergolong Spec Work:

  1. Identitas calon klien tidak jelas.
  2. Permintaan contoh untuk kemudian dievaluasi.

Pentingnya Identitas Calon Klien

Identitas calon klien bagi saya adalah faktor utama dalam menerima tawaran kerja. Saya lebih suka bekerja untuk klien yang sudah dikenal bereputasi baik walaupun dengan bayaran lebih kecil. Reputasi mereka sudah cukup untuk menjamin kepastian projek. Selain itu, bekerja bagi mereka akan mengangkat reputasi kita. Seandainya ada hal-hal buruk –misalnya klien tidak membayar atau kabur– kita tinggal membeberkannya habis-habisan di situs.

Perlukah Meminta Contoh?

Ini sering menjadi alasan bagi calon klien untuk meragukan desainer. Sesungguhnya, di sinilah peran portfolio. Portfolio adalah ajang untuk menunjukkan kemampuan desainer. Melalui portfolio-lah, calon klien mengukur skill desainer. Jika portfolio-nya buruk, maka desainer itu buruk dan tidak perlu dipekerjakan. Cukup sesederhana itu!

Bagi saya, meminta contoh desain untuk kemudian dievaluasi kualitasnya adalah sikap yang merendahkan. Ingat bahwa di sini tidak ada jaminan desainer akan dibayar. Bayaran akan diberikan jika hasilnya dirasa memuaskan. Jika memang belum yakin dengan kualitas desainer, calon klien sebaiknya mencoba dengan satu projek kecil namun tetap membayarnya. Ini menunjukkan bentuk penghargaan terhadap waktu dan usaha yang dilakukan sang desainer.

[hr]

Menghindari Spec Work

Seandainya pekerjaan ini diterima, saya yakin akan ada banyak masalah yang terjadi di kemudian hari. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghindari jebakan Spec Work semacam ini.

Tegas Berbicara Harga

Sudah menjadi budaya kita untuk tidak terang-terangan ketika berbicara tentang uang. Namun, dalam proses kerja yang beresiko seperti mendesain di internet Anda dituntut untuk tegas. Jangan ragu untuk menyebutkan bayaran standar Anda. Semakin cepat Anda melakukannya, semakin cepat klien tidak serius yang mundur dan semakin sedikit waktu yang terbuang.

Kebijakan Pembayaran di Muka

Meminta deposit pembayaran di muka penting untuk menunjukkan keseriusan klien. Cara ini dapat secara efektif menghindarkan skenario buruk seperti klien menghilang setelah memperoleh file atau pembatalan di tengah-tengah projek.

[hr]

Kesimpulan

Bagi desainer, mendesain adalah pekerjaan. Bukan sekadar hobi atau hiburan. Jadi, selayaknya seorang desainer menganggap serius proses mendesain termasuk ketika bertransaksi dengan calon klien. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Pernahkah terjebak atau hampir terjebak oleh calon klien?

Iklan

22 thoughts on “Cara Saya Menghindari Tawaran Spec Work via Email

  1. saya pikir keputusan yang tepat.
    hanya saya berpikir (dan ini hanya ide). jika klien (spt yg diceritakan) bersungguh-sungguh menginginkan jasa anda (yg memang kita tak tahu), mengapa anda tidak membuat contoh gambar itu lalu di-resize kecil (ukurannya) yang tidak mungkin bisa dipakainya untuk apapun itu atau terlalu rumit untuk ditiru, dsb. dan dikirim padanya.
    dan jika dia suka (approve) mungkin dia menyetujui untuk membayar 50% sebagai uang muka.
    bagaimana tanggapan anda?
    makasih.
    (sorry bahasa jadi baku, agak susah jadi alay :D)

  2. Sesuai namanya, uang muka itu diberikan sebelum memulai projek. Kita bisa menyebutnya tanda jadi. Uang muka ini menjadi tanda keseriusan klien terhadap projek. Jika klien komitmen pada projek –yang ditunjukkan melalui uang muka–, maka selayaknya desainer pun komitmen untuk memberikan hasil terbaik.

    Seandainya saya membuat contoh desain, apa ada jaminan dia akan menerima hasilnya? Dari sudut pandang saya, saya yakin bisa memberikan hasil terbaik. Setidaknya, sekualitas dengan hasil karya di portfolio. Bagaimana dengan sudut pandangnya? Jika dia tidak suka (atau pura-pura tidak suka) dengan hasilnya, siapa yang mengganti kerja dan waktu saya? Uang muka juga berfungsi sebagai jaminan keamanan. Seandainya ada masalah, setidaknya saya memperoleh 50% dari total pembayaran.

    Jika memang yakin dengan kemampuan saya, calon klien tidak perlu ragu dengan persyaratan uang muka 50%.

  3. Di internet hampir semua transaksi, baik penjualan barang maupun jasa semua sistemnya pre order. Betul? Ada uang ada barang/ jasa. Cara yang Mas Jeprie terapkan dengan meminta DP 50% di muka saya pikir itu sudah jalan tengah. Bagi si penjual barang/jasa tentu terlalu beresiko kalau barang/ jasa keluar duluan dan bayarnya belakangan. Karena rata-rata identitas customer/klien belum jelas. Sementara kita kan sudah jelas siapa dan bagaimana portofolionya.

    Beberapa kali kasus yang sama, kalau saya kasusnya jualan barang terus ada customer yang nanya begini ke saya: “Kalau saya sudah membayar duluan lalu apa jaminan Anda tidak menipu saya?” Saya kemudian jawab. Coba sekarang dibalik, Anda jadi saya dan saya jadi Anda. Kalau misalnya barang dikirimkan duluan dan pembayaran belakangan terus apa jaminannya. Sama, tidak ada juga, kan?

    Kesimpulannya, kita memang harus tegas, Mas Jeprie. Dan sepanjang pengalaman saya berjualan di internet saya mulai hafal mana-mana orang yang serius mau beli dan mana yang tidak serius alias hanya nanya-nanya aja dan tidak berniat beli. Jadi adakalanya prinsip agak jaim, sedikit jual mahal itu perlu untuk membangun trust di internet. Saya seringkali menerapkan trik ini dan beberapa kali justru berhasil closing. 🙂

  4. Memang harus tegas. Sebetulnya tidak akan ada desainer berkualitas yang mau disuruh-suruh kerja tanpa ada jaminan dibayar. Kalau mau kerja dengan desainer berkualitas klien harus menyadari bahwa posisinya lebih rendah. Mereka bisa gampang saja menolak karena baginya kerjaan itu gampang, tidak perlu dicari.

    Kalau mau sistem spekulasi lebih baik langsung saja ke situs-situs kontes. Tapi, pasti hasilnya pun pas-pasan. Kita tidak bisa mengukur kualitas produk yang akan dihasilkan, berbeda dengan desainer yang sudah jelas portfolio-nya.

  5. Pengalaman ini bisa jadi pelajaran buat semua desainer, jangan sampai disepelekan!
    Saya pribadi pernah diminta mendesain logo dengan harga yang jauh dibawah standar, alasannya, “belum tentu logo nantinya bisa sesuai dengan selera saya”. Seharusnya, portfolio sudah cukup buat jadi bahan pertimbangan klien dalam memilih desainer.
    btw, David Airey juga punya pengalaman yg mirip : Responding to spec work requests

  6. Ya, saya pernah baca artikel itu. Di kolom komentar, David menyebutkan bahwa dia menolak semua pekerjaan yang memintanya mengerjakan contoh gratis.

    Daripada bekerja tidak jelas seperti ini, lebih menyenangkan jika bekerja yang benar-benar gratis (pro-bono). Misalnya untuk ormas kepercayaan kita, teman, atau saudara. Pekerjaan semacam ini tidak memberi kesan eksploitasi.

  7. Sepertinya mas jeprie *Terlalu tegas untuk hal ini.

    Bagi saya sih, akan saya desain tetapi saya membuat demonya terlebih dahulu..
    Waktu terbuah bagi saya? tentu saja tidak.. karena saya designer pemula, atau bisa dibilang bukan designer, saya masih bisa bekerja dan meluangkan waktu karena memang belum banyak project yang masuk sampai sekarang ini, dan sekalian saya bisa belajar lebih dahulu dengan desain sesuai prosedur klient dan mengasah kemampuan saya.

    Terus kalau proyek tidak diterima klien? biasanya saya akan menjadikannya sebagai “template” untuk desain lain..
    dan sering juga “template” tersebut berguna dan cocok bagi klien lain tanpa banyak waktu yang habis di kemudian hari untuk klient “baik”..

    *bahasa aneh tapi semoga dimengerti 😀

  8. Keputusan akhir memang kembali pada desainer sendiri. Jika dirasa pekerjaan ini tidak akan merugikan kita, tidak ada salahnya diterima. yang penting, kita harus mengetahui batas agar tidak sampai dieksploitasi.

    Saya pribadi lebih memilih mengerjakan pekerjaan gratis –istilahnya pro-bono— yang memang jauh dari kesan eksploitasi. Ini lebih menyenangkan daripada kerja untuk klien karena bebannya tidak besar.

  9. Jawaban Mas Jeprie ke Mas Ajir ini yang awalnya mau saya tanyakan dan sekarang terjawab. Artinya, meski kita harus profesional dengan mematok harga standar tapi di sisi lain juga ada penyeimbang. Masih bisa atau mau memberikan desain gratis kepada teman, saudara atau lembaga non komersial. 🙂 Setuju, yang seperti ini tidak ada kesan eksploitasi.

  10. Itulah pentingnya mematok harga secara professional. Kita akan punya waktu untuk mengerjakan projek-projek non-komersil yang memang sesuai dengan minat dan idealisme.

    Kalau kita terus-terusan obral harga, akhirnya ya terus menerus dikejar setoran. 🙂

  11. Yah, dijaman seperti ini gak cuman penjual barang atau jasa aja yang melakukan segala cara, sudah merambat ke pembeli pun pengen untung dengan segala cara. Tapi saya heran, ketika spec work sudah di informasikan ke segala penjuru yang ada, ketika hampir semua desainer tau hal ini masih berani aja ada orang yang mencoba – coba. Apakah tidak takut reputasinya jelek ?

  12. Halo Mas Jeprie dan semuanya, kayaknya saya masuk spec work neh, tolong pendapatnya ya. saya seorang desainer pemula, n dapat tawaran untuk mendesain produk secara freelance dengan honor perbulan. Dikontrak yang sudah diteken, saya simpulkan dari kontrak tersebut lebih menguntungka dia, tapi saya tidak masalah karena dengan 10 desain dan honornya masih masuk akal, walopun nanti tidak dibayar saya anggap nasib, toh cuma 10. Anggap sebgai portfolio. N honornya baru dibayar jika sudah mencapai target 10 desain. Tapi setelah pengiriman pertama desain saya dibilang kurang padahal saya kirim 12 desain saking semangatnya. Oh mungkin kurang alternative warna kali, saya kirim ulang lagi, tetep kurang juga. Ternyata yang mereka anggap 1 desain itu adalah satu tema, dalam satu tema ada 4 sampai 3 desain yang berbeda, total desain jadinya 32 desain, Saya jadi berpikir saya tidak mungkin buat 32 desain dengan harga segitu dengan resiko tidak dibayar( hubungan kerja terserah putus kapanpun alasan apapun). Sekarang menurut anda 1 desain itu apa? Seumpama desainlah 1 desain produk sepatu, dipikiran anda desain yang harus dibuat. Apakah ini termasuk cara menjebak dalam kontrak kerja? Mohon pendapatnya teman-teman semua ya, sekaligus sharing pengalaman bagi desainer newbie lainnya Terima Kasih

  13. menarik mas, tegas merupakan hal yang harus dimiliki setiap desainer agar tidak di remehkan calon klien, dari cara klien berkata lebih banyak desainer yang lebih baik menunjukkan dia bukan klien yang baik, di kiranya desainer akan merasa takut tidak di kasih project tersebut. Saya lebih baik gak dapat job dari pada mendapat klien seperti itu.

  14. cara klien berkata lebih banyak desainer yang lebih baik menunjukkan dia bukan klien yang baik

    Ya, saya juga berpikir begitu. Kalau memang dari awal dia berpendapat saya kurang bagus, kenapa mau menghubungi saya? Jika memang ada yang lebih baik, silakan saja kerja dengan mereka. Tapi, jangan harap mereka mau dijebak. Kualitas kerja lebih bagus tentu berarti standarnya lebih tinggi lagi.

  15. Kenapa tidak minta DP 50% di awal bulan? Bilang saja bahwa kita butuh bukti keseriusan klien.

    Kalau menurut saya, ini jebakan. Seharusnya dalam kontrak jelas disebutkan definisi dari desain yang dimaksud, jumlah revisi, pembatalan, dst.

  16. Kayaknya saya terlalu gampang percaya neh, Pikiran saya cuma 1, “Ok saya percaya kalopun anda macam2 toh juga 10 desain” Kayaknya ini pengalamn berharga untuk kedepannya lagi jika menerima tawaran, Mungkin para desainer newbie juga harus dapat pembelajaran tentang bagaimana menjalin kontrak kerja yang baik dengan klien baru. Kalo Definisinya sendiri kalo qt baca akan mikir 1 desain gambar. Tapi kalo definisinya dpaksain, jadi tema kayaknya bisa juga mas, makanya setelah mengalami ini saya berpikir ini ngejebak ya. Mas Jeprie gmana kalo posting tips dan trik tentang menjalin kerja kontrak yang baik dimana menguntungkan kedua belah pihak, biar nantinya teman2 yang masih awam bisa bedain mana yang serius, mana yang ngejebak, dan mana yang benar nipu. hehehehehe:), cuma usul mas, Thanks pendapatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s