Persiapan Dalam Menghadapi Penulis Tamu

Anda sudah menjalankan situs pribadi untuk beberapa bulan. Ada banyak komentar di setiap post, sering dikunjungi oleh blogger senior, sering dijadikan referensi dalam posting blog, link situs Anda muncul di blogroll. Anda pikir sudah saatnya mengajak orang lain untuk ikut berkontribusi di blog. Jadi, Anda menulis posting mengumumkan bahwa situs ini siap menerima penulis tamu. Anda duduk tenang dan bersiap-siap menunggu kiriman tulisan. Sayangnya, ternyata tidak segampang itu.

Beberapa bulan lalu saya menulis sebuah posting membahas beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menerima tawaran menulis tamu. Intinya, seorang penulis harus terlebih dahulu memikirkan secara matang keuntungan yang dia peroleh dari menulis tamu. Malah, saya lebih menyarankan untuk menolak tawaran menulis tamu jika ada banyak keraguan. Terdengar kejam? Betul sekali. Saya mengatakan ini berdasarkan pada perspektif seorang penulis komersil. Di artikel ini, saya akan membahas tema yang sama namun dari sudut pandang berbeda, persiapan yang diperlukan blogger untuk menerima penulis tamu.

1. Tingkatkan Kualitas Situs

Perhitungannya sederhana. Jika kualitas situs Anda buruk, maka Anda tidak akan pernah bisa menarik penulis tamu berkualitas. Seandainya ada yang tertarik, kualitasnya pun pasti akan seburuk Anda atau bahkan lebih buruk. Jadi, jika ingin memperoleh penulis tamu berkualitas mulailah dengan meningkatkan kualitas posting Anda.

Dengan melakukan ini, Anda telah menentukan standar tulisan yang akan dimuat di situs. Calon penulis otomatis menyadari bahwa tulisannya hanya akan diterima jika berkualitas minimal sama atau lebih baik dari tulisan yang telah diterbitkan. Secara tidak langsung Anda juga telah melakukan proses seleksi dan beban Anda berkurang untuk menolak tawaran tulisan yang masuk.

2. Mempersiapkan Pembayaran Penulis

Jika situs Anda bertujuan komersil, sangatlah tidak pantas jika tidak ada sedikit pun bayaran bagi para penulis tamu. Ini berarti memanfaatkan penulis demi keuntungan egois diri sendiri. Jangan pernah berfikir bisa mengambil tulisan gratis dan mengambil keuntungan darinya! Di situs besar, harga per artikel berkisar antara 30-500 USD. Sepengetahuan saya, umumnya tutorial dihargai lebih mahal dari tulisan biasa.

Bagaimana jika situs Anda tidak komersil dan murni hanya untuk berbagi saja? Mudah saja, calon penulis tamu pasti sudah menyadarinya sejak awal. Sepintas pun, situs yang murni untuk berbagi akan terlihat berbeda. Tidak akan ada banner iklan, tidak ada google adwords, atau link referral. Kalaupun ada, jumlahnya akan sedikit dan tidak begitu mencolok. Untuk mempermudah, jelaskan sebelumnya bahwa Anda tidak sanggup membayar disertai dengan alasan-alasan yang logis.

Bagaimana jika situs Anda memang dirancang untuk komersil namun belum sanggup membayar penulis tamu? Ya jangan mengundang penulis tamu! Ini sama saja dengan mencari untung sebesar-besarnya tanpa ingin mengeluarkan modal. Eksploitasi adalah praktek yang jahat. Selain itu, penulis berkualitas tidak akan tertipu oleh trik serendah ini.

3. Memperbaiki Desain Situs

Salah satu tujuan penulis tamu adalah menumpang popularitas situs yang ditujunya. Ini bisa diperoleh melalui link balik ke situs atau jaringan sosialnya. Jadi, pastikan desain situs Anda bisa mengakomodasi ini. Praktek yang umum adalah menambahkan ruang biografi dan link penulis di bagian akhir halaman. Sebagai nilai tambah, Anda bisa memperbesar avatar, menonjolkan link, dan menandai komentarnya agar penulis terlihat semakin menonjol.

Berikut adalah beberapa situs dengan desain yang sangat baik bagi penulis tamunya. Smashing Magazine membuat tombol khusus untuk situs dan twitter penulisnya.

persiapan-menghadapi-penulis-tamu-1.jpg

WebDesignFan menyimpan profil penulis di sidebar tepat di samping judul artikel.

persiapan-menghadapi-penulis-tamu-2.jpg

Design Instruct menyimpan profil penulis tepat di bawah judul artikel sehingga lebih terlihat oleh pembacanya. Komentar penulis di semua post ditandai latar khusus dengan tulisan “Contributor” di bawahnya.

persiapan-menghadapi-penulis-tamu-3.jpg
persiapan-menghadapi-penulis-tamu-4.jpg
Belajar Web Design membuat tombol khusus untuk halaman twitter penulis dan menuliskan beberapa tweet terakhirnya. Gravatar para penulis tamu juga dipamerkan di sidebar.
persiapan-menghadapi-penulis-tamu-5.jpg
persiapan-menghadapi-penulis-tamu-6.jpg
Berikut adalah dua contoh tampilan situs yang menerima penulis tamu namun tanpa persiapan di sisi desain. Hasilnya, penulis tamu tidak terlihat menonjol.

4. Mempersiapkan Standar Penulisan

Untuk mempermudah penulis, pastikan blog Anda telah memiliki standar penulisan. Misalnya, di blog ini semua sub judul ditulis dalam Heading 3, sub-sub judul ditulis dalam Heading 4, semua sub judul dengan tema berbeda dipisahkan oleh garis horizontal, lebar gambar tidak lebih dari 600 px, setiap artikel disertai thumbnail berukuran 200 x 200 px, dst.

Agar lebih mudah lagi, siapkan template penulisan dalam sebuah file. Sertakan juga keterangan tentang aturan tata bahasa dan hal-hal lain yang mungkin diperlukan. Sebagai contoh, di situs ini shortcut ditulis dengan spasi, misalnya shortcut perintah Open ditulis Ctrl + O dan bukan Ctrl+O. Anda bisa membaca standar tulisan DesainDigital di file ini.

Standar penulisan ini sangat penting. Selain mempermudah penulis tamu, ini akan mempermudah Anda –pemilik blog– ketika mengedit tulisan.

Kesimpulan

Bagi sebagian mungkin persiapan ini terlalu rumit. Namun, saya rasa ini wajar jika Anda ingin memperoleh tambahan posting yang berkualitas. Jika Anda tidak mau melakukan satu pun persiapan yang disebut di atas namun tetap membuka lowongan penulis tamu, saya rasa kita sudah bisa menebak hasilnya. πŸ˜‰

Iklan

23 thoughts on “Persiapan Dalam Menghadapi Penulis Tamu

  1. Eksploitasi adalah praktek yang jahat.

    Haha, like this! πŸ™‚

    Sepertinya saya nggak bisa berkomentar banyak, sedikit sharing saja. Saya pernah menjumpai sebuah blog (lokal, personal) yang menerima tulisan tamu. Tulisan tersebut bagus, dan blog tersebut juga bagus, blog tersebut nonprofit.

    Selang beberapa bulan, pemilik blog memutuskan untuk menutup blognya. Kira-kira bagaimana perasaan penulis tamu tersebut?

    Yeah, ketika kita menerima penulis tamu — terutama bagi mereka yang sukarela menyumbang konten — secara langsung tanggungjawab kita menjadi lebih besar dalam mengelola blog.

  2. Masukan yang bagus mas, terutama poin tentang desain posisi nama dan profil sang penulis. Penempatan di awal tulisan mungkin baik jika ditinjau dari sisi kemudahan pembaca mengetahui dengan cepat tentang nama penulis dan link blog/situsnya.

    Namun saya rasa penempatan di akhir tulisan dalam kotak khusus lebih baik. Apalagi jika disertai foto penulis dan profil singkatnya. Untuk anchor-text pada link situs/blog penulis, menurut saya lebih baik ditulis berupa url lengkap. Contohnya seperti pada situs belajarwebdesign.com itu. Dengan demikian, pengunjung/pembaca tulisannya akan lebih mudah mengingat atau mengenali link situs/blog sang penulis. Harapannya, pembaca bisa terdorong untuk mengklik link tersebut.

    Kadang saya menemukan anchor-text link penulis yang kurang deskriptif dan kemungkinan untuk diklik kecil sekali. Saya rasa hal sepele ini cukup penting untuk diperhatikan oleh pembuka lowongan penulis tamu.

  3. @Ardianzzz,
    Termasuk blog yang pernah memuat serial wawancara dengan blogger-blogger terkemuka. Sayang sekali jika akhirnya blog tersebut ditutup, padahal isi wawancaranya rata-rata inspiratif. Sebaiknya pikirkan juga kerelaan sang blogger yang bersedia diwawancarai. Dia sudah mencurahkan waktu dan energinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Belum lagi jika berharap isi wawancaranya menjadi salah satu sarana branding dirinya. Kalau tiba-tiba ditutup, apa tidak kecewa tuh.

  4. Peran penulis tamu penting dan pemilik blog sudah seharusnya menghargai mereka. Penghargaan bisa dengan membayar dan/atau dengan membantu mengangkat reputasi mereka.

    Tentu saja tanggung jawab pemilik blog jadi lebih besar karena dia tidak lagi mengurusi dirinya sendiri namun juga orang lain, apalagi kalau gratis. Seharusnya pemilik blog memperhitungkan waktu mereka. Kalau tidak ada tanggung jawab, saya katakan itu mengeksploitasi dan jangan berharap ada penulis berkualitas yang tertarik.

  5. Sebuah opini yang menarik, Mas Jeprie. Ini bisa sebagai sudut pandang berbeda buat siapa saja yang berniat menerima dan menjadi penulis tamu dari dan di blog lain agar memahami untung ruginya serta tentu saja konsekuensinya masing-masing, baik bagi si penulis tamunya maupun blog yang menerima penulis tamunya. Seringkali blogger mengabaikan poin-pon di atas itu sebelum memutuskan menjadi dan menerima penulis tamu.

    Boleh saya cerita sedikit tentang pengalaman saya? Saya pernah dua kali menjadi penulis tamu di blog lain. Bukan sebagai penulis tamu profesional seperti yang biasa Mas Jeprie lakukan. Tidak ada motif tertentu seperti untuk menjadi terkenal apalagi dapat duit dari menjadi penulis tamu waktu itu. Hanya sekedar untuk pertemanan saja. Saya menghormati bloggernya dan bloggernya pun tulus meminta saya bukan karena memanfaatkan saya tapi sekali lagi hanya untuk pertemanan saja. Untuk sebuah pertemanan yang tulus seperti ini saya pun bersedia melakukannya. Saya tak menolak.

    Seperti beberapa hari yang lalu ada seorang sahabat blogger saya meminta agar dibuatkan sebuah artikel advertorial. Saya menyanggupinya. Itung-itung bagi saya juga untuk mempertajam insting menulis saya. Dan hasilnya, advertorial saya lumayan bisa menghasilkan penjualan buat sahabat saya tersebut setelah dia muat di notes FB-nya.

  6. Pak Joko,
    Saya sering menjadi penulis tamu di blog lain, tepatnya penulis komentar. πŸ˜€

    Nope, pada sebuah “conversational blog” tidak dapat dipungkiri bahwa komentar pembaca merupakan konten yang cukup berarti. Terkadang tulisan yang kita buat bisa jadi kalah bagus dengan komentar-komentar yang masuk. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi dari user tidak harus dalam bentuk tulisan tamu, komentarpun bisa menjadi bentuk kontribusi yang bermanfaat.

    Mengacu pada bahasan di atas, sudah sepantasnya memberikan apresiasi pada user yang telah mensupport blog kita. Kalau untuk komentar sih, mungkin tidak terlalu muluk. Menanggapi komentar yang masuk itu adalah apresiasi terbaik, lainnya seperti menampilkan link (URI) dan Gravatar yang proporsional — oops, mohon maaf bagi pengguna Blogger™ he he… —. Boleh dikatakan standar-standar saja sih. πŸ˜€

    Saya pernah bereksperimen dengan kolom komentar, yeah, sekedar eksperimen saja. Saya tidak pernah berniat menghapus kolom komentar atau komentar-komentar terdahulu. πŸ˜€

  7. Ardianzzz,

    Nah, saya sempat menyesalkan ketika mas Ardianzz menutup kolom komentar dan hal itu menyebabkan terhapus/tidak munculnya komentar-komentar yang sudah masuk pada postingan terdahulu. Padahal komentar-komentar yang masuk bisa jadi sangat berharga dan memperkaya konten yang sudah mas tulis.

    Saya rasa hal tersebut sama artinya dengan kita mencampakkan atau tidak menghargai mereka yang sudah meluangkan waktunya untuk memperkaya konten kita. Syukurlah kalau niatnya cuma karena ingin eksperimen πŸ˜‰

  8. Sudut pandang dari seorang praktisi sangatlah menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan… (lapangan maya maksudnya, haha..)
    Sebuah situs yang menerima penulis tamu seharusnya memikirkan untuk membesarkan nama penulis2 tamunya dengan membuat bagian khusus biografi singkat penulisnya…
    Kalau tidak menampilkan sama saja tidak menghargai karyanya, hanya menghargai dengan uang saya rasa belum cukup…

  9. Tidak perlu meminta maaf, Mas Ardian. Blogspot memang buruk kalau sudah urusan menampilkan URL dan Gravatar. Dan akan menjadi semakin buruk jika si pengkomentar lebih memilih ingin mendapatkan backlink dengan meninggalkan nama dan URL blognya saja dalam meninggalkan komentar ketimbang nama dalam profile bloggernya yang bisa memunculkan foto profilenya.

    Sayangnya, sebagian besar pengkomentar di blog blogspot lebih memilih itu (yang buruk) ketimbang menampilkan profile bloggernya dalam berkomentar. Jadi tidak bisa terlalu disalahkan enginenya karena toh pengkomentar lebih memilih begitu. Kecuali kalau memang tak punya akun di blogspot memang tak ada pilihan. πŸ™‚

  10. Kalu saya memilih menggunaka kemudahan untuk menjadi anggota di sebuah blog, terkedang mau jadi penulis tamu repot juga, tapi kalu di berikan fasilitas untuk menjadi anggota dan membuat blog juga forum itu lebih baik saya rasa. Asalkan muat databasenya. Kalu saya sih masih amatiran jangankan penulis tamu menulis di blog sendiri aja ga ada mutu dan masih acak-acakan.

  11. Kalau tidak salah ini mxwan.web.id ya?

    Walaupun sekadar wawancara, apalagi untuk ukuran blogger professional, seharusnya kita lebih bertanggung jawab karena telah mengambil waktunya. Tapi akhirnya, ini tergantung pada keputusan pemilik situs.

  12. Anchor-text sepertinya tergantung pada keinginan pemilik situs. Beberapa mungkin menuliskan langsung nama situs, sebagian lagi hanya menulis View Website. Beberapa lagi malah tidak menuliskan langsung link penulis tapi menyimpannya di halaman penulis, misalnya Psdtuts+. Saya biasa menyiasati ini dengan menyertakan alamat situs dalam biografi singkat.

    Untuk posisi, saya lebih menyukai penempatan di awal tulisan setelah judul seperti di Design Instruct. Ini membuat penulis terlihat sangat menonjol. Karena bagian atasnya hanya sekadar ringkasan, bukan inti artikel, saya rasa ini akan tidak mengganggu pembaca.

  13. Saya juga pernah beberapa kali menulis tamu gratis. Pertama di richworks.in, kedua di Marga Satrya. Keduanya saya lakukan karena alasan personal. Saya mengenal pemilik kedua blog ini dan sering ngobrol dengan mereka.

    Khusus Richworks, traffic situsnya tinggi dan cukup dikenal, saya yakin bisa memperoleh sesuatu kalau nulis di sana. Betul saja, setelah nulis di sana, beberapa hari kemudian saya memperoleh tawaran nulis tutorial dengan bayaran lumayan tinggi.

    Menulis gratis boleh saja, ga perlu ditolak, selama ada alasan yang jelas. Salah satunya poin paling penting adalah kredibilitas situsnya. Jangan pernah mau nulis di situs yang isinya google adsense semua (atau satu iklan salep oles pembesar p***s).

    Bahasan lebih lengkap tentang faktor yang perlu dipertimbangkan bisa dilihat di artikel ini.

  14. Faktor paling penting bagi saya dalam menerima tawaran penulis tamu adalah reputasi situs dan berikutnya uang yang ditawarkan.

    Beberapa situs desainnya sangat buruk bagi penulis tamu namun memiliki reputasi yang sangat bagus di mata komunitasnya. Misalnya WebDesignerDepot dan DesignM.ag. Kekurangan ini bisa tertutupi oleh reputasi situsnya.

  15. Memberi fasilitas agar pengunjung mendaftar sendiri, memberinya blog sendiri, atau membuat forum saya rasa tidak akan cocok untuk kebanyakan situs. Makin banyak fasilitas artinya maintenance situs semakin rumit.

    Ini paling hanya cocok untuk situs yang sangat besar, bukan blog kebanyakan.

  16. Untuk memperoleh komentar yang berkualitas tentunya tulisannya sendiri harus berkualitas. Saya sendiri saat ini jarang berkomentar, sayang rasanya menghabiskan waktu untuk mengomentari artikel yang kurang bermanfaat.

  17. Tidak di dunia nyata di dunia maya pun juga berlaku.. Komunitas memang mempunyai peranan penting dalam suatu keberhasilan. Selain itu juga harus diimbangi dengan kompetensi yang sesuai

  18. Situs besar memang sangat pilih-pilih Mas Dhany. Mereka sudah punya standar kualitas sendiri, tidak akan menerima tulisan yang biasa-biasa saja.

    Komunitas memang satu hal yang menjadi kelebihan situs besar. Kualitas situslah yang membuat komunitas bertahan. Sebaliknya, komunitas adalah faktor yang mendorong situs bisa bertahan, baik melalui iklan atau dukungan lain secara tidak langsung.

  19. Saya yakin Mas Ardianzzz bisa melakukannya. Banyak artikel di Ardianzzz yang menarik untuk didiskusikan. Langkah pertama adalah mulai dengan menulis artikel secara rutin, minimal seminggu sekali.

  20. Saya pikir ini bukan bergosip. Ini contoh nyata bagaimana pengaruhnya ketika situs dibuka untuk penulis tamu.

    Tenang saja, situs ini tidak akan berubah menjadi blog infotainment. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s