Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer

[box type=”note”]Artikel ini cukup panjang. Sebelum berkomentar, saya harapkan Anda membaca artikel ini terlebih dahulu. Di akhir artikel, saya juga menuliskan beberapa link yang bisa dijadikan rujukan tambahan.[/box]

Topik Spec Work memang cukup kontroversial. Sebagian menolak keras sementara yang lain menyambutnya dengan gembira. Di artikel ini, saya akan menyajikan beberapa argumen kenapa Spec Work buruk bagi desainer dan harus Anda hindari.

[hr]

Apa itu Kontes Desain atau Spec Work?

Spec adalah singkatan dari speculation atau spekulasi. Spec Work berarti bekerja dengan kemungkinan dibayar. Tentu saja, ini berarti ada kemungkinan Anda tidak akan dibayar. Dari definisi saja Spec Work sudah terlihat tidak masuk akal. Maukah Anda bekerja dengan kemungkinan dibayar? Saya yakin tidak. Di Indonesia, Spec Work lebih dikenal sebagai Kontes Desain. Sebetulnya kontes desain adalah sebagian dari Spec Work. Oleh karena itu, dalam artikel ini saya akan menggunakan istilah asli, Spec Work.

Berikut adalah skenario Spec Work yang sering ditemukan:

  1. Perusahaan mengumumkan bahwa mereka membutuhkan logo baru. Semua desainer diundang untuk mengirimkan logo dan yang terbaik akan dipilih sebagai pemenang dan dibayar.
  2. Situs kompetisi desain membuka peluang bagi perusahaan untuk mengumumkan projek yang dibutuhkannya, anggota komunitas situs akan mengirimkan mengirimkan karya terbaiknya. Selanjutnya pihak perusahaan akan memilih entri terbaik dan pemenangnya akan dibayar.
  3. Seseorang membutuhkan pekerja, untuk proses ini dia merekrut beberapa desainer melalui kontes. Setiap desainer diharuskan melakukan pekerjaan tertentu secara gratis lalu yang terbaik akan dia pilih.
  4. Dalam surat kontrak, klien memasukkan syarat yang memperbolehkannya meminta desainer melakukan pekerjaan tambahan. Syarat tambahan ini tidak dijelaskan secara detail dan bisa multi tafsir.
  5. Seseorang mengontak desainer dan berniat menyewanya. Namun, untuk memastikan bahwa desainer ini bisa bekerja sesuai harapannya, dia meminta desainer untuk melakukan sedikit pekerjaan gratis.

Faktanya, Spec Work tetap muncul subur. Situs-situs penyelenggara kontes desain seperti 99designs dan crowdSpring tidak pernah kekurangan klien atau desainer. Alasannya sederhana, harga murah. Melalui kontes desain, perusahaan bisa memperoleh puluhan bahkan ratusan alternatif logo hanya untuk $50. Padahal, pasaran logo minimal $200, harga itu untuk satu desainer.

[divider]

Desain Bukan Komoditas Tetapi Ide

Satu hal dasar yang sering dilupakan adalah desain bukan komoditas. Desain bukan barang yang bisa begitu saja dikeluarkan. Desain sebetulnya berupa ide dan sekali terpapar keluar, sangat rawan diduplikasi. Dalam kontes desain, kita diminta menyerahkan ide final begitu saja. Ini resiko besar karena tidak ada kepastian bahwa ide kita aman di tangan penyelenggara. Sering kali, penyelenggara kontes tidak menyebutkan secara pasti apa yang akan mereka lakukan dengan entri desain yang diterima. Dalam beberapa kasus, penyelenggara bahkan berani mengklaim bahwa semua entri yang diterima menjadi milik mereka.

Berbeda dengan produk, Anda bisa saja mengeluarkan produk yang akan dijual. Walaupun orang lain bisa melihatnya, perlu waktu untuk menduplikasinya. Ide desain bisa saja dengan mudah diduplikasi. Anda bisa meniru logo Pepsi hanya dalam 10 menit, bandingkan dengan proses desain logo Pepsi yang menghabiskan 1 juta dollar.

[divider]

Contoh Buruk Spec Work

Berikut adalah beberapa contoh buruk tentang Spec Work:

  1. Lomba Desain Logo dan Desain Stiker UM 2010. Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan lomba desain logo dan stiker. Dalam ketentuannya disebutkan semua karya yang masuk (tidak harus menang) otomatis menjadi milik panitia.
  2. Lomba Kompetisi Desain Logo Pilkada Wonosobo Indonesia 2010. Dalam ketentuan teknis disebutkan “Karya yang sudah masuk tidak dikembalikan dan menjadi hak milik KPU Kabupaten Wonosobo.”
  3. Lomba Desain Logo Mass Rapid Transit Jakarta. Dalam ketentuan lomba tertulis “Keputusan dewan juri adalah mutlak, dan dewan juri berhak untuk membatalkan keseluruhan proses penjurian apabila seluruh karya yang masuk tidak sesuai dengan yang diharapkan.” Kontes dapat dibatalkan jika hasilnya dianggap tidak sesuai harapan, ini berarti ketidakpastian bagi desainer.
  4. Spec Watch melaporkan salah satu kontestan logo di 99designs menggunakan resource vektor gratis. Di crowdSpring, pemenang kontes menggunakan resource vektor yang sama tanpa diedit sama sekali.
  5. David Airey menyebutkan penemuannya tentang desainer di bawah umur di 99designs. Padahal, 99designs mengklaim sebagai tempat berkumpulnya desainer professional dengan harga terjangkau.
  6. Pemenang kontes logo di crowdSpring menggunakan ikon dari iStockphoto. Padahal, iStockpoto melarang penggunaan karyanya dalam logo. Yang membuat lebih rumit, ikon itu tidak dibeli dari iStockphoto tapi hasil copy dari preview-nya dan masih mengandung trademark.
  7. Projek logo ditarik setelah memperoleh 21 karya. Projek ini dihargai $199.

Untuk info lebih lengkap tentang praktik buruk Spec Work, Anda bisa melihatnya di twitter @specwatch.

[divider]

Alasan untuk tidak mengikuti Spec Work

Saya tegaskan sekali lagi bahwa Spec Work tidak baik untuk bisnis desain. Berikut adalah beberapa alasan untuk tidak mengikuti Spec Work:

1. Tidak ada Kepastian

Sukarelawan bekerja tanpa mengharapkan imbalan. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebaikan. Yang harus kita perhatikan adalah, desainer dalam kasus Spec Work bukan sukarelawan tapi korban. Kita kembali lagi ke pertanyaan sederhana, maukah Anda bekerja tanpa kepastian akan dibayar? Saya tidak bisa membayangkan seorangpun yang akan menjawab ya. Coba bandingkan dengan standar kerja normal, desainer biasanya baru akan bekerja setelah menerima 50% pembayaran di muka.

2. Banyak Persaingan

Persaingan memang bagus karena memaksa kita untuk meningkatkan skill. Tapi ini tidak berarti kita perlu memperberat kondisi dengan mencari persaingan yang tidak perlu. Setiap hari, secara tidak langsung kita juga bersaing dengan desainer lain. Desainer harus selalu mencari informasi baru, aktif di jejaring sosial, meningkatkan skill, dan mempromosikan portfolio. Berkompetisi melalui kontes hanyalah menambah beban yang tidak perlu.

3. Berpotensi Menurunkan Kualitas

Adanya persaingan membuat proses kerja tidak nyaman. Dalam kerjanya, desainer tidak begitu saja lompat ke Photoshop dan mendesain. Sebelumnya diperlukan riset untuk memperoleh hasil terbaik. Proses riset ini tidak mudah, bisa jadi dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh hasil yang sesuai harapan. Bagaimana desainer bisa melakukan risetnya dengan tenang sementara tidak ada kepastian bahwa dia akan dibayar untuk itu? Bagaimana desainer bisa bekerja dengan tenang jika dibayangi oleh pikiran bahwa siapa pun bisa dengan mudah merebut projeknya?

4. Berpotensi Pada Praktek Tidak Sehat

Tidak adanya kepastian dan banyaknya persaingan tidak mendukung desainer untuk bekerja secara optimal. Kondisi ini membuat sebagian desainer mengambil cara mudah dengan menjiplak karya lain atau menggunakan resource jadi. Akhirnya, besar kemungkinan desain yang dihasilkannya tidaklah unik. Padahal keunikan adalah salah satu hal yang membuat sebuah desain istimewa.

5. Menjatuhkan Pasaran

Lagi-lagi masalahnya adalah persaingan. Spec Work sering kali menarik minat para desainer pemula yang portfolionya tidak cukup bagus untuk menarik minat klien potensial. Desainer pemula semacam ini sering kali menjatuhkan harga karena menyadari bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan harga normal. Secara umum, tindakan ini akan menjatuhkan pasaran desain. Sayangnya, banyak pihak yang tidak menyadari bahwa desain itu mahal. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan –harga software, investasi pendidikan, waktu yang dihabiskan untuk mempelajari skill desain, kebutuhan desainer– bukan sekadar proses desain di depan komputer.

[divider]

Alternatif Spec Work Bagi Desainer Pemula: Bekerja Pro Bono

Spec Work sering difavoritkan desainer pemula dengan alasan untuk mencari pengalaman dan membangun portfolio. Desainer pemula memang lebih sulit untuk memperoleh klien. Klien, terutama klien besar, akan memilih menghabiskan lebih banyak dana untuk desainer handal daripada mengambil resiko dengan desainer pemula.

Contoh termudah misalnya dalam desain buku. Buku biasanya dicetak di atas 2.000 buah. Seandainya ada kesalahan desain, maka ada 2.000 buku yang gagal. Ini biaya yang sangat besar. Jika Anda ingin diterima sebagai desainer buku, skill InDesign dan ijazah saja dijamin tidak akan cukup. Klien pasti menginginkan desainer yang sudah berpengalaman, yang memiliki bukti bahwa desainnya sukses dicetak.

Jika Anda di posisi desainer tadi, maka cara terbaik adalah dengan bekerja pro bono. Pro bono maksudnya bekerja gratis dengan tujuan mulia. Dalam kasus desainer buku, Anda bisa mencari LSM non-profit lokal yang ingin menerbitkan buku dan menawarkan jasa desain secara gratis. Lewat proyek ini, Anda akan memperoleh pengalaman dan sekaligus membangun portfolio. Siapa tahu, LSM ini bisa jadi akan merekomendasikan Anda pada rekannya yang lain. Jika terjadi, ada point tambahan yang Anda peroleh, membangun jaringan.

Pekerjaan Pro Bono yang paling mengesankan bagi saya adalah mendesain buku. Saat ini, semua buku saya di Elex Media Komputindo didesain sendiri. Elex tidak membayar desain saya, namun saya memperoleh pengalaman yang jauh lebih besar. Semua keahlian InDesign yang saya pelajari dicetak dalam lebih dari 8.000 buku! Saya bereksperimen dengan berbagai jenis desain dan tidak mengeluarkan sedikit pun biaya cetak. Dengan harga per buku minimal Rp. 80.000, saya memperoleh kepercayaan mengelola projek senilai lebih dari 640 juta!

[divider]

Kerugian Bagi Perusahaan yang Menjalankan Spec Work

Perusahaan seharusnya menghindari kontes desain. Kontes desain sering kali menarik minat desainer pemula yang kualitasnya masih diragukan. Perusahaan seharusnya memiliki kontrol penuh terhadap hasil yang akan dia peroleh, caranya dengan menyewa desainer professional. Desainer professional bisa dilihat dari kualitas portfolionya. Desainer professional jelas memiliki skill dan pengalaman lebih luas. Sesuai namanya, mereka bekerja secara professional. Mereka akan mampu menggabungkan filosofi perusahaan ke dalam desainnya.

Dengan melakukan kontes desain, perusahaan melepaskan kontrol terhadap kualitas desainer dan desain yang diperoleh. Perusahaan tidak bisa memilih logo yang baik hanya dari satu gambar saja. Perusahaan harus melihat hasil karya lain desainer dari portfolionya untuk memastikan kualitas desain. Bagaimana jika di kemudian hari ada perubahan konsep? Bagaimana jika perusahaan berkembang ke sektor lain. Sanggupkah desainer pemenang mengadaptasi itu semua?

Pilihan paling logis adalah menggunakan jasa desainer professional. Memang tidak murah, namun kualitasnya pasti jauh lebih meyakinkan. Bagaimana dengan perusahaan kecil yang tidak memiliki cukup budget untuk menyewa desainer handal? Solusinya adalah dengan langsung mencari desainer yang bisa bekerja sesuai dengan budget. Perhatikan portfolio-nya, jika dirasa sanggup memberikan hasil yang memuaskan maka sewa secara langsung. Dengan cara ini, perusahaan bisa secara langsung memberikan masukan pada desainer dan mengawasi proses desain secara keseluruhan. Saya yakin masukan ini lebih baik daripada sekadar beberapa paragraf di dalam penjelasan kontes.

[divider]

Menjalankan Kontes Desain Tanpa Spec Work

Perlu ditegaskan bahwa saya tidak dalam posisi menolak sama sekali kontes desain. Kontes desain tidak selamanya terkategorikan Spec Work. No!Spec membahas beberapa kriteria yang menjadikan sebuah kontes desain terkategorikan Spec Work.

  1. Apakah desainer dibayar setara dengan proses kerja normal di bawah kontrak?
  2. Apakah desainer dibayar setara dengan keahliannya?
  3. Apakah semua file dan lisensinya dikembalikan sesuai dengan persetujuan desainer, terutama bagi yang kalah?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah tidak, maka kontes itu terkategorikan Spec Work dan saya sarankan Anda menghindarinya.

[hr]

Kesimpulan

Jika Anda desainer pemula, saran terbaik saya adalah mulailah dengan membangun jaringan. Jika Anda memiliki desain berkualitas tinggi, sumbangkan saja ke situs besar. Situs desain semacam Psdtuts+, NaldzGraphics, dan WeGraphics akan senang jika menerima desain berkualitas apalagi gratis. Walaupun tidak dibayar, Anda akan terekspos ke hadapan ribuan pembacanya. Sebagian di antaranya, bisa jadi merupakan klien potensial.

Jangan dulu berharap menerima dollar. Segala sesuatu ada waktu dan tahapannya. Langkah pertama bagi desainer pemula adalah meningkatkan kualitas, networking, dan membangun citra (branding). Jika Anda sudah dikenal sebagai desainer berkualitas, pasti mereka akan mendatangi Anda.

[hr]

Referensi

Berikut adalah beberapa referensi dari para pendukung dan penolak Spec Work:

Penolak Spec Work

Pendukung Spec Work

[hr]

Giliran Anda berbicara

Anda sudah membaca argumen saya di atas, sekarang giliran Anda untuk berpendapat. Bagaimana menurut Anda tentang Spec Work?

Iklan

122 thoughts on “Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer

  1. artikel yg bagus jep ,… saya baru mendengar istilah ini, tetapi sering mendengar lomba2 seperti ini,… dan saya juga kurang setuju,…. sama dgn alasan diatas.

    Dan di indonesia….. “Spec work” ini banyak juga di gunakan di lomba fotografi,…. misal: ada lomba foto gedung A / produkt A ,… dan suka ada ketentuan,.. bahwa foto yg diserahkan milik panitia, dan boleh di gunakan utk kebutuhan komersial, meskipun hak cipta milik fotografer,…. mirip banget lah sama kasus yg sering terjadi. Dan kadang lucunya,… peserta diharuskan membayar pendaftaran lomba… dan menyerahkan hasil foto pula.
    Memang buat pemula memang ajang mencari pengalaman, ….
    Memang harus hati2 kalau mau mengikutin lomba foto di indonesia πŸ˜€

    Jadi yah akhir2nya sama saja… biar perusahaan irit….. dibikinlah perlombaan πŸ˜€

  2. nice post! sebenarnya, yg paling dirugikan dalam spec work adalah perusahaan penyelenggara kontes. Tidak ada solusi, konsultasi, dan pedoman menggunakan desain seperti yang bisa diperoleh klien jika menyewa profesional. Menggelar kontes desain seperti mencari clipart di google, yang hasilnya adalah visual yang hanya bisa digunakan sebagai pemanis, tapi lemah secara karakter sehingga tidak mampu mewakili entitas perusahaan.

    Dari sisi desainer, specwork membuang banyak waktu dengan kemungkinan tidak dibayar. Namun specwork tidak selamanya buruk. Bagi pemula, specwork bisa digunakan untuk melatih kemampuan berfikir kreatif dan memecahkan masalah, ketika sudah mahir, saatnya terjun mencari projek yang nyata dengan kepastian dibayar dan menjadi profesional. Pertimbangan untuk mengikuti specwork bisa dipulangkan kepada masing-masing desainer, seberapa jauh mereka menghargai dirinya sendiri.

  3. Itu sebetulnya yang paling menyebalkan dari kontes. Tanpa kepastian dibayar, kita diminta begitu saja menyerahkan karya yang (dalam banyak kasus) kemudian otomatis menjadi milik mereka. Berbeda dengan kondisi normal, kita bisa menawarkan ide kita pada satu pihak. Jika tidak diterima, karya ini tetap menjadi milik kita dan bebas ditawarkan pada pihak lain. Jadi, memang resiko kontes semacam ini tinggi.

    Saya tidak yakin pemula bisa mencari pengalaman dari kontes desain. Peserta hanya memperoleh panduan beberapa paragraf dalam aturan kontes tanpa interaksi dengan pihak penyelenggara. Pengalaman apa yang bisa diperoleh? Kalau pengalaman kerja, dari membuat projek bohongan juga bisa. Misalnya, kita membuat grup kerja barengan dan membuat skenario logo untuk perusahaan makanan dengan deskripsi sekian-sekian-sekian. Hasilnya kita nilai bersama. Setahu saya, di kelas desain formal ada projek-projek semacam ini.

  4. Kalau saya melihat, kontes desain sering kali dijadikan jalan keluar untuk pihak yang sebetulnya tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Mereka sama sekali tidak tahu logo atau desain apa yang mereka butuhkan. Pertimbangannya, daripada pusing memikirkan konsep lebih baik lempar saja ke publik. Klien semacam ini, termasuk tipe “I’ll know it when I see it” yang tidak jelas keinginannya.

    Ada banyak cara untuk melatih kemampuan berfikir kreatif. Misalnya, dengan membuat projek bohongan dengan skenario disesuaikan dengan kondisi asli. Cara ini menurut saya lebih menyenangkan karena dilakukan tanpa ada eksploitasi.

  5. Saya baru dengar istilah Spec Work ini. Dan setelah membaca dari awal dan akhir ulasan Mas Jeprie, saya yang bukan orang desain berkesimpulan bahwa kontes semacam ini lebih banyak menguras tenaga dan pikiran kita saja, tapi hasilnya tak sepadan dengan apa yang akan kita dapatkan nantinya. Lebih jauh, saya melihat ini sama saja seperti mengeksploitasi dan merendahkan para desainer.

  6. Saya berfikir begitu, tapi sayangnya ada banyak desainer –terutama pemula– yang merasa bahwa kontes desain adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk memperoleh pengalaman kerja.

  7. Saya baru tahu tentang istilah “Spec Work”. Walaupun saya sering menjumpai kontes2 desain yang peraturan2 nya dapat di kategorikan dalam Spec Work seperti yang di jelaskan di atas.
    Sebelum membaca artikel ini saya berpendapat bahwa Spec Work baik untuk desainer pemula, karena saya beranggapan dengan mengikuti kontes seperti itu kita bisa menambah pengalaman, sebagai motivasi untuk mencipta, dan skedar “iseng-iseng berhadiah”.
    taoi, setelah membaca artikel ini saya berpikir bahwa Spec Work sangat buruk bagi desainer.benar kata mas jeprie, karena peserta yang mengikuti Spec Work tidak akan mendapatkan pengalaman, dan dengan membuat projek bohongan seperti yang mas jeprie katakan pun bisa menjadi motivasi untuk mendesain.
    saya juga berpikir sebagai desainer pemula bahwa mengikuti “Spec Work” sama dengan tidak menghargai karya sendiri.

  8. Saya juga tidak yakin melalui Spec Work desainer bisa dihargai oleh kliennya. Dengan banyaknya peserta kontes, sulit sekali untuk bisa menonjol.

    Seandainya ingin mengikuti kontes desain, baca terlebih dahulu semua aturan dari panitia. Jangan sampai terjadi seperti yang dikatakan Setia Nugraha, karya kita diambil panitia dan kita juga membayarnya.

  9. Saya rasa bukan hanya tentang mencari desain. Mereka pikir kontes spekulasi seperti itu bisa menjadi salah satu teknik marketing. Sekalian prmosi gitu :p

    Spek-spek-an gk menambah apapun. Termasuk pundi-pundi.

    Sama saja seperti kontes SEO. Sama-sama belum tentu dibayar. Lol

  10. Betul juga. Kontes sering dijadikan ajang promosi, disamakan dengan undian berhadian.

    Saya belum memeriksa kontes SEO, sepertinya bisa jadi sama-sama Spec Work.

  11. Saya juga baru tahu juga istilah ini,dan dengan penjelasan diatas lebih membuka pikiran tentang karya desain seseorang layak di hargai atau tidak oleh klien,dan saya rasa dalam kasus ini para desainer dalam posisi lemah dalam keuntungan dan abu-abu dalam mencari pengalamannya

  12. Dalam kontes desain memang posisi semua desainer sama-sama lemah, Portfolio atau kerja lama desainer tidak menjadi pertimbangan. Keuntungan terbesar saya pikir ada di pihak penyelenggara.

  13. Topic spec work memang selalu jadi kontroversi, ada yang suka ada yang tidak. Tentunya setiap desainer memiliki alasan masing-masing.

    Saya sendiri memulai karir di kontes desain, hanya karena 3 kali menang secara berturut-turut (dan kebetulan keduanya adalah kontes pertama saya), dari situ saya berani fokus ‘kerja di kamar’ dan resign dari pekerjaan saya (padahal posisi dan gaji sudah diatas rata-rata). And guest what! lebih dari 10 kontes berikutnya saya tidak pernah menang, haha… dan mindset saya mulai berubah bahwa desain bagus adalah uang, uang, dan uang (semoga tidak terjadi pada desainer lain), lebih buruknya lagi saya bukan seorang desainer karena pekerjaan sebelumnya adalah desktop programmer, sehingga hampir putus asa juga untuk berkarir di bidang ini karena minim portfolio dan chanel. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa kontes desain tidak bisa ‘diandalkan’ untuk mengasah kreatifitas dan mencari uang. Namun ada pandangan lain dari Richard Fang mengenai topik ini dalam artikel http://jurusgrafis.com/artikel/alasan-memulai-karir-di-website-kompetisi-desain/ . Sekali lagi, suka atau tidaknya setiap desainer memiliki alasan masing-masing yang cukup kuat.

    Pro Bono, like this! Strategi ini pernah saya lakukan, dan karena ini juga ditarik sebagai staff divisi webdesign disalah satu web agency di eropa. Karena secara tidak sengaja mereka melihat hasil kerja saya dan mendapat beberapa rekomendasi dari beberapa rekan saya. Kesimpulannya adalah “Terus berkarya, update skill, dan perbanyak teman. Pekerjaan pun akan datang dengan sendirinya”

    Saya tambahkan referensinya mas: Why Design Contests Are Bad http://www.core77.com/blog/columns/why_design_contests_are_bad_17024.asp

  14. Ketika awal belajar desain dan baru mengenal internet, saya juga pernah nyoba ikutan kontes desain. Cara kerja saya tidak jauh seperti yang dibahas di atas, terburu-buru dan tidak fokus karena banyaknya kontes yang diikuti. Hasilnya, tidak pernah menang karena memang hasilnya tidak berkualitas.

    Setelah banyak membaca, terutama mengikuti tulisannya David Airey saya baru nyadar bahwa memang sulit mengejar kualitas jika bekerja seperti itu. Melalui studi kasus logo David Airey, saya juga belajar ternyata desainer pro bekerja dengan total mengejar kualitas bukan kuantitas. Walaupun kita tidak diakui sebagai desainer professional, sikap professional bisa kita lakukan sekarang juga.

    Bekerja Pro bono saya pikir cara termudah untuk mendapatkan perhatian orang. Seperti kata Putu Putrayasa –seorang motivator– hidup itu harus give and give. Dengan memberi, orang lain pasti akan balik memberi pada kita. Sayangnya, banyak desainer pemula yang terburu-buru dan melewatkan proses ini. Mereka ingin segera memperoleh keuntungan dan tidak berfikir jangka panjang.

    Terima kasih tambahan referensinya. Sudah saya update ke dalam artikel.

  15. sekedar menambahkan wacana
    1) http://toekang.web.id/2010/05/15/karya-indonesia-pemenang-kontes-web-desain-di-99designs-com/
    2) http://zam.web.id/2009/11/08/please-don%E2%80%99t-banned-indonesian-tees-designer-from-emptees-com/

    dua list di atas adalah contoh kecil bahwa teman-teman dari Indonesia banyak yang sukses memilih jalur “spec work”

    dan pada akhirnya “spec work” hanya menjadi “batu loncatan” saja ketika mereka sudah punya nama, mereka kewalahan menerima project dari klien di luar “spec work”

  16. Terima kasih pak, sudah saya tambahkan link pertama ke atas. Yang kedua sepertinya terkait dengan kualitas desain bukan opini tentang Spec Work.

    Saya juga melihat beberapa kontes desain yang berkualitas, salah satunya di gantibaju.com. Seperti disebutkan di atas tidak semua kontes desain terkategorikan Spec Work. Yang penting, kita harus teliti membaca aturan kontesnya.

    Saya sendiri tidak yakin bahwa Spec Work bisa menjadi sumber penghasilan tetap. Mereka yang aktif di Spec Work, kemungkinan besar tidak mungkin bertahan terus di sana. Masalah terbesar ya di ketidakpastian itu. Menurut saya, Spec Work resikonya terlalu besar.

  17. Trims atas tautannya pakzam, menarik sekali. Desainer lokal tidak kalah hebatnya dengan luar. Selama mendesain berdasarkan ‘passion’ saya rasa jalur apapun akan mudah dilalui termasuk spec work. Jangan sampai kuantitas menjadi tujuan utama dalam berkarya (seperti saya dulu).

  18. Yups betul sekali seperti kata pakzam, spec work pada akhirnya hanya menjadi batu loncatan. Jujur saja, kadang2 saya masih ikut spec work, itupun jika diundang dan hanya ketika aturannya jelas dan tidak merugikan.

  19. Sekedar informasi, spec work sering dijadikan ajang merekrut pegawai baru oleh perusahaan tempat rekan saya bekerja dengan ‘topeng’ kontes desain. Saya rasa bisa dijadikan alternatif juga bagi perusahaan yang sedang kebingungan mencari desainer berbakat πŸ˜€

  20. Begitu ya. Masalahnya, tidak semua penyelenggara kontes desain seperti itu kan. Jadi, mengikuti kontes desain dengan tujuan ingin direkrut atau ingin dilihat pihak lain saya rasa tidak beralasan.

  21. Yups, tidak semua atau bahkan boleh dibilang sangat sedikit. Dan tidak sedikit juga desainer berbakat menolak untuk direkrut, kebanyakan dari mereka lebih nyaman menjadi self-employed/freelancer

  22. Saya termasuk orang yang tidak suka dengan kontes desain. Bagi saya kontes desain (logo/rancang bangun) seperti itu sama dengan memperkosa kebebasan saya dalam membuat sebuah desain. Karena biasanya kontes seperti itu persyaratannya ditentukan oleh panitya dan diberi batasan-batasan tertentu. Kemudian, seperti yang mas Jeprie tulis, menang atau kalah hasil rancangan tersebut menjadi milik panitya, ini sama dengan pengambil-alihan desain secara tidak langsung. Bayangkan, sudah gagal desainnya malah menjadi milik orang lain.

  23. Kontes desain yang bagus dan adil harusnya tetap memberikan karya pada desainer aslinya. Desain yang kalah seharusnya jangan begitu saja diekspose keluar agar desainer bisa menjualnya ke tempat lain.

    Masalahnya, banyak penyelenggara yang langsung mengambil semua karya. Yang paling parah seperti di komentar Setia Nugraha, malah membayar agar karya kita diambil alih panitia tanpa kompensasi sama sekali. Dalam skenario terburuk, bisa jadi desain kita digunakan dalam projek lain oleh panitia. Ini mungkin saja karena karya kita sudah menjadi milik kita, karena bukan pemenang kontes panitia tidak punya kewajiban membayar desainer.

  24. spec work hanya batu loncatan tidak lebih.. πŸ™‚ kalau kelamaan disana ya cape juga.. harus bisa menghargai diri sendiri..

    pengalaman saya sih, klien tetap saya sekarang ketemunya dari 99designs itu, setelah mereka merasa cocok mereka ga akan cari desainer lain lagi.. salah satu nya si MojoThemes.. dari 99designs lah saya kenal mereka

    mungkin tips lain adalah baca brief jelas2 (biasanya brief yg bagus itu klien nya bener2 ngerti kok apa yg mereka mau), cari tau background perusahaan klien / si klien itu sendiri (pake google :D), dari situ kita bisa tau ini klien yg berpotensi untuk jadi klien tetap atau klien sekali pakai haha setelah tau yah it’s your call

    dan yg paling penting, kualitas.. klo kualitas bagus, mau di platform mana aja (spec atau ga) hasilnya akan sama aja kok. Plus ya yg di bilang bung Jep ini networking dan branding

  25. mantab ni postingannya, baru tau dan nyadar tentang ini,
    yap kita harus baca rulesnya dulu sebelum ikut bermain, biar nggak ada yang dirugikan,..
    jangan asal lihat hadiahnya trus ikut, hoho bisa jadi boomerang diri sendiri, apa lagi seenaknya kasih source file asli ke panitia, aaaarrrhhggghhh…
    wah sip2, membuka wawasan ni om jeprie πŸ˜€

  26. Masalah terbesar Spec Work memang tentang ketidakpastiannya. Kalau pesanan biasa, kita bisa tenang, fokus pada kualitas karena jelas –ada deadline dan standar kualitas. Apalagi kalau sudah nerima 50% pembayaran.

    Kalau kerja Spec Work, saya benar-benar tidak yakin bisa fokus pada kualitas.

    Saya update masalah kualitas dan networking. Lupa.

  27. Memang harus hati-hati kalau ikutan kontes desain.

    Kalau pengalamannya di gantibaju.com gimana? Saya baca di sana tidak ada peraturan semua jadi hak milik panitia. Seandainya kalah desainnya tetap milik desainer dan bisa ditawarkan pada yang lain.

  28. Info yang menarik, menambah wawasan saya πŸ™‚

    Cuman ingin sharing aja..
    Satu hal yang sering saya temui di Indonesia adalah budaya ‘Malas Membaca Peraturan’ , Tergiur dengan hadiah ( apalagi hadiahnya $ ) dan ‘exposure’ , masih banyak desainer2 kita yang langsung terjun tanpa pikir panjang(tentunya tanpa membaca ‘rules and agreement’ dulu).. hingga akhirnya terjebak dalam satu situasi yang… menyebalkan. Desain ga menang, ga bisa dipake lagi , dan yang paling miris adalah ketika tau ujung-ujungnya desain yg kita buat ternyata dipakai, namun kita ga bisa ngapa2in..not even a little credit.
    Jujur, awalnya saya juga gitu.. ujung-ujungnya tepok jidat sendiri (baru sadar).
    nah kan jadi curhat. heheheh.

    nuhun.

  29. YA MEMANG BEGITU LAH RESIKONYA MENGIKUTI “SPECWORK”

    – KARYA JADI MILIK ORANG/PIHAK LAIN, ATAU SAMA SEKALI TIDAK
    – IDE DI JIPLAK / PLAGIAT ABIS ABISAN (BAHAYA NIH YANG NGIKUT KONTES T-SHIRT)
    – FILE ASLI DI MINTA TERLEBIH DAHULU (WTF!!!)
    – GA MASALAH SI BAGI MEREKA YANG MENDEDIKASIKAN KARYA NYA UNTUK DI SEBAR SECARA GRATIS
    – ACCEPT OR NOT, TERGANTUNG DESIGNER MENYIKAPI SEBUAH KARYANYA SENDIRI..

    NICE ARTIKEL, MENGINGATKAN ADA JEBAKAN DI DALAM “SPEC WORK”

  30. wah menarik ni tenntang “spec work”

    tetapi seringkali saya menemukan designner indonesia banyak berada disini di dunia “spec work”
    dan banyak juga yang “Menang”

    contoh teman saya mengikuti “LMW” dan dia juga tiap bulan setidaknya menang 2 kali dan hasil itupun bisa gajian,

    tp memang di sini resikonya tinggi design kita bisa di jiplak orang , tp contoh positifnya seperti teman saya cuma membuat 8 karya logo dan yang dipilih 2 dalam kira2 2 jam bisa menghasilkan $400 dollar?.. dalam sebulan..

    dan negatifnya..
    ia kalau beruntung kalau tidak?…

    menurut saya specwork bisa negatif atau positif

    slm,
    eNzi Design

  31. Ya, memang posisi desainer dalam kasus ini lemah. Seandainya desain kita digunakan, sulit untuk mengklaim. Seandainya diurus pasti akan waktu lama dan perlu biaya juga. Jadi, sebisa mungkin jangan mengambil resiko dengan mengikuti kontes desain.

  32. Memang jebakan ini biasanya tersembunyi dalam aturan kontes. Jika tidak dipikirkan secara teliti, sepintas akan terlihat biasa-biasa saja, tidak merugikan. Resiko kontes desain memang besar, apalagi desain kan masuknya ke tataran ide yang mudah sekali ditiru.

  33. LMW maksudnya apa ya?

    Saya rasa tidak sesederhana ini, jika menang maka positif dan jika kalah maka negatif. Kita harus melihat dari banyak sisi, mulai dari sisi penghargaan terhadap kerja desainer, harga pasaran, resiko pencurian ide, dst. Silakan baca juga referensi yang saya tuliskan di atas.

    Faktanya, malah ada kontes desain yang memungkinkan tidak ada pemenang. Penyelenggara diberi kebebasan untuk mencabut kontes dan tidak memilih satu pemenang pun. Padahal, kalau dari sisi hukum ini bisa termasuk penipuan (scam). Silakan baca di Are logo design contest sites even legal? untuk referensi.

  34. keliatannya spec work tidak hanya terjadi utk seorang designer mas.. musisi / pencipta lagu pun mengalami hal demikian. kita ikutan kontes musik / lagu, semua lagu yg dikirimkan itu hak milik panitia dan tidak boleh lagi di publish lagi.. padahal ntr kalau lagunya bagus mereka bs dapat keuntungan berlipat ganda…

    tp untuk pemula yang bener2 masih fresh, spec work memang jalan pintas yg cukup dilirik banyak orang. karena pasti beranggapan, kalau saya menang pasti akan banyak orang yg menyewa jasa saya. ehehhe

  35. Gw berpendapat lain mengenai Spec Work & Kontes Desain. Spec Work tidaklah begitu buruk, dan kebetulan gw jg masih aktif mengikuti kontes di 99designs dan fokus di desain website.Knapa di desain website? Krna perkembangan dunia website yg menarik, terutama kemungkinan yang kecil kalo karya kita dijiplak oleh desainer lain di dalam kontes. Menurut gw kontes desain seperti kita pitching/tender; bedanya kita buat final desainnya terlebih dahulu. Disini dibutuhkan strategi, konsep dan komunikasi yang baik agar dpt memenangkan hati klien/CH (contest holder). Sayangnya memang banyak teman2 desainer Indonesia yang memiliki mindset, kalo kontes itu untung2an; jadi mereka ngikutin sebanyak2nya kontes dgn harapan ada beberapa kontesnya yg bakalan menang. Ini sering banget terjadi di kontes logo, krna waktu pengerjaannya yg cepat (2-3 jam selesai). Gw lebih memilih mengikuti 2-3 kontes dgn kemungkinan besar pasti menang dripada ikut 10-15 kontes dgn harap2 cemas bakal menang.
    Bagaimana ada kemungkinan kontesnya bakal menang? gw ngikutin pedomannya si richard πŸ˜€ bisa dibaca disini : http://bit.ly/nBbwM seiring dgn pengalaman; gw jadi bisa menyeleksi yg mana kontes berpotensial dan tidak akan direject, membaca persaingan antar desainer dan akhirnya memenangkannya. Banyak strategi yang bisa dipake, salah satunya “initiative page” dgn memberi bonus 1 desain page (strategi ini berhasil di kontes yg terakhir gw menangin :D). Tentulah tidak selamanya gw akan bergantung di kontes desain, walaupun sudah memiliki 2-3 klien tetap; tapi tidak setiap bulan klien akan ngasih project, dgn diselingi mengikuti kontes dgn harapan mendapat klien baru; tentu juga proses belajar, mengembangkan network dan branding diri tetap berjalan. Salah satu cara branding diri bisa dengan membuat blog, gw juga akan mulai nge-blog seputar website interface agar bisa menambah referensi dari beberapa blog yang sudah ada *Lirik Mas Zam & Richard.
    Okey gitu dulu aja, Stay the best & salam kenal Bung Jeprie πŸ˜€

  36. Salam kenal juga. Saya tunggu juga blognya.

    Saya rasa kontes desain tidak bisa disamakan dengan tender. Bedanya sangat jauh, dalam kontes kita bekerja duluan tanpa ada jaminan pembayaran. Resiko tidak dibayar inilah yang menjadi penolakan terhadap Spec Work. Seandainya saya tidak memiliki projek dari klien, saya lebih memilih kegiatan lain, seperti belajar, daripada mengikuti kontes.

    Tentang logo. Saya bukan desainer logo tapi dari melihat studi kasus pembuatan logo, misalnya di David Airey, logo yang baik pasti butuh waktu. Tidak akan cukup dengan 2-3 jam.

  37. Kalau prakteknya sama seperti itu, berarti sama-sama spekulasi.

    Saya tidak begitu ngerti pemikiran seperti itu. Seandainya menang juga tidak ada jaminan akan dikenal, bisa jadi yang terkenal malah penyelenggara kontesnya. Sebetulnya, masih ada alternatif lain selain Spec Work yang tidak mengeksploitasi.

  38. Richard @ Sipp.. chard thanks πŸ˜€
    Jeprie @ Gw memandang sama dengan pitching dari sisi ber-kontesnya; atau bertarung (sedikit keras bahasanya) dalam memberikan konsep & strategi yg terbaik untuk CH (contest holder). Yes it your choice… kalo gw berkontes selain untuk menang, jg untuk mencari klien baru, meningkatkan skill berkompetisi, meng-explore ide & konsep juga membikin potfolio ( cukup banyak juga kan nilai plusnya πŸ™‚ ).
    Yup memang bikin logo tidak hanya 2-3 jam, tapi pada prakteknya di kontes 99designs seperti itu. Maka dari itu gw lebih memilih website design ketimbang fokus di logo.

  39. Ya, setuju. Baik mengikuti atau menolak kontes desain, keduanya masalah pilihan. Saya menghindari kontes desain dengan alasan seperti di atas.

    Terkait logo. Itulah yang saya maksud dengan menjatuhkan kualitas. Segala sesuatu butuh waktu. Tidak mungkin menghasilkan karya bagus dalam waktu yang sangat terbatas.

  40. statement yang bagus dari agan Jeprie, tapi seringkali Saya yang lebih sering bokek mode pasti tergoda dengan hadiah kontes logo, 20jt bukan uang recehan gan πŸ˜€

  41. maaf, yang diatas untuk kasus kontes logo UM (univ. negeri malang) yang logo barunya barusan saya jadikan tutorial, duplikat logo memang cuma butuh waktu setengah jam an πŸ˜›

  42. klo di situ, yang menang aja hak miliknya dimiliki sana setelah dibayar hadiahnya setelah itu dapat royalty dari hasil penjualan πŸ˜€
    yup klo designnya kalah bisa dijual ke orang lain kok, file aslinya juga nggak dikasih ke gantibaju, masih ditangan designer.

  43. Sayangnya, banyak kontes desain yang tidak seperti itu. Sebagian langsung mengambil alih desainnya. Apalagi desain logo, walaupun tidak memberikan file mentah, nirunya gampang.

  44. Mungkin ada baiknya pemahaman seperti ini ditanamkan pada pihak-pihak yang hendak menyelenggarakan kontes desain. sebab pemahaman orang ‘awam’, yang namanya kontes desain, berarti semua entri yang masuk, menjadi milik mereka.

    saya pernah mengalami pengalaman serupa. saya mengikuti kontes desain, dan bukan saya pemenangnya. tahu-tahu, ada email pemberitahuan dari panitia, meminta FILE ASLI desain saya.

    saya tanya untuk apa, ternyata poster saya meski tidak menang, masuk ke dalam kategori 30 best, jadi akan dicetak. saya jelas kaget, masa’ poster saya dicetak, tapi saya tidak mendapatkan apapun??

    yang saya dapatkan ‘hanya’ kaos dan buku. itupun karena saya termasuk 50 pengirim pertama.

    meski kecewa, dengan niat charity, saya tetap mengabulkan. dengan catatan, desain saya tidak boleh diutak-atik sama sekali. diambil untuk desain lain pun tidak. tetap seperti itu. saya pun meminta signature saya tetap ada disana. bersandingan dengan logo penyelenggara.

    saya pun meminta paling tidak satu lembar untuk portofolio saya. tapi yang ini juga tidak dikabulkan.

    apakah saya bodoh? hmmm… karena charity, saya mencoba legowo…

    hhhh…. saya entah kenapa kok jadi sakit hati kalau liat kontes desain lagi…

  45. Charity di sini sebetulnya sama dengan yang saya maksud bekerja pro bono di atas. Namun, menurut saya kasus yang ini lebih ke memanfaatkan desainer.

    Bekerja dengan tujuan amal pun seharusnya disertai dengan perhitungan juga. Seharusnya pihak penyelenggara mengerti dan minimal bisa memberikan win-win solution (jika tidak bisa memberi kompensasi pembayaran).

    Memang masalah lain kontes desain adalah penyelenggaranya orang awam yang tidak memahami proses desain. Mungkin dianggapnya mendesain itu hanya sekadar main-main atau sampingan bukan pekerjaan betulan.

  46. baru tau istilah yg sebenernya
    sy juga dulu sempet gabung di 99design mas. cuman ya itu masalah ketidak pastian menang, bejibunnya kompetitor dan waktu yg terbuang percuma, akhirnya lama2 nyerah juga.

    Kalau untuk kontes lokal sy sempet ngiler iming2 grand livina saat Pt Pos mengadakan lomba desain logo. anehnya, pengumuman lomba sudah lama, logonya kok masih belum berubah yaa? hehe

    nice post mas
    dan pikiran saya bener2 terbuka sekarang πŸ˜‰
    tengkyu

  47. Kalau saya lebih suka kerjaan yang bayarannya kecil daripada kontes berhadiah besar. Dalam masalah pekerjaan, saya pikir bukan waktunya untuk berspekulasi. Kecuali untuk belajar dan mencari pengalaman, itupun haruslah kontes yang baik, bukan mengeksploitasi seperti Spec Work.

  48. wah… bukan cuma artikelnya yang panjang mas jep, komennya juga panjang panjang.

    bener juga kata mas neosheet kalau spec work sering dijadikan ajang merekrut pegawai baru,
    saya sendiri pernah membantu furniture exporter company buat kontes mebel. Ya memang diakui juga kontes itu selain salah satu cara untuk mencari desain bagus dan berkualitas, juga jadi ajang branding penyelenggara agar terdengar gaungnya. Nyatanya selain memberikan hadiah untuk pemenang, jika ada entri lain yang berkualitas tetap di jadikan product dengan mengontak desainer nya terlebih dulu.

    Saya ndak setuju pernyataan mas jep kalo pemula belum tentu cari pengalaman dari kontes desain. menurut saya skill pasti sedikit naik lah, soalnya udah naluriah meliat kompetitor yang lebih bagus bagi si pemula, kemudian dia belajar bagaimana caranya buat seperti itu. Soalnya saya juga pernah seperti itu mas. :).

    Saya setuju dengan Pekerjaan Pro Bono mas jep bilang. Ide bagus juga, baru dengar istilah ini. Seperti yang pernah di tulis sama om Budiman Hakim di blognya, tips untuk membuat creative director di biro iklan melirik portfolio kita ya dengan membuat iklan iklan boongan brand yang sedang di tangani di biro iklan tersebut. Mungkin sama lah ya.

    kalo saya sendiri sih vote buat 50:50 mas.
    kontes juga bisa jadi pro bono yang mas jep maksud. pemula baca brief, lalu mengerjakan sesuai deadline, dan di kirim “siapa tau menang”.

    salam kreatif!

  49. Saya setuju bahwa dari mengikuti kontes kita bsia memperoleh pengalaman. Malah, apa pun sebetulnya jadi pengalaman. Hanya masalahnya, dengan kontes ditakutkan ini bisa menjadi ajang eksploitasi bagi desainer.

    Bahkan ada artikel yang menyarankan penyelanggara kontes agar aktif memberikan kritik pada entri yang disukainya. Dengan cara ini semua desainer (bukan saja pemilik entri tersebut) akan berlomba-lomba memperbaiki desain tersebut. Secara tidak langsung ini sama saja dengan memberi arahan pada puluhan desainer.

    Kalau melakukan projek bohongan, memang prosesnya sama namun tidak akan ada eksploitasi karena memang ini keinginan kita pribadi.

  50. __http://www.facebook.com/event.php?eid=181778595167082__
    ini termasuk speck work bukan ya om jep? karya yang dikirim termasuk file aslinya, mmmm… jadi ragu sama ni kontes, hohoh

  51. Di sana tidak ada penjelasan tentang nasib dari karya yang kalah. Kalau menurut saya, itu Spec Work. Kalau ada kerjaan yang lebih jelas, sebaiknya ga perlu ikutan yang begitu.

    Dalam kontes desain logo, walaupun tidak menyertakan file asli sebetulnya tetap saja mudah sekali diduplikasi.

  52. πŸ™‚ saya tersadar. kemarin-kemarin awalnya terobsesi, dibela-belain sampai begadang, tapi lama kelamaan mikir juga. setelah membaca penjelsan dari ms.Jeprie saya jadi tambah yakin untuk memakai cara yang lain πŸ™‚

  53. Saya juga berminat dengan Spec Work pada mulanya. Itung-itung belajar desain sambil mencari duit, he he he he.

    Namun, dengan memperhatikan beberapa hal saya sekarang kurang begitu tertarik dengan spec work. Spec work yang saya ikuti sungguh mengerikan, bayangkan peserta kontes secara tidak langsung disuruh mencontek produk yang telah ada! Hm…sungguh bertolak belakang dengan esensi desain yang saya pahami saat ini; “desain adalah kreativitas dari hati!”

    menurut saya, solusi yang tepat untuk menghindari spec work adalah dengan membaca secara detail peraturan kontes seperti yang sudah disampaikan diatas. Atau, jika ingin meningkatkan skill desain bisa bergabung dengan situs tutorial desain. Di website tutorial kualitas adalah nomor satu. Namun, saya akui memang sulit untuk masuk ke sana, kompetitornya bukan orang-orang biasa.
    Jalan lain yang bisa diambil adalah membuat situs tutorial sendiri. Hitung-hitung bagi-bagi ilmu, untung-untung bisa dapat duit he he he

  54. Memang salah satu tips memaksimalkan hasil kontes adalah dengan mendorong kontestan memperbaiki salah satu entri. Ini dilakukan secara tidak langsung agar tidak terkesan memanfaatkan desainer.
    Misal penyelenggara desain suka entri A. Secara terbuka dia memberikan masukan, misal “Saya suka desain ini. Saya ingin ini diperbaiki jadi begini begini begini….” Masukan ini ditujukan pada desainer A namun karena terbuka desainer lain pun bisa baca. Akhirnya, secara tidak langsung sama saja dengan menyuruh pada semua desainer peserta kontes.

  55. Beuh….. baca artikel ini jadi kepikiran.. soalnya baru aja terjun bebas ke arena kontes desain dengan hadiah total $65,000 untuk 3 pemenang.. perusahaan yang mengadakan kontesnya pun perusahaan minuman bersoda berkaleng merah yang sudah ternama yang tentunya tidak akan main-main klo mau ngadain kontes di publik karena mereka juga mempertaruhkan image perusahaannya.
    saya ga munafik dan saya sudah pasti tergiur dengan hadiah total segede itu.. emang gambling sih istilahnya tpi saya coba-coba aja sekalian jadiin batu loncatan, kali aja ada perusahaan lain yang lirik-lirik trus ngontak (ngarep :p)
    klo di brief yang penyelenggara berikan, tidak ada ketentuan bahwa peserta harus menyerahkan file asli kepada panitia kecuali jika sudah diputuskan sebagai pemenang maka wajib memberikannya (pasti lah) dan karya peserta yang belum menang (bukan ‘tidak’ menang) tidak akan di klaim milik panitia.
    emang sih meskipun file asli tidak di berikan tapi karya pemenang akan diklaim sebagai milik panitia dan bisa digunakan sebagai sarana promosi bagi perusahaan tanpa ada kompensasi apapun pada pemenang. jujur saya sedikit bingung apakah kontes yg saya ikuti termasuk spec ato bukan? kebetulan karya yang saya ajukan berupa animasi yang mungkin jarang di duplikasi atau di tiru meskipun kemungkinan itu selalu ada.
    beuh… jadi nge-batin gini… ga tenang di hati hehe… πŸ™‚

  56. btw.. thx buat artikelnya.. bahasannya sangat diplomatis, diukur dari baik buruk dan tidak menjustifikasi, bisa buat warning kalo suatu saat ada kontes desain/animasi harus bener-bener paham rules nya biar ga masuk jebakan. thx a lot πŸ™‚

  57. Terima kasih apresiasinya. Saya tidak ingin terjebak pada menjelekkan semua kontes desain atau sebaliknya mendukung segala jenis kontes desain. Kontes desain bisa jadi bagus asalkan tidak berupa Spec Work. Ada juga kontes yang baik, salah satu favorit saya yaitu The World Collabs dari Abduzeedo.

    Untuk menghindari Spec Work, kita harus melihat aturan yang digunakannya dan juga orang/pihak penyelenggara. Misalnya, Abduzeedo, yang juga desainer, tidak mungkin memanfaatkan desainer-desainer demi keuntungan dirinya sendiri. Dia punya reputasi yang ingin dijaga.

  58. emang sih meskipun file asli tidak di berikan tapi karya pemenang akan diklaim sebagai milik panitia dan bisa digunakan sebagai sarana promosi bagi perusahaan tanpa ada kompensasi apapun pada pemenang.

    Mungkin maksudnya semua karya yang masuk ya?

    Jika semua karya yang masuk otomatis dianggap sebagai milik mereka, menurut saya itu Spec Work. Saya sama sekali tidak melihat ada keuntungan bagi desainer di sana.

    Katakanlah karya saya cukup bagus, tapi tidak sampai jadi juara. Seandainya karya saya mereka gunakan sebagai sarana promosi, orang lain tidak akan tahu itu karya kita. Paling-paling kita cuma bisa nulis itu di portfolio pribadi. Keuntungan tetap ada di tangan perusahaan. Beda lagi jika perusahaan menuliskan nama kita (istilahnya memberi kredit) di akhir animasi. Tapi saya tidak yakin mereka mau begitu.

  59. entah… saya juga sebenernya bingung sama pasal-pasal ini di brief yang mereka berikan.

    Article 5.2
    “The Agreement requires the Winner to assign and transfer to the Company, all worldwide right, title, and interest in the winning Work, and all other intellectual property rights of whatever nature in such winning Work, including the copyright therein, together with the right to make any changes, adaptation, or modifications to the winning Work for the purposes of marketing, advertising, promotional, publicity exercise and trade without compensation to the Winner. The Winner further releases and discharges the Company against all claims which the Winner may have or which may arise out of the rights granted to the Company in relation to this Contest.”

    nah tapi ada juga pasal ini

    Article 6.1
    All contestants hereby grant to the Company a non-exclusive, worldwide, royalty free, license to use, reproduce, publicly perform, publicly display, any and all of the submitted Works on Internet networks and for internal purposes.. Contestants acknowledge that the use of the respective Works by the Company within such framework helps promote their Works and shall be deemed as the compensation for the grant of rights. Thus contestants expressly agree to grant this licence on a free basis and acknowledge that the use of the Works by the Company within the framework of the licence releases and discharges the Company against all claims which a Contestant may have or which may arise out of the license granted to the Company.”

    kalau yang saya tangkap sih hanya pemenang yang memberikan hak penuh pada perusahaan atas karya mereka, tapi yang bikin saya bingung di pasal selanjutnya para peserta/kontestan memberikan juga hak non-eksklusif pada perusahaan untuk menggunakan, mereproduksi, dll untuk keperluan promosi perusahaan.
    nah.. yg kayak gini nih pasal-pasal yang mengandung jebakan terselubung… bikin bingung…

  60. Jadi, di sini semua entri ada kemungkinan digunakan untuk kegiatan internet dan tujuan internal. Lewat aturan tadi, desainer tidak bisa mengklaim kompensasi lain (misalnya uang) karena dianggap penggunaan desain itu oleh perusahaan sudah menjadi keuntungan desainer.

    Saya rasa bisa dilihat bahwa posisi desainer dalam kontes ini lemah. Yang jelas-jelas beruntung adalah 3 (atau lebih) pemenang yang beruntung.

  61. Hmmmm,,,,,mohon maaf sebelumnya…Saya kurang setuju jika kontes desain dikategorikan sebagai specwork yang memiliki dampak buruk bagi perusahaan (penyelenggara) dan desainer.

    Menurut pengalaman saya, persaingan yang terdapat pada kontes desain dapat meningkatkan skill para desainer pemula, tentu saja dengan cara pandang positif.

    Berbagai manfaat pun diperoleh perusahaan penyelenggara, mulai dari harga yang murah dan banyaknya desain yang masuk. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi perusahaan-perusahaan kecil untuk membangun bisnis mereka. Bayangkan jika Anda adalah seorang yang akan membangun sebuah bisnis dengan modal yang terbatas, sedangkan biaya untuk menyewa desainer sangat tinggi.
    Ada juga desainer yang mematok harga dibawah pasaran, namun “ada harga ada rupa” kan. Dan opsi yang diberikan juga tidak sebanyak jika Anda membuat sebuah kontes.

    Di beberapa website kontes desain profesional (seperti 99designs dan crowdspring), desain yang sudah masuk tapi tidak memenangkan kontes tidak akan menjadi hak milik siapapun, bukan untuk website, bukan juga untuk perusahaan penyelenggara.

    Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

    Best Regards,
    Rio

  62. Terima kasih komentarnya.

    Sebagai desainer, bahasan di sini lebih fokus pada sisi desainer. Seperti saya bahas di atas, yang paling diuntungkan di sini adalah penyelenggara bukan desainer.

    Saya telah membahas definisi Spec Work di atas, yaitu segala pekerjaan yang sifatnya spekulasi, belum tentu dibayar. Apa semua kontestan pasti dibayar? Tidak. Berarti kontes desain adalah Spec Work.

    Setiap projek apa pun pasti mendatangkan pengalaman bagi desainer. Mengikuti kontes desain, menjalankan tugas dari kuliahan, mengikuti projek komunitas, atau menjalankan projek pribadi semuanya memberikan pengalaman. Tapi bedanya kontes desain berpotensi mengeksploitasi desainer. Kalau projek pribadi –misalnya mendesain situs sendiri– atau projek pro-bono –misalnya membuat logo untuk teman– tidak akan ada eksploitasi karena memang kita melakukan dengan keinginan sendiri dan tanpa beban.

    Satu hal yang harus diingat tentang kontes desain. Yang menang hanya sedikit, yang kalah (dirugikan) pasti banyak. Kemungkinan menang kecil. Kembali ke masalah ketidakpastian, mau tidak kerja tanpa kepastian dibayar?

    Pertanyaan saya untuk perusahaan. Kalau memang tidak punya budget atau budgetnya rendah, kenapa tidak mencari desainer yang lebih murah? Atau cari alternatif yang lebih murah, misalnya jangan mau desain theme custom, cari saja yang gratis atau premium. Jangan mengeksploitasi orang lain.

    Desain yang masuk ke 99designs atau CrowdSpring memang tidak secara otomatis menjadi milik mereka. Namun ide yang sudah kita kerjakan akan terbuka ke luar dan belum tentu bisa digunakan lagi. Kalau desain web bisa saja diberikan ke klien lain, yang paling rentan adalah logo. Apa mungkin desain logo yang tidak terpakai bisa dipakai lagi untuk klien lain?

  63. Wow, setelah baca2 komen dari para suhu seperti bang Richard, Pak Zam, Mas Treecore dan Mas Jeprie saya jd banyak pandangan tentang kontest design ini. Soalnya saya juga org yang masi newbie bgt masalah desain dan saya juga bingung gmn bisa dapetin klien yg selama ini klien saya dapat dari limpahan teman saya bukan dari saya sendiri.
    Thanks All. πŸ™‚

  64. hmmmm….gimana ya…menurut saya sah-sah saja kalo seorang desainer ingin mengikuti kompetisi desain spt di 99design n crowd spring….anggap saja itu sebagai suatu batu loncatan dan menambah skill sebagai seorang desainer…lagian klo menang itu merupakan suatu kebanggan tersendiri…Seperti yang di nyatakan di atas ada yang menang ada yang kalah…tapi itu fair kok…
    Lagian lumayanlah iseng2 dapet duit tambahan..gada salahnya kan? yang penting ga ngerugiin orang lain…be positive thinking…sowry ya bos klo ga berkenan…

  65. Ambil sisi positifnya aja Pak. Spec Work menurut saya tidak terlalu buruk untuk di coba. Sekalian bantu perekonomian negara meningkatkan cadangan devisa. Banyak temen saya terbantu secara ekonomi dengan mengikuti design kontes. Artikel diatas sebetulnya sudah banyak dibahas di negara barat sana. Karena mungkin mereka takut kehilangan klien yang akan lari ke SPEC WORK tadi. Sekarang jamannya beda, kebebasan berekspresi dalam segala bidang mudah untuk di ekspresikan lewat dunia internet dan digital. Apalagi bisa menambah pemasukan finansial keluarga. Soal menjiplak atau ide kita di curi merupakan bagian dari suatu proses yang nggak bisa dihindari dari dunia kompetisi. Ada yang menang ada yang kalah semuanya itu sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak ada yang sempurna dan abadi di dunia ini. Pergeseran makna istilah-istilah dunia per-design-an sudah terjadi. So jangan terlalu kaku dalam menanggapi perubahan itu. Soal like atau dislike di dunia kompetisi merupakan suatu hal yang wajar. So Enjoy aja !

  66. Penentang Spec Work yang vokal memang biasanya desainer ternama yang sudah dikenal dan memiliki reputasi. Penolakan ini bukan karena takut kliennya lari. Mereka sudah punya klien sendiri. Mereka menentang karena Spec Work tidak menghargai proses kerja desainer, itu saja.

    Intinya ketidakpastian. Anda mau tidak kerja dengan kemungkinan dibayar? Misal, saya meminta Anda untuk membangun rumah. Jika rumahnya bagus, akan saya bayar. Hebat sekali kalau mau. πŸ™‚ Bisa jadi Anda akan beralasan ini hanya proses mendesain, duduk dan menggambar di depan komputer, tidak mengeluarkan tenaga berat seperti membangun rumah. Jika begitu, Anda tidak mengerti proses yang dilakukan desainer.

    Ini bukan masalah meningkatkan devisa atau sekadar persoalan uang. Dalam pekerjaan, ada banyak faktor selain uang.

  67. Anda bilang : Spec Work tidak menghargai proses kerja desainer, apakah anda menyatakan itu karena anda tidak pernah mengikutinya? Banyak designer yang mendapatkan klien tetap dari hasil Spec Work. Klien sangat puas dengan hasil kerjanya sehingga memilih designer tersebut untuk project selanjutnya.

    Ini ada sedikit pengalaman dari temen saya di Facebook :

    Ini alasan penulis artikel di atas untuk tidak mengikuti SpecWork + jawaban pribadi saya setelah 8 tahun bergelut di dunia Non-SpecWork:
    1. Tidak ada Kepastian. SAMA AJA AH! Di dunia nyata (non-specwork) juga begitu. Lama nungguin pengumuman pitching, eh ternyata yg menang malah biro lain. Profit cuma abis buat ngasih pelayanan untuk orang dalem.

    2. Banyak Persaingan. SAMA AJA AH! Di dunia nyata (non-specwork) juga begitu.

    3. Berpotensi Menurunkan Kualitas. SAMA AJA AH! Di dunia nyata (non-specwork) juga begitu. Banyak jg bbrp oknum desainer yg memprofesionalkan diri tapi dibayar pake sebungkus nasi rames + teh botol + rokok sebungkus mau (nggak semua ya!).

    4. Berpotensi pada Praktek Tidak Sehat. SAMA AJA AH! Di dunia nyata (non-specwork) juga banyak praktek2 desain yang nggak sehat.

    5. Menjatuhkan Pasaran. SAMA AJA AH! Di dunia nyata (non-specwork) juga begitu. Terutama dari bbrp oknum percetakan (nggak semua ya!). “Nyetak di sini aja Pak, desainnya nanti GRATIS!”

    Nah itulah sekelumit Non-SpecWork yang dialami temen saya.

    Saya curiga juga dengan tulisan diatas, jangan-jangan penulis artikel ini ikut Spec Work juga supaya membuat lari para pesaing designer Indonesia dari dunia kontes design. Soalnya designer Indonesia sudah di akui di dunia Internasional. Sampai ada di Rangking pertama Top Designer di salah satu website kontes logo. Kalau iya begitu salut deh sudah membuat opini yang membuat bingung designer.

  68. Terima kasih komentarnya.

    Banyak designer yang mendapatkan klien tetap dari hasil Spec Work. Klien tetap berarti bukan lagi proses Spec Work. Ini tidak ada hubungannya. Klien bisa berasal dari mana saja, termasuk juga dari twitter.

    Lama nungguin pengumuman pitching, eh ternyata yg menang malah biro lain. Mungkin maksudnya free pitching? Itu juga sama-sama Spec Work. Biasanya, untuk memastikan bahwa klien (atau calon klien) itu serius, desainer meminta 50% pembayaran di muka. Dalam kontrak juga disebutkan tentang pembatalan projek. Seandainya dibatalkan, ada biaya yang tidak bisa dikembalikan sebagai bagian dari proses riset. Ini dilakukan untuk menghindari ketidakpastian, kerja berat tapi belum tentu dibayar.

    Saya tidak mengikuti kontes desain atau Spec Work. Bagi yang ingin aktif di situs kontes desain, semacam 99designs, saya tidak menganjurkan tapi itu pilihan pribadinya. Di akhir artikel, saya juga menuliskan beberapa link artikel dari kedua pihak, pendukung dan penolak Spec Work. Beberapa pengomentar di artikel ini juga pernah aktif di situs kompetisi semacam 99designs. Silakan dibaca.

  69. “Pekerjaan Pro Bono yang paling mengesankan bagi saya adalah mendesain buku. Saat ini, semua buku saya di Elex Media Komputindo didesain sendiri. Elex tidak membayar desain saya, namun saya memperoleh pengalaman yang jauh lebih besar” enak ya jadi Elex πŸ˜›

  70. kesimpulan yang lucu gan…
    “menyumbangkan” desain tanpa dibayar ke Situs desain semacam Psdtuts+,NaldzGraphics, dan WeGraphics ???

  71. Meskipun dah dah lama, kukomen juga ya :D.

    Wah, ternyata ada juga yang punya pikiran yang mirip denganku (Kecuali aku tidak menulisnya).

    Setuju dengan beberapa poin yang Agan bilang.

    Soalnya pernah liat juga ada kontes desain yang isi peraturannya, tiap karya yang diterima otomatis milik panitia. Aku jadi mikir sendiri, gak menang kok malah ngasih hak kepemilikan ke orang lain?
    Padahal susah payah desain dan analisisnya. Belum lagi dikasih kredit kalau aku yang buat (karena telah memberi hak kepemilikannya). Kesannya, lebih ke “win-lose situation”.

  72. Kembali ke desainernya juga sih (karena di tulisan ini, desainer yg dianggap paling dirugikan)….

    Desainernya ngerasa rugi nggak kalo ikutan spec work? Kalo nggak, ya nggak ada masalah. Tapi kalo ngerasa dirugikan, ya nggak usah ikutan. Simpel kan?

    Seburuk apapun anggapan para desainer ttg spec work, masih banyak yg minat terjun di dalamnya. Seburuk apapun anggapan para desainer ttg spec work, kita selalu punya pilihan buat ikut serta atau nggak sama sekali…

  73. setelah di pikir2 ada benarnya juga ya mas,,,,
    dari dulu ingin banget mengeluarkan unek2 sejenis kayak yg mas bilang itu,,,

    kalau saya pribadi sich,,,jangan anggap spec work sbg mata pencaharian,anggap saja itu iseng mengisi waktu,,,jika kita berharap menang di spec work bisa gak makan mas,,heheheh
    makasih mas atas sharenya….
    good luck mas πŸ™‚

  74. Saya sangat setuju dengan Mas Jeprie. Buat BalaKarung justru ingin saya sampikan kepada Anda, bahwa dalam hidup, dan ini dialami oleh orang-orang sukses, Semakin kita banyak membari kepada orang lain semakin banyak Tuhan memberi ke kita. Jadi prinsip Extraordinary-nya: Give & Give, so…bukan Give & Take, Take & Gave, apa lagi Take & take, wah…yang terakhir itu: gagal total hidupnya.

  75. Baca kesimpulan jangan setengah-setengah gan…

    “Walaupun tidak dibayar, Anda akan terekspos ke hadapan ribuan pembacanya. Sebagian di antaranya, bisa jadi merupakan klien potensial.”

    Kayaknya gak gratis juga sih, ada timbal baliknya. πŸ™‚

  76. IMHO: Spec Work baik untuk latihan mental. Plus: Siapapun yang sering (langgganan) menang di Spec Work akan menganggap pekerjaan ini positif dan berguna. Yang ga pernah menang, sebaliknya mempunya pandangan spec work sangat negatif. More: Spec Work cocok untuk Spekulan tentu saja :).
    Very good posting!

  77. Pengamatan saya, orang yg tidak suka dengan Spec Work (kontes disain) adalah mereka yg tidak bisa atau jarang sekali menang kontes. Tapi jika seorang disainer bisa 4 kali menang kontes dalam satu bulan, mereka akan sangat menggantungkan hidupnya di kontes itu, bayangkan hadiah (minimal) $200 / kontes.
    Selain itu banyak juga disainer kontes yg sudah memiliki perusahaan disain, karena pelanggannya sudah banyak, semua berawal dari order CH (Contest Holder).
    Jadi bisa saya simpulkan, bahwa masalah ini tergantung bagaimana kita menyikapinya.
    Karena saya bisa hidup layak dari kontes disain dan order berkelanjutan dari CH yg telah memilih disain saya.

  78. nice post om. mungkin perlu ditambahken. dengan adanya spec work banyak sekali bermunculan desainer-desainer instan yang mana mereka tidak tahu menahu mengenai etika dalam dunia desain. beberapa dari mereka menganggap ini adalah cara mudah untuk mendapatkan uang sehingga mengakibatkan kasus2 seperti yg telah disebutkan diatas (copy design, pemakaian stock dalam logo, dsb) bermunculan. dan perlu dipertanyakan juga, apakah para pemilik situs yg mejalankan spec work didalamnya orang yang mengerti etika dalam dunia desain?? karena dari peraturan yang mereka buat kebanyakan hanya menguntungkan klien bukan desainer.

  79. ini artikel lama ya?
    haha.. disainer grafis.. profesi yang paling munafik menurut saya (saya salah satunya).. sebuah profesi “seni terusan” yang berharap tetap idealis tapi komersil.. ya itu kenapa saya sebut munafik (:

    ( tidak orisinil ) ada jaminan dengan cara fundamental tidak plagiat ?
    ( bayaran tidak layak ) Carolyn Davidson si pencipta “swoosh” dibayar berapa? sudah ada “sertifikasi profesi” untuk disainer grafis ?
    ( minta dibayar dulu ) kalau ga punya klien ?

    jaman semakin canggih mas.. era komunikasi network semakin luas.. di salah satu situs crowdsource designs ada fitur “description”.. mau sedahsyat apa artworknya kalau tidak bisa propose ya sama saja.. begitu pula sebaliknya.

  80. bagus nih artikel, tapi kan mas juga pernah ngalamin tuh ikut kontes desain. . . alasan gak menang gara2 gak berkualitas ya? coba mas tingkatin dulu kualitas nya. kalo menang di jamin deh mas nyesel bikin artikel ini. πŸ™‚
    atau kalo dulu si mas nya pertama ikutan kontes terus menang, pasti mas gak bakal bikin artikel ini ya? πŸ™‚

  81. Contoh Baik Spec Work kok gak ada? -> Hanya melihat dari 1 SISI

    Alasan untuk tidak mengikuti Spec Work:
    1. Tidak ada Kepastian = Hidup juga penuh ketidakpastian bro,. (sekarang sehat besok bisa sakit, ga ada yang tahu)
    2. Banyak Persaingan = Klo mo hidup ya harus bersaing bro, sperma aja bersaing untuk bisa nembus sel telur buat menjadi bayi, mau jadi presiden juga bersaing lewat pemilu, dsb dsb,.
    3. Berpotensi Menurunkan Kualitas = Klo kita designer yang berkelas tentu kita bisa menjaga kualitas bro,.
    4. Berpotensi Pada Praktek Tidak Sehat = Dalam bidang apapun berpotensi untuk melakukan praktek tidak sehat bro,. tinggal seberapa tipis iman kita terhadap agama yang kita anut (semakin tipis semakin berpotensi praktek tidak sehat)
    5. Menjatuhkan Pasaran = Rejeki udah ada yang ngatur bro,.

  82. Sejak awal sudah disebutkan:

    Di artikel ini, saya akan menyajikan beberapa argumen kenapa Spec Work buruk bagi desainer dan harus Anda hindari.

    Judulnya juga saja sudah cukup jelas:

    Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer

  83. Jika saya membaca tulisan di atas it
    u merupakan curahan hati sekaligus ketakutan para designers… heheheh…

  84. kyk nya yg sering menang pada senyum2 ni baca postingan,, πŸ˜€ ngeri2 sedap ,,, salam buat master2 profesional sama platinum designer yg ngasih coment di sini ,,

  85. sementara saya masih bisa tersenyum dengan “ketidakpastian” specwork ini walaupun pernah mental dari status Gold Designer, bagi saya apalah artinya sebuah KEPASTIAN kalau hal itu tidak ada / hanya sedikit.( bahkan yang pasti ada saja bisa meleset kalau belum rejekinya ). Alhamdulillah, saya selalu berusaha untuk bersyukur dengan apa yang ada ( pasti atau tidak pasti )

  86. artikel yang sangat menarik, bukan motivasi yang positif dan membangun, ini hanya tentang keresahan dari proses pencapaian mental spiritual profesionalitas. dan bukan tentang ” Kontes Desain (Spec Work) Buruk Bagi Desainer ” Sangat disayangkan motivasi bagus tentang ” hidup harus give and give,” masuk dalam artikel ini.

  87. bro, 99designs untuk desain logo ga $50 ko.. dari kisaran $200 sampe $700 keatas, kalau web malah bisa sampe diatas $3000..

  88. Artikel bermanfaat, saya juga seorang desainer, bolehkah saya mengcopy untuk blog saya dengan menulis sumber? Sehingga lain waktu bisa untuk referensi, baca ulang mudah dicari.

  89. post lama, tp juga pengen nimbrung komeng πŸ™‚
    Menurut saya, terlepas dari etika design dll, ini hanya masalah otak kiri dan otak kanan. para pengguna otak kiri takut akan ketidakpastian dan memilih berpenghasilan sedikit tapi konsisten. Bagi pengguna otak kanan, ketidakpastian adalah tantangan. spec work memang tidak pernah ada kepastian. sama halnya dengan bisnis.
    Adakah yang mau kerja tapi kemungkinan tidak dibayar? banyak, liat aja Wallstreet, para bisnisman, para investor, atau yang paling gampang, liat aja 99designs.
    Pengalaman?banyak sekali, lihat aja portofolio mereka, lihat bagaimana portofolio mereka berkembang (dari segi design). designer juga mendapatkan pengalaman bagaimana menghadapi berbagai macam klien.
    Mengenai etika, banyak kok designer2 yang masih menjunjung tinggi etika design di contest yang diikuti. Banyak designer berkualitas lahir/ bertumbuh kembang di contest design.
    Mengenai penghargaan terhadap kerja desainer, harga pasaran, resiko pencurian ide, dst, Kan ada banyak kontes design, tinggal pilih saja mana yang kiranya tidak merugikan.

  90. alhamdulillah saya yang pertama comment di tahun 2015 ini hehehe
    gini gan, buat kita sesama makhluk hidup yang di ciptakan sempurna oleh Tuhan kita karena kita diciptakan mempunyai akal.
    saya lihat dari komen komen di atas… wuih panjang banget hhha
    semuanya berkomentar pada posisinya masing masing….
    1. ada yang suka spec work karena sering menang kontes dan bisa merubah ekonominya
    2. ada yang kontra sama spec work karena (mungkin pernah ikut tapi belom menang dan sudah mempertimbangkan beberapa hal negatifnya,)
    3. ada yang masih awam tentang kemana dia akan memilih spec work atau untuk charity duluan dalam meluncurkan designya

    jadi gini, kita semua dihadapkan pada resiko dan efek yang ditimbulkan oleh segala keputusan yang diambil
    mungkin alasan besar tetap setia dan pro pada spec work contest adalah karena spec work bisa merubah skill dan kehidupanya (sebagian besar di ekonominya),
    kemudian alasan kenapa buruk ikut spec work adalah karena tidak di “adil-kanya” hak hak designer untuk melukiskan idenya secara professional karena adanya batasan waktu dan terbukanya logo yang kita ikutkan kontes yang logo kita rawan ditiru dan mudah di bajak oleh orang lain, dan itu mungkin memang sebenarnya sangat menyakitkan untuk para designer…. ( ini mungkin alasan bagus untuk menjadi designer sejati )

    jadi , semua komentar saya pikir untuk menegaskan posisi nya guna memepertahankan jalanya
    baik itu spec worker atau kontra spec work,& sebenarnya semuanya benar, semua memiliki resiko dan porsi masing-masing,

    sedikit saran dari saya, bahwa bagus juga ikut kontes ataupun spec work, TAPIII harus dibarengi dengan bekal skill dan terus mengembangkan ilmunya, jangan melulu uang saja yang muncul di monitor anda hehehe
    kalo anda berilmu , uang pun datang sendiri , trust me ! it works

    dan jangan lupa cari penghasilan dari sumber yang terjamin dulu, baru spec work di buat sampingan , syukur” kalo bisa menambah skill…,

    KITA SEMUA SEKARANG HIDUP DI ZAMAN PENUH RESIKO DAN TANTANGAN

    πŸ˜€ salam sesama manusia

  91. Setuju ga setuju nih, pengalaman ikut kontes yg diluar biar bs nambah skill dan cari pengalaman plus modal buat ngebangun jasa sendiri dalam negri. Kadang portofolionya akan sangat berguna jika kita membuka layanan jasa desain walaupun dalam kontes tersebut tidak lolos.

    Maaf sebelumnya, kenapa yang di angkat kontes diluar? Padahal yg jadi masalah itu untuk kontes di dalam negri. Jika kontes diluar sudah jelas logo akan diperuntukan di sana dan akan menambah poin plus desainer ketika membuka jasa di dalam negri (seperti sertifikasi ijasah sarjana).

    Keep Support! Buat kemajuan desainer Indonesia dan pengembangan pola pikir klien desain.. πŸ™‚

  92. kasian juga yang amatir, buatnya begadang semaleman gak dibayar… :v
    spec work buat iseng-isengan sajalah…
    carinya yang pasti pasti..

    kalau mau buat portofolio yang bebas aja. gak usah nunggu specwork. :p
    specwork pesaingnya banyak (ribuan).. udah gitu pemainnya pro pula,,,
    setuju sama statementnya “tingkatkan kemampuan, lalu uang akan datang sendiri”

  93. mengenai Spec Work, saya setuju dengan pendapat mas.
    tapi kalau tidak mengikuti kontes desain, lalu penghasilan darimana? mau sampai kapan menunggu sampai pro dulu, sementara setiap hari perut minta diisi….
    yang saya harapkan , spec work pun ga apa2 tapi yang pesertanya sedikit, sehingga kemungkinan menangnya banyak :), apa ada website spec work yg pesertanya masih sedikit?
    klo ada, bagi2 dong.

  94. sama akang… setuju buanget lah… Spec work or apalah namanya, nyang jelas kehidupan membaik dengan menang rata rata 3 empat kali sebulan. plus bisa meningkatkan kemampuan tentang desain. Jadi menurut ane sih, yang gak suka itu biasanya para Desainer Bangsawan… yang borju… karena pernah kuliah dan masuk didunia kerja mereka. Situs semacam 99desain mendobrak itu semua. SIAPAPUN BISA JADI DESAINER ….!!!

  95. Menurut saya, ‘Spec Work’ di 99design, crowdspring, dan lainnya, sangat sangat berguna sebagai stimulan berpikir kreatif. Bagaimana mencari solusi dari brief yang dipaparkan oleh klien, bagaimana berpikir unik agar desain bersaing dengan kontestan lain (karena dalam satu kontes banyak sekali desain yang mirip2), juga bagaimana kita belajar melobi dan mem-‘brief’ balik klien.. Dan tentunya amsih banyak hal positif lainnya..

    Sebagai desainer freelance, saya tidak hanya fokus cari nafkah di kontes, tapi juga proyek lainnya, dan lebih banyak proyek di luar kontes. Tapi ‘spec work’ ini terus saya geluti untuk merangsang pemikiran kreatif..

  96. gak seburuk itu juga sih..
    pinter pinter milih kontes aja…
    kan bisa di report kalo ada yang nyomot dari stock..
    lumayan lah buat pemula macem gw latian.. dan bisa ngidupin anak istri dari ngontes…
    populiasi disaner makin kesini makin banyak biarlah spec work tetep ada, jadi kita tidak rebutan di lahan pekerjaan yang sedikit..
    untuk startup spec work juga membantu kok..
    masalah menang atau kalah, bukannya rezeki udah ada yang ngatur, tinggal usaha yang benar dan doa.

  97. Kemarin saya member crowdspring tapi katanya saya diban krn terkait dgn beberapa akun yang troublemaker apakah ban buat member Indonesia sudah mulai di laksanakan?

  98. Ok, menarik pembahasannya.. Saya akan berkomentar dari sisi saya sebagai pemain 99designs dan crowdspring dan kbetulan sebagian hasil “pialanya” diminta babe utk renov rumah. Akun sy di CS chocomilk silahkan cek kl agan kepo ketik chocomilk crowdspring di gugel.hha, bisa ketemuan jk agan domisili di jogja.
    Ok, langsung aj gan :
    – ” 99design dan crowdspring adalah solusi mendapatkan belasan juta rupiah scr instan dan cepat ”
    jawaban ane : emg benar, tapi pada saat yg sama agan sebenarnya sdg brtaruh dengan nikmat karunia “mood”, knapa? krn klo agan kalah “mood” itu bisa serta merta hilang dan emosi kdg g stabil..fase ini bisa ane katakan “bahaya”.
    – “menggeluti kedua situs ini mendekatkan kita dengan STRESS”
    jawaban ane : Betul, ane sampai hmpir setaun fakum gara2 bertanding berturut2 dan kalah baik scr wajar atopun g wajar, yg sering main paham apa itu “g wajar”, emosi ane g terkendali dan spt kehilangan kepercayaan diri.
    – “Bemain di 2 situs ini mengasah kreatifitas design kita”
    jawaban ane : benar, karena kita akan terus mengikuti perkembangan style design dari tahun ke tahun.

    Ok menginjak ke acara kesimpulan :
    Tips dari ane dgn harapan agan bisa menikmati bertanding di 99designs dan crowdspring
    1. Jangan jadikan 2 situs ini utk tumpuan penghasilan utama – super penting ini gan!!
    2. Bertandinglah seolah agan sdg bermain game online, jd klpun kalah g masalah.
    3. Berpikirlah oportunis jangan perfeksionis, biasanya yg uda pernah menang sekali berikutnya akan terjangkit virus perfeksionis, inget yg kita kerjakan itu masih untung2an.
    4. Pilihlah kontes yg halal gan, g mengandung judi, pornografi, pinjaman berbunga, etc.
    5. Selamat berjumpa di arena pertarungan 99designs dan crowdspring, I’m waiting for you gan!! hha

  99. Baca dari awal hingga akhir komentar sangat menarik sekali.
    Klo ane pribadi punya pendapat sendiri mengenai kontes desain ini (Spec Work). Buat ane mengikuti kontes desain ini merupakan waktu mengisi luang dan sukur-sukur dapat relasi atau client baru. Dibandingkan ane harus terima project dari client indonesia yang sesuai pengalaman ane pribadi mulai dari perusahaan besar hingga kalangan masyarakat yang baru memulai usahanya, mulai dari pembuatan logo, kartu nama, dll mayoritas mereka (90%) lebih tidak menghargai hasil karya desian yang kita buat. Dikasih harga standar desain mereka mengeluh, dikasih kelonggaran untuk menawar pun mereka menawar dengan sangat sadis (tidak wajar) malah sering ada yg minta gratis baik secara baik-baik hingga bermain curang.

    Jd kesimpulan ane, masih lebih baik ikut kontes desain dr pada menerima banyak project tp menjatuhkan mental ane pribadi dengan tawaran harga yg sadis yg lebih bisa dikatakan tidak menghargai. Namun bila mengikuti “kontes” sudah jelas bahwa itu merupakan sebuah kontes/ lomba, jd ane pribadi udah tau duluan soal resiko nya dan lebih minim sakit hatinya.

    Setuju sekali dengan pendapat dari agan @Chocomilk, jangan jadikan kontes desain sebagai sumber penghasilan utama, anggap aja kaya mengisi waktu luang dr pada kita bengong n nongkrong ga jelas.

    Jujur ane juga belum lama terjun di dunia kontes desain ini dan hingga saat ini ane merasa enjoy n minim sakit hati dengan kontes tersebut. Salah satu alasan ane terjun ke dunia kontes desain pun justru dikarenakan mayoritas project yg ane terima dari client ane yg selama ini orang indonesia sendiri tidak sama sekali menghargai hasil karya yg telah kita buat. Klo bahasa sundanya mah “dipoyok dilebok” yg artinya disepelekan tp karya ane tetep dipake. #curhat

    catatan : beberapa client besar dr indonesia yg pernah ane terima waktu dlu sebelum ane terjun ke dunia kontes desain adalah :
    – Beberapa perusahaan BUMN
    – Beberapa Hotel
    – Beberapa Bank Swasta
    (Banner, Stationery, Kartu Nama, Flyer, Brosur, dll)

    Rata-rata harga tidak lebih dari Rp. 100.000 itu pun dengan protest keras n tawar harga yg sadis. Berbanding jauh dengan sebuah kontes desain.

    Ane berharap sih ada sebuah Wadah untuk para desainner yang bener2 melindungi dan memberikan sebuah harga standar bagi para desainner Indonesia dan memberikan sebuah infomasi kepada seluruh masyarakat indonesia baik perusahaan, instansi, atau lainnya bahwa desain itu mahal πŸ˜€ dan memberikan pelanggaran bagi para desainner yg berani membanting harga tidak sesuai ketentuannya.

    Maaf malah jari curhat πŸ˜€

  100. salam bang…nemu artikel ini dan ini komentar yang paling saya suka….ga da kalimat lain yang pgn saya omongin..jawaban diatas saya ini sudah sangat mewakili apa yang ingin sy sampaikan ttg artikel ini

  101. Tinggalkan komentar Anda. dan jawaban nya saya bersyukur bisa mengikuti kontes design, karena saya awam dan bukan anak design tapi alhamdulilah saya sudah pernah menang walaupun kalahnya ratusan kali, tapi gak apalah toh itu cuman kerjaan sampingan yang pastinya saya hanya tukang hampelas patung kayu yang dibayar di bawah UMR tapi lumayan buat makan anak dan istri dan kontes design menurut saya sangat membantu untuk kalangan seperti kami.

  102. Saya hanya tidak setuju kalo desain itu di kontes-kan. Mungkin situs-situs atau perusahaan seperti 99designs, Crowdspring, dll tetap berdiri namun tidak mendirikan atau membuka kontes untuk desain ( saya masih belum mengetahui apa yang terbaik selain kontes ). Dan saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika sistem “kontes” masih berdiri. Mungkin kuota “desain” sudah penuh dan sangat jenuh. Entahlah…

    Mungkin istilah yang tepat bagi saya saat ini mengenai desain bukan lagi “Design is Mindset” ( Desain adalah pola pikir ) tapi “Design is meet the needs” ( Desain adalah pemenuhan kebutuhan ). Kebutuhan para desainer tentunya.

    CMIIW

  103. gw ga setuju banget, justru dari kontes gini gw dapat hidup sebulan 2 kali bisa menang sebulan gw bisa dapet $700, belum kalau contest holder ada repeat order dari 1 to 1 project, sekarang gw di 99 uda PLATINUM selama 9 bulan rajin sehari masukin 1 contest pasti ada yang menang….patuhi peraturan dan avaoid generic design sama kita berkompetisi yang fair. di 99 sesama desainer adalah juri jadi bisa report yang bertindak curang..desain adalah taste kontes desain temapat yang cocok mengasah kemampuan membuat konsep dalam waktu yang terbatas, bagi yang ngomong kurang setuju …belum pernah coba atau belum pernah menang jadi belum tau manfaatnya …

  104. kalo menurut saya kontes desain itu bagus karna kita berusaha untuk meningkatkan skill kita. walaupun saya belum pernah menang, tapi setidaknya dari kontes saya mulai belajar untuk mengetahui bagai mana desainer yang tepat sasaran…. dan untuk mengasah skill desain. semua ny brhak sih jadi desainer… tergantung kitanya apakah kitanya lunak / pantang menyerah, semua pada diri masing-masing. karna semua gk ada instans. dan satu hal siapa saja boleh beropini.

  105. @futuree: Silakan memilih pro atau kontra kontes desain. Ada sisi baik dan ada juga sisi buruknya. Artikel juga menyertakan referensi untuk kedua kubu. Silakan dibaca. Pilihan akhirnya terserah Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s