Mengenal Street Photography dengan Setia Nugraha

Kali ini, DesainDigital memiliki tamu yang sangat menarik, Setia Nugraha, fotografer dari Indonesia yang bermukim di Jerman. Setia Nugraha mendalami jenis fotografi yang sangat unik, Street Photography.

Wawancara

1. Hai Setia, selamat datang di DesainDigital. Silakan perkenalkan diri Anda pada para pembaca.

Hallo Jeprie, terima kasih atas interview-nya, ini merupakan suatu kehormatan bagi saya. Nama saya Setia Nugraha, kerap dipanggil Ujang (Oezank), sementara ini saya tinggal di kota Nuremberg (Nürnberg), Jerman. Profesi yang saya jalani sekarang sebagai freelance fotografer dan saya lagi menggeluti dunia blog dan desain.

setia-nugraha-street-art-2.jpg

2. Bisa dijelaskan apa itu Street Photography? Kapan dimulai? Siapa pelopornya?

Street Photography merupakan aliran dari fotografi, yg lebih mengutamakan subject (point of interest) di ruang publik (tempat umum). Ruang publik yang dimaksud di sini tidak terlepas dari “Jalanan” saja, tetapi dalam artian yg lebih luas, misalkan di cafe, mall, pasar, taman, dan sebagainya. Point of interest (subject) yg dimaksud di ruang publik tidak terlepas dari orang saja, melainkan hal-hal lain yg kerap berada di ruang publik, seperti peristiwa, benda-benda (element), cuaca, bayangan, dan sebagainya.

Street Photography bisa sebagai foto dokumentasi, foto seri, ataupun foto tunggal. Kalau berbicara sejarah, mungkin sulit kapan Street Photography di temukan, tetapi Street Photography mulai populer ketika kamera dengan film 35mm ditemukan (kira-kira pada tahun 1930-an), kamera yg kecil, ringan, cepat, dan mudah dibawa kemana-mana. Sejak itulah Street Photography mulai berkembang dan populer.

Salah satu fotografer yg mempunyai peranan penting dalam perkembangan Street Photography adalah Henri Cartier Bresson, seorang master of photographer dari Perancis. Beliau terkenal dengan karya-karya documentar-nya, liputan kehidupan nyata, foto-foto yg kental dengan decisive moment (Kejadian yg kebetulan) dan sebagainya.

3. Apa perbedaan Street Photography dengan fotografi umumnya?

Beberapa kriteria Street Photography:

  1. Foto di ruang publik (tempat umum)
  2. Keadaan/kejadian yang tidak dibuat-buat, melainkan spontanitas, tetapi bisa jadi kedaan yang di harapkan, ataupun keadaan/kejadian yang kebetulan (decisive moment).
  3. Tema yang dibahas merupakan kehidupan sehari-hari yang terjadi di ruang publik, apakah itu perilaku orang, lingkungan, keadaan, cuaca, dan lain sebagainya.
  4. Membuat rangkaian cerita dari aktifitas sehari-hari atau membuat cerita dengan memanfaatkan aktifitas sehari-hari, seperti foto seri, foto liputan (dokumentasi).
  5. Orang yang dipotret tidak ditampilkan sebagai seorang individu, melainkan sebagai tokoh anonim dari situasi “jalanan” secara umumnya.

setia-nugraha-street-art-8.jpg

4. Ada saran bagi mereka yang tertarik mendalami Street Photography?

  1. Menguasai teknik dasar fotografi, seperti teknis komposisi, angle, dan penguasaan alat.
  2. Perhatikan keadaan sekitarnya, hal-hal yang sering kita lewati/lakukan berulang-ulang akan menjadi menarik ketika kita mencoba melihat dengan berbagai sudut pandang.
  3. Interaksi sosial dengan lingkungan sekitar kita, perhatikan privasi orang lain. Untuk yg di luar negeri misalkan, pelajarin perilaku orang-orang di sekitar kita untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, beda negara beda budaya tentunya.
  4. Pelajari arah matahari,… ada kalanya pada jam-jam tertentu, bayangan yang dihasilkan akan menarik dan manfaatkan matahari juga, adakalanya flare yang dihasilkan akan memberikan efek yang lain.
  5. Photo hunting tidak hanya pada cuaca cerah, photo hunting di cuaca yang jelek akan menghasilkan foto yang berbeda (foto dengan mood yang berbeda).
  6. Pergilah hunting di saat suasana hati kita berbeda-beda.
  7. Sabar menunggu moment.
  8. Perhatikan element jalanan di sekitar kita, misalkan: papan iklan, bayangan, sepeda, arsitektur bangunan, dll.
  9. Mencobalah untuk bereksperimen dengan melanggar peraturan fotografi, misalkan foto-foto yang blur, foto dead centre, dll.

5. Anda saat ini tinggal di Jerman, bagaimanakan pengaruhnya terhadap perkembangan karya seni Anda?

Pengaruhnya sangat besar bagi karya seni saya. Jujur saja…. Nürnberg kota yang kecil, kira-kira penduduknya 500 ribu, landscape nya kurang begitu indah (kalau dibanding dengan indonesia), foto model mahal….. makanya saya tekuni Street Photography, karena itu yang paling murah dan tidak repot. Didukung kultur orang Jerman yang cenderung cuek dan keamanannya bagus, sehingga saya bisa leluasa bergerak membawa kamera saya kemana-mana untuk berkarya. Banyak orang bertanya kepada saya, kenapa foto-foto saya menampilkan suasana kelam, sedih, sendiri, frustasi, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini sering saya lihat dan saya rasakan selama saya tinggal di jerman,…. Orang-orang di sini cenderung sendiri,… karena pengaruh cuaca yg kurang matahari, mereka lebih sering terlihat “bete”, dan saya sebagai orang asing, kadang-kadang merasa terasing disini ……. Oleh karena itulah saya menyajikannya dalam hitam putih, untuk memberikan “jiwa” kepada foto-foto saya.

setia-nugraha-street-art-3.jpg

6. Apakah Anda aktif di komunitas art di Jerman? Bisa dijelaskan bagaimana kondisinya?

Saya aktif di komunitas art di Zentrifuge, Nürnberg, dan saya bergabung di Jetztkunst. Zentrifuge adalah satu komunitas seni dan budaya di wilayah Metropol Nürnberg yang memberikan jaringan dan mempromosikan seniman, budayawan, ataupun orang-orang yang tertarik dengan seni dan budaya. Sedangkan Jetztkunst merupakan kumpulan seniman yang keanggotaannnya diseleksi terlebih dahulu. Di Jerman sendiri banyak komunitas art, tapi rata-rata untuk menjadi anggotanya rada sulit, karena mereka rata-rata melihat hasil karya seni kita dan juga background kita.

7. Saya sangat tertarik dengan Project 290 Metres & 3 Minutes. Idenya menurut saya sangat unik, melihat rutinitas dari sudut pandang berbeda. Bisa dijelaskan tentang konsep projek ini dan hasil yang Anda peroleh?

Awal mulanya ketika saya membaca buku tentang fotografi sebagai seni kontemporer, ada satu bab yang menjelaskan, kalau seniman banyak mengambil konsep dari bagian hidupnya. Dari situ saya berpikir, “Hmm… saya tau hidup yang saya jalanin sementara ini sangat monoton, untuk pergi ke tempat kerja saja saya membutuhkan waktu 3 menit dan 290 meter (kata google maps), kenapa tidak saya jadikan saja sebagai konsep. Toh ini juga merupakan dari bagian hidup saya.” Ini tantangan yang baru bagi saya, untuk melihat rutinitas dari sudut yang pandang berbeda. Rencananya projek ini berlangsung kurang lebih setahun, dengan 4 musim yang berbeda. Untuk projek ini saya menampilkannya dalam foto berwarna karena ingin menampilkan realita yang sesungguhnya.

Hasil yang saya peroleh. Tenyata hal-hal menarik ada disekitar kita, asal kita mau mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Dan yang pasti ini tantangan baru buat saya, agar saya bisa berkarya dimana saja. 😉

Dari sisi lain, banyak ide yang muncul, misalkan saya nanti akan membuat foto seri dari beberapa hal yang paling menarik, misalkan garasi warna warni. Saya akan mencoba membuat foto seri dari garasi ini, karena setelah saya lalui tiap hari, banyak hal-hal menarik dan kadang-kadang ada di luar dugaan.

Karya-karya Setia Nugraha

Street Photography

Fine Art

Projek 290 metres and 3 minutes

Anda bisa menemukan Setia Nugraha di:

Terima kasih pada Setia Nugraha yang telah meluangkan waktu berbagi dengan komunitas DesainDigital.

Iklan

32 thoughts on “Mengenal Street Photography dengan Setia Nugraha

  1. Saya suka dengan foto-fotonya, terutama yang monokrom dengan obyek manusia. 🙂

    Mungkin untuk tipsnya bisa saya praktekkan, tinggal kualitas kamera saja masih menjadi kendala, hehe ujung-ujungnya olah digital masih jadi andalan nantinya… ;P

  2. Saya juga baru dengar istilah street fotografi. Kalau saya amati foto-foto Setia Nugraha ini memang banyak yang mengandung momen atau suasana unik. Fotonya kelihatan berkarakter, angel-angelnya juga bagus. Bagus bukan karena kebetulan tapi karena memang dicari dari banyak sudut dan pemilihan obyek dengan timing obyek yang tepat pula. Saya bisa menangkap sepertinya ada pesan yang ingin disampaikan dalam setiap foto-fotonya.

  3. Mas Ardianzzz, jangan menyalahkan kualitas kamera. Katanya inti fotografi itu pengaturan cahaya. Bahkan ada jenis fotografi menarik, lomografi, yang menggunakan kamera murah sekali pakai. Warna-warnanya pudar, buram, tapi hasilnya menarik.

    Coba saja dulu dengan kamera yang ada.

  4. Projek barunya, 290 m & 3′, itu menurut saya yang paling unik. Memotret daerah yang sama setiap hari selama setahun. Perlu banyak ide untuk menghasilkan foto kreatif.

  5. Haha, sebenarnya bukan menyalahkan kamera. Contoh kasus sederhana, kita ingin memotret di sore hari. Kita menginginkan gambar yang tajam. Untuk itu perlu ISO tinggi. Nah masalahnya pada kamera digital yang “murah” tidak akan menghasilkan gambar bagus pada ISO yang terlalu tinggi.

    Kamera “murah” tidak berarti kualitas foto menjadi jelek. Hanya saja fitur-fitur yang ada membuat kreatifitas serasa menjadi mentok.

  6. @ardianzzz: Kadang-kadang kamera murah juga fiturnya macam-macam. Tapi tetap saja kualitasnya jelek.

    Kamera saya –yang murahan– juga punya ISO tinggi, tapi tetap saja hasilnya jelek.

  7. Lagi-lagi harga bicara untuk mendapatkan hasil yang berkualitas dan contoh foto di atas hanya membuat iri bagi kami yang memiliki kamera standar.. 😦

    Cari objek lain ah..

  8. Saya mencoba ikut berdiskusi soal alat 🙂
    Kalo berbicara mengenai alat tidak akan ada habisnya, alat hanya merupakan media saja. Alat yang kita punya hendaknya di kuasai dulu dan di manfaatkan semaksimal mungkin.
    Contoh gampangnya: untuk para jurnalis olahraga balap motor, mereka membutuhkan alat yang super cepat, agar tidak kehilangan moment.

    Alat yang saya gunakan pada foto2 diatas kebanyakan memakai Canon 300D + Lensa Kit 18-55 EFS (Kamera standard kan :D) .. bahkan ketika saya mulai belajar memakai canon powershot A70, dan kadang-kadang memakai kamera HP.

    Contoh foto pake HP Nokia N73 dan sudah ada yg beli http://oezank.fotografer.net/lihat.php?id=462548

    contoh lainnya pake HP Nokia N73
    http://oezank.fotografer.net/lihat.php?id=588603
    http://oezank.fotografer.net/lihat.php?id=590280

    Alat hanya merupakan bagian kecil dari photography, masih banyak hal lainnya yang harus kita kuasai, misalkan: komposisi (komposisi saja banyak macamnya), angle, exposure, teknik Zoom, pemahaman konsep, mood …. dan masih banyak lainnya,….

    Ada kalanya keterbatasan alat harus kita manfaatkan, misal ISO tinggi menyebabkan Grain/Noise, …. mungkin kita tau kalau di jaman film Black and white dulu, grain di manfaatkan untuk menghasilkan karya yg kearah art,…. mungkin dijaman digital sendiri kita bisa manfaatkan itu juga. kenapa gak …. tapi yah itu tadi tergantung kepada jenis photo yg kita ambil jg. Kalau foto nikahan yang tidak dianjurkan untuk noise tinggi.

    Hal yg penting sekali untuk menghasilkan foto yg bagus adalah…. Latihan… latihan… latihan… dan latihan ….. sampai suatu saat nanti, di kepala dan mata akan seperti kamera, kalau melihat sesuatu sudah ada Frame yg terbentuk di kepala kita 😉 … dan mata seperti view finder tentunya

    Jadi semangat terus….. gak usah minder dengan alat……
    gali kreatifitas terus…….

    sekedar sharing:
    Gallery foto saya di Fotografer.Net
    http://oezank.fotografer.net/galeri.php
    Untuk tahun 2005, 2006 dan bbrp foto di tahun 2007 saya kebanyakan memakai canon eos 300d + lensa kit 18-55 EFS

  9. Wah penjelasan kak Setia Nugraha ttg alat fotografi bijak sekali…mantab! 😀
    beruntung bgt bisa baca tulisan ini…(makasih bgt mas jeprie…dah wawancara street photografer hebat ini). pas bgt, saya memang mengagumi & sedang belajar street photography…
    wah…jd tambah semangat nih.. 🙂

  10. wah ini genre favorit saya, fotografi nan demokratis, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, dan dengan jenis kamera apa saja. Setuju dengan tips & saran untuk mendalami street photography diatas, membantu saya dalam menekuni fotografi ini.
    Saya juga pernah membahas fotografi jalanan dan ruang publik di artikel blog yang saya tulis sbb :
    http://ardikapercha.com/blog/berkenalan-dengan-street-photography/

    thanks for sharing this ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s