Wawancara dengan Richard Fang dari Jurus Grafis

Kali ini, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Richard Fang. Saya yakin sebagian dari Anda sudah mengenalnya dari situs Jurus Grafis. Di sini, saya bertanya beberapa hal terkait keahlian Richard, desain web.
[hr]

Wawancara

Hai Richard, sebelum mulai silakan perkenalkan diri Anda pada pembaca DesainDigital.

Halo, nama saya Richard Fang. Saat ini saya menggeluti bidang web desain, terutama web interface. Sedang menjalani hidup sebagai freelancer dan menggunakan waktu luang saya untuk menulis di blog personal, richardfang.com dan Jurus Grafis.

Bisa berbagi dengan kami bagaimana Anda memulai karir freelance sebagai seorang desainer web?

Saya mempunyai ketertarikan terhadap dunia web (multimedia) pada saat kuliah dulu, tetapi karena kurangnya “asupan” yang diberikan oleh universitas, saya sempat mengganggap web itu tidak terlalu penting, belum lagi pada saat itu juga internet belum se-mainstream seperti sekarang. Akhirnya saya berkarir sebagai graphic designer (khusus print) selama 2,5 tahun di Thinking Room.

Hingga suatu hari saya ditawari projek web desain, yaitu mendesain sebuah website komunitas musik (mungkin bisa di bilang start-up), sayangnya start-up tersebut gagal bertahan. Tapi saya sudah terlanjur menyukai dan mendalami web desain. Saya merasa menemukan bidang yang paling pas dalam karir saya.

Sejak itu saya mencoba kemampuan di 99designs. Akhirnya mulai mendapatkan klien tetap dari sana, jadi saya tidak perlu mengikuti kompetisi lagi. Di situlah titik saya merasa menjadi freelancer sampai sekarang.

Wawancara dengan Richard Fang

Setahu saya, Anda tidak bergulat di coding tapi lebih fokus pada desain mockup di Photoshop. Sebaliknya, masih ada desainer web yang mengabaikan Photoshop sama sekali. Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya keduanya sangat penting. Saya mempunyai analogi seperti ini, website = pesulap.

Pertama, tentu teknik pesulap tersebut harus bagus dan tidak terpikirkan oleh penonton. Bagian ini bisa di bilang back end, coding dan hal lainnya yang tidak terlihat oleh user. Dan saya yakin 90% user tidak peduli dengan seberapa rumit kode yang di buat. Yang penting kalau mereka klik suatu tombol maka harus keluar apa yang dijanjikan oleh tombol tersebut.

Kedua, penampilan pesulap itu sendiri. Mulai dari gaya bicara, gaya berpakaian, attitude, atau bahkan sang asisten yang seksi. Nah, itu adalah sisi desain dari website (layout, tipografi, interface, arsitektur informasi dll). Bagian inilah yang memberikan experience kepada user.

Jadi kedua bagian itu harus saling mendukung, kita tidak bisa menitik beratkan pada salah satunya saja.

Sebagai tambahan, sekarang ini copywriting dan konten juga menjadi hal yang krusial. Karena ini adalah jiwa dari website tersebut. Percuma desain dan teknik kode yang bagus tetapi konten dan “cara berbicara” nya tidak bagus. Pada akhirnya kontenlah yang di cari oleh user.

Untuk menghasilkan desain mockup yang bisa diubah ke format HTML, aspek apa saja yang diperlukan?

Yang pasti pembagian layer harus jelas. Layer mana yg bisa di satukan dan mana yang tidak. Sebagai contoh, saya biasa memisahkan tombol dalam 2 folder. 1 folder normal, 1 folder hover. Ini akan memudahkan proses slicing nantinya, dan tentu saja hasilnya akan sama seperti yang kita desain dan rencanakan.

Lalu yang tidak kalah penting adalah penamaan layer. Selain untuk dokumentasi pribadi, ini akan memudahkan kalau ada bagian yang ingin di ganti san memudahkan sang coder yang akan meng-kode desain kita tersebut.

Ketika mendesain mockup di Photoshop, kita bebas melakukan apa pun. Masalahnya, belum tentu desain itu bisa dieksekusi oleh programmer dengan baik. Bagaimana mencegah ini terjadi?

Sebelum mendesain kita harus memikirkan kira-kira teknik / fungsi apa yang akan ada di website kita. Dari sana biasanya kita bisa mendiskusikan dulu dengan coder. Kalau perlu kita mencari referensi dari website lain. Teknik kode sekarang sudah sangat maju, menurut saya hampir semua yang kita bayangkan itu memungkinkan untuk dikode.

Faktor lain adalah platform yang akan kita gunakan nanti, wordpress, joomla atau expression engine? Karena terkadang platform bisa memberikan batasan juga, jadi sebaiknya kita melakukan riset dulu.

Berusahalah memahami cara pikir programmer/coder, percayalah itu tidak akan membatasi kreatifitas, malah membuat kita menjadi semakin kreatif.

Wawancara dengan Richard Fang

Kira-kira tipe desain web seperti apa yang akan trend tahun ini? Silakan beri juga contohnya jika ada.

Kalau tahun ini, minimalist dan agak sedikit grunge masih akan menjadi trend. Tapi kalau saya perhatikan, desain-desain yang bergaya seperti print (tidak menggunakan layout yang standar) juga mulai mendapat perhatian.

Selain itu, detail-detail kecil mulai menjadi perhatian, seperti tekstur yang sangat soft, garis 1 pixel, status hover dan lainnya. Untuk contohnya mungkin bisa berkunjung ke dribbble.

Menurut Anda, apa saja wow factor yang bisa membuat desain sebuah terlihat unik dan khas?

  1. Visual. Siapa yang tidak suka dengan visual yang bagus? 🙂 Semua pasti suka dan kalau hasilnya unik pasti menjadi faktor wow tersendiri.
  2. Konten yang tidak bisa / jarang di temukan di website lain. Faktor wow yang ini memang tidak seheboh wow secara visual, tetapi akan lebih membekas di otak kita.
  3. Tipografi. Kenyamanan membaca adalah hal yang kita cari kalau sedang melihat website.

Sebutkan beberapa situs favorit Anda!

  1. Unmatchedstyle
  2. FWA
  3. HootSuite (favorit saya sejak mereka pertama kali release :D)
  4. UX Booth
  5. UsabilityPost

Terakhir, ada saran bagi para desainer web atau yang ingin memulai karir sebagai desainer web?

Selalu perhatikan trend (desain dan code), pelajari dan buat sesuatu yang lain dari trend itu. Atau buat sesuatu yang mengikuti trend namun lebih bagus 100 kali. Dan jangan lupa untuk melakukan personal branding di dunia maya.
[hr]

Portfolio

Anda bisa menemukan Richard Fang di situs berikut:

[hr]
Terima kasih pada Richard Fang yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi di sini. Semoga wawancara ini bermanfaat bagi kita semua.

Iklan

34 thoughts on “Wawancara dengan Richard Fang dari Jurus Grafis

  1. Setelah baca artikel ini, saya tertarik mengaplikasikan metode ini sebagai alternatif mengorek info seperti mas Jeprie lakukan. Karena saya yakin, referensi dari diri sendiri bisa nggak obyektif dan terbatas pada info tertentu.

  2. Betul sekali. Dari obrolan ini, saya belajar beberapa hal baru Misalnya memisahkan tombol hover dalam group layer baru, ini belum terpikirkan padahal sederhana.

  3. Ya, betul sekali. Perkembangan industri web sangat pesat.

    Sekadar ilustrasi. Semua video tutorial desain web yang saya simpan waktu kuliah ternyata sudah tidak berguna lagi. Beda dengan materi Photoshop yang masih berguna hingga sekarang. Waktu saya kuliah, diperkirakan Flash adalah The Next Big Thing. Potensinya diyakini luar biasa. Ternyata sekarang Flash malah dihindari.

    Mungkin itu sebabnya industri desain web banyak didominasi kalangan pemuda. Desainer-desainer tua sudah tidak sanggup lagi mengikuti trend.

  4. Ya, perkembangannya sekarang justru mengarah pada webstandard, social media dan semantik. Usabilitas tidak hanya bagi manusia tetapi juga mesin. Siap-siap menyambut era web 3.0 🙂 [oot]

  5. Terlepas dari apa maksudnya Web 3.0, perkembangan web akan selalu menarik diikuti. Semacam kasus Flash. Sebelumnya tidak ada yang menyangka akan terjadi seperti ini, kecuali Jakob Nielsen.

  6. setuju sama perumpamaan-nya : website = pesulap. Back end sama front end sama pentingnya. beberapa coba menggarap keduanya dan tidak mencapai hasil maksimal karena tidak fokus. Two thumbs buat bg Jeprie dan Richard Fang! Wawancara yg memberi saya banyak wawasan baru! 🙂

  7. Terima kasih. Ada orang-orang tertentu yang multi-talenta, menguasai banyak hal, istilahnya jack of all trader. Ada juga yang memang spesialis.

    Tinggal kita memilih tipe mana yang lebih disukai dan lebih menguntungkan. Dalam pertimbangan saya, belajar coding butuh waktu, sehingga lebih baik fokus ke Photoshop dan Illustrasi.

  8. mantaab om richard ^_^

    setuju >> Percuma desain dan teknik kode yang bagus tetapi konten dan “cara berbicara” nya tidak bagus. Pada akhirnya kontenlah yang di cari oleh user.

    setuju jg om >> Dan saya yakin 90% user tidak peduli dengan seberapa rumit kode yang di buat. Yang penting kalau mereka klik suatu tombol maka harus keluar apa yang dijanjikan oleh tombol tersebut.

  9. Wawancara yang sangat inspiratif. Daftar pertanyaan yang diajukan juga berbobot. Ini masukan berharga buat saya yang tertarik dengan dunia web-design, terutama dari sisi codingnya. Banyak hal yang belum saya ketahui di bidang web-design.

    Ricard Fang adalah salah satu aset bangsa Indonesia yang sangat sukses dan patut untuk jadi teladan. Blognya (jurusgrafis) merupakan salah satu blog dengan desain interface yang paling unik dan menawan bagi saya.

  10. Saya jadi teringat dengan desain-desain flash full animation yang marak di tahun 2000-an. Pertama kali lihat memang desainnya sangat menarik, tapi hanya saat itu saja. Kita tidak punya niat untuk berkunjung rutin karena bisa dibilang tidak ada isinya.

    Sudut pandang memang tidak melihat proses tapi hasil. Desain yang baik itu haruslah berorientasi pada fungsi bukan skadar estetika.

  11. lama gak oprek blog lagi, malem ini jalan jalan ksini 😀
    keren!

    sudah saatnya yang muda menggantikan yang tua 🙂
    sudah saatnya para pemuda Indonesia, membangun diri.

    Salam hangat,

    dr.emi

  12. hehehehe…
    makin tua, makin bernyali, mbuhahahahahaha….

    tentunya bukan berarti lebih tua lebih senior / sejenisnya 🙂

    justru itulah penyemangat bwat smua, terutama saya yang sudah tidak memiliki kesempatan yang banyak lagi seperti dulu

    omong omong design yang lagi trend. boleh tau, mas jepri ini punya layanan jasa design apa saja selain web design? sapa tau kita bisa jadi partner 😀

    Just PM me, SUKSES!!

  13. Seperti ditulis di profil, kerja harian saya nulis buku, ngeblog, sama desain mockup PSD.

    Mudah-mudahan ada kesempatan untuk buat sesuatu yang menarik bareng-bareng.

  14. terima kasih buat bang admin.
    setelah saya membaca wawancara dengan Richard fang, saya jadi lebih terterik lagi dengan web design dan saat ini saya sedang fokus teerhadap dunia web ini,meskipun materi ini ga saya dapat dari kuliah saya ini..tapi saya akan terus belajar dalam dunia design yang semakin lama semakin mencintainya…
    salam sukses….

  15. terima kasih buat bang admin.
    setelah saya membaca wawancara dengan Richard fang, saya jadi termotivasi untuk menjadi seorang web design dan saat ini saya sedang fokus teerhadap dunia web ini,meskipun materi ini ga saya dapat dari kuliah saya ini..tapi saya akan terus belajar dalam dunia design yang semakin lama semakin mencintainya…
    salam sukses….

  16. Kalo untuk urusan web interface design, Richard sih jagoannya. Saya sudah membuktikannya 🙂 I’m not a designer and not a coder, I’m just a marketer. Jarang sekali ada web interface yang mau berpikir apakah codernya bisa eksekusi atau tidak, tapi designnya tetep keren. This is really an inspiring interview. Thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s